
WALAU tren pertambahan harian kasus Covid-19 di Indonesia turun dalam 30 hari terakhir ini setelah mencapai puncaknya pada 15 Juli dengan 56.757 kasus, angka kematian pada periode sama masih tinggi.
Penyebaran harian Covid-19 (14/8) tercatat 28.698 kasus, sementara angka kematian pada hari yang sama 1.270 orang atau yang tertinggi di dunia, disusul Brazil (975), Rusia (815), Meksiko (727) lalu AS (620).
Selama 30 hari berturut-turut (15/7 – 14/8),  jumlah kasus kematian rata-rata harian akibat Covid-19 di Indonesia mencapai lebih dari 1.000 jiwa, yang teringgi pada 27 Juli  (2.069 jiwa).
Sejak 15 Juli sampai 14 Agustus 2021, kasus kematian yang dilaporkan pemerintah yaitu 46.174 jiwa sehingga total kematian sejak awal Covid-19 terdeteksi di Indonesia pada 2 Maret 2020 sebanyak 116.366 jiwa.
Mantan Direktur Penyakit Menular Badan Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Chandra Yoga Aditama menyebutkan, tingkat kematian akibat Covid-19 di sini (416 per sejuta penduduk) , lebih tinggi dari India (308 per sejuta penduduk).
“Saat rata-rata angka kematian di India sedang tinggi-tingginya (sekitar 5.000 orang pe hari), di Indonesia 2.000 orang per hari, atau jika dikalikan empat (jumlah penduduk RI dan India 1 : 4), seharusnya 8.000 orang, “ tutrnya.
Persoalan di Hulu dan Hilir
Sementara epidemiolog John Griffith University Australia, Dikcy Budiman mengemukakan, tingginya angka kematian akibat Covid-19 merupakan cerminan adanya persoalan dalam penanganannya, baik di hulu maupun di hilir.
Di hulu, risiko kematian naik seiring dengan kegagalan tes dan pelacakan yang menyebabkan lonjakan  kasus, ditambah lagi  lemahnya pengawasan pada orang yang menjalani isolasi mandiri sehingga telat  dibawa ke RS.
Sedangkan di level hilir, ada persoalan saat perawatan, termasuk keterbatasan obat-obatan, juga kelangkaan oksigen seperti yang pernah terjadi secara masif beberapa waktu lalu akibat panic buying dan juga ulah spekulan.
“Risiko kematian akan melonjak jika pasokan oksigen terlambat, “ ujarnya.
Menurut catatan, di RSU dr Sardjito, DIY Yogyakarta, 63 pasien Covid-19 meninggal antara Sabtu (2/7) hingga Minggu pagi (3/7) diduga kuat akibat kehabisan oksigen walau hal itu dibantah pihak RS.
Sampai 14 Agustus tercatat total penyebaran Covid-19 di Indonesia  sebanyak 3.833.541 kasus setelah terjadi penambahan 28.598 kasus.
Sementara angka kesembuhan pasien Covid-19 cukup menggembirkan , mencapai rata-rata di atas 95 persen, pada 14 Agustus tercatat  penambahan 31.880 orang menjadi total 3.321.598 orang.
Sbaliknya, positivity rate (perbandingan antara orang yang terpapar dan  jumlah yang dites) di Indonesia yakni 22,62 persen masih jauh di atas tingkat ideal maksimum lima persen yang ditetapkan WH0.
Yang melegakan, keterisian tempat tidur (BOR) RS yang rata-rata sudah di bawah 80 persen, bahkan di  RS Darurat Covid-19 di bekas Wisma Atlit, Jakarta di bawah 40 persen, begitu pula  keterisian Unit Rawat Intensif (ICU) yang sudah turun, walau di sejumlah tempat ada yang masih 70 persen.
Angka-angka tersebut masih berfluktuasi, sehingga penurunan yang terjadi, sewaktu-waktu bisa bakal melonjak lagi, memunculkan gelombang serangan berikutnya.
Tetap patuhi prokes, waspada dan waspada lah!




