
COVID-19 yang menjadi pandemi global, sampai 18 Agustus 2021 sudah menewaskan lebih 4,39 juta warga dunia dan memapar hampir 210 juta orang, suatu saat diprediksi bisa berubah menjadi endemi atau penyakit biasa yang menjadi wabah di wilayah terbatas.
Pandangan itu dilontarkan Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Adi Sasmito mengutip hasil survei yang dilakukan oleh grup ilmiawan jurnal ilmiah Nature terdiri dari 100Â virolog, imunolog global dan ahli penyakit menular baru-baru ini.
Suatu jenis peyakit disebut menjadi pandemi jika mewabah secara konstan atau tetap tetapi terbatas pada wilayah terentu sehingga laju penyebarannya dapat dipredikisi.
Di Indonesia, sejumlah penyakit yang sudah menjadi endemik dan selalu ada di tengah masyarakat antara lain TBC, filiariasis, leptospirosis, malaria, hepatitis dan kusta.
Para peneliti lintas disiplin ilmu tersebut, menurut Wiku meyakini, Covid-19 yang semula ditularkan oleh virus corona (SARS-CoV-2) dan kini sudah bermutasi menjadi sejumlah  varian (a.l. B117,B351, B617 delta) akan berubah menjadi endemi.
“Delapan puluh sembilan persen di antara mereka sepakat Covid-19 akan tetap hidup bersama dengan kita sebagai endemi atau artinya,  virus tidak akan lenyap sepenuhnya, “ kata Wiku dalam konferensi pers daring (17/8) lalu.
Menurut catatan, dunia mengalami pandemi influenza atau flu Spanyol pada 1918Â mengakibatkan sekitar 50 juta orang tewas, terbanyak di daratan Eropa dan memapar 50 juta warga dunia, Â lalu kini flu menjadi penyakit musiman biasa yang muncul di mana-mana, bisa diobati dengan obat-obat yang dibeli di warung atau sembuh sendiri tanpa diobati.
Bedanya, vaksin influenza baru ditemukan sekitar 30 tahun kemudian sejak awal berjangkit (1918), sementara berkat kemajuan teknologi, vaksin Covid-19 ditemukan sekitar selang setahun setelah awal penyebarannya (dari Wuhan, medio Desember, 2019).
Sejauh ini sekitar 10 jenis vaksin seperti Sinovac, Sinopharm, Novavac (ketiganya buatan China), Pfizer-BioNTech, AstraZeneca-Oxford University, Johnson & Johnson dan Moderna sudah ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk digunakan secara darurat (EUA).
Kekebalan Naik Â
Ke depannya, lanjut Wiku, kekebalan warga dunia termasuk Indonesia terhadap virus SARS-CoV-2 akan meningkat seiring dengan program vaksinasi massal sehingga membentuk kekebalan komunitas (herd Immunity).
Pemerintah pun menyiapkan langkah-langkah untuk membentuk ketahanan kesehatan publik dalam jangka panjang, mulai dari pengendalian kegiatan masyarakat (PSBB, PPKM), pemberlakuan prokes (3M), vaksinasi agar terbentuk herd immunity, meningkatkan pemerataan kapasitas sarana dan prasarana kesehatan serta program 3T (Testing, Tracing dan Treatment).
Sementara pengendalian penyebaran varian virus yang terus berkembang dengan pembaruan teknologi guna menekan  efek varian virus, baik terhadap upaya pengobatan diagnostik maupun pelayanan, menurut Wiku, perlu dilakukan.
Sedangkan Wakil Ketua Asosiasi Dinas Kesehatan Nurhandini Eka Dewi menyatakan, perubahan status Covid-19 dari pandemi menjadi endemi belum dapat dipastikan sepenuhnya.
Menurut Eka, salah satu indikator untuk melihat pandemi berubah menjadi endemi yakni melalui perkembangan penyebaran kasus Covid-19 di negara-negara lain.
“Kita harus melihat angka kemunculan kasus di negara-negara lain yang akan menjadi patokan,” kata dia.
Perilaku virus penyebab Covid-19 bisa terus berubah, yang penting terus patuhi prokes 3M, tingkatkan vaksinasi dan program 3T. (Kompas.com/ns)




