
FUMIO Kishida terpilih dalam dua putaran pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat Liberal Jepang (LDP) 29 Sept. lalu sehingga memuluskan jalan baginya untuk mengisi jabatan perdana menteri, menggantikan PM Yoshihide Shuga yang mengundurkan diri awal Sept. lalu.
Berkat dukungan luas dari para elite partai dan dan anggota pelemen Fraksi LDP, Kishida mengalahkan tiga calon lain yakni Taro Kono, Sanae Takaichi dan juga Seiko Noda, melenggang menjadi orang nomor satu di Jepang.
Pada putaran kedua, Kishida yang dinilai sebagai sosok yang moderat mampu berhasil menyingkirkan calon lainnya, seorang reformis, Taro Kano yang memperoleh dukungan dari sebagian besar pengurus LDP.
Mengingat LDP saat ini menguasai Majelis Rendah (Shugiin) dan Majelis Tinggi (Sangiin) Jepang, maka Kishida otomatis ditetapkan oleh rapat paripurna parlemen pada Senin (4/10) sebagai perdana menteri menggantikan Yoshihide Shuga.
PM Shuga yang menjabat sejak 16 Sept. 2020 mengumumkan pengundurkan dirinya pada 3 September lalu di tengah elektabilitasnya yang turun terkait kritikan terhadap penanganan Covid-19 dan dampaknya bagi perekonomian Jepang.
Dalam jangka pendek, Kishida harus memastikan keunggulan LDP dalam perolehan suara pemilu Majelis Rendah Jepang yang akan digelar pada November tahun ini dan Pemilu Majelis Tinggi paling lambat Juli 2022.
Terkait kebijakan luar negeri, konteksnya sekarang adalah semakin memanasnya tensi geopolitik sehubungan dengan sikap proaktif, kehadiran dan klaim China di wilayah Laut China Selatan (LCS).
China sejauh ini mengklaim sebagaian wilayah di LCS yang termasuk “Nine Dash Line” atau sembilan garis putus-putus dan juga sampai perairan Natuna yang disebutnya sebagai area penangkapan ikan tradisonal (traditional fishing ground) walau klaim ini ditolak PBB.
Jepang sejauh ini juga dianggap sebagai mitra utama AS menjadi garda terdepan di Asia Timur menghadapi ancaman China dan Korea Utara.
Dari sisi militer, Jepang bukan “kaleng-kaleng” walau namanya Pasukan Bela Diri (ASDF), jauh lebih kecil dibanding China, alutsista yang dimilikinya, baik produk lokal maupun pasokan sekutunya, AS, tergolong canggih.
Anggaran militer Jepang, menurut Global Firepower, ke-6 tertingi di dunia: 51,5 miliar dollar AS (sekitar Rp721 triliun), sementara China 178,2 miliar dollar AS (sekitar Rp2,5 quadriliun) atau ranking ke-2 setelah AS 740,5 miliar dollar (sekitar 10,4 quadriliun).
Selain riak-riak kecil di dalam negeri, sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia yang tergabung dalam G-7 dan kemitraan yang kokoh dengan AS di kawasan Asia, Jepang di bawah Kishida nanti agaknya masih sangat diperhitungkan oleh lawan dan kawan.
Irasshaimase, selamat Datang Kishida san!




