
CHINA terus menunjukkan taring pada Taiwan yang diklaim sebagai wilayahnya dengan berulang-ulang mengirimkn pesawat tempur di zona pertahanan udara lawan dan kapal-kapal perangnya melintasi Selat Taiwan.
Kabar teranyar dilaporkan Reuters mengutip Kementerian Pertahanan Taiwan, 39 pesawat tempur AU China terdiri dari Sukhoi SU-30 buatan Rusia dan jiplakannya J-16 Shenyang dilaporkan menyusup zona pertahanan udara negaranya, Sabtu (2/10).
Jet-jet tempur Taiwan langsung mengudara untuk mengingatkan ke-39 pesawat China tersebut, sementara system pertahanan udara juga disiapkan untuk mencegah kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.
Gelombang pertama pesawat AU China tersebut, lanjut Kemenhan Taiwan, terdiri dari 20 pesawat melakukan fly pass pada siang hari, dilanjutkan dengan formasi 19 pesawat malam harinya yang melintas dekat Kepulauan Pratas di wilayah Laut Tiongkok Selatan yang dikuasai Taiwan.
Sehari sebelumnya bertepatan dengan HUT PRC (2/10), 25 unit pesawat China termasuk sejumlah pembom yang mampu mengangkut senjata nuklir (Xian H-6 jiplakan Tupolev TU-16 eks-Uni Soviet -red.) juga dilaporkan menerobos zona pertahanan udara Taiwan.
Sementara AL Kerajaan Inggeris seolah-olah menantang klaim China atas Laut China Sletan (LCS) pekan lalu (27/9) mengirimkan kapal perang jenis fregat HMS Richmond miliknya melintasi Selat Taiwan dalam pelayaran misi muhibah ke Vietnam.
Selain melakukan provokasi dengan melintasi zona pertahanan udara Taiwan, China juga sering sesumbar untuk merebut kembali Taiwan yang memisahkan diri setelah kaum nasionalis pimpinan Chiang Kai Sek dikalahkan dan tersingkir ke pulau tersebut.
Bagai Bumi dan Langit
Dari sisi militer, Taiwan tidak ada apa-apanya dihadapkan langsung melawan raksasa China dengan tiga juta tentara dan dan senjata pemusnah massalnya, namun di belakang Taiwan, masih ada AS dan kekuatan NATO yang pasti tak bakal berpangku tangan jika Taiwan diserang.
Berdasarkan Global Firepower, kekuatan militer China dan Taiwan bagi langit dan bumi. China bertengger pada ranking ke-3 setelah Amerika Serikat dan Rusia, sementara Taiwan pada posisi ke -22.
AB China dengan anggaran belanja militer 224 milyar dollar (sekitar Rp3. 228 triliun atau setara 1,5 kali total APBN Indonesia) pada 2021 memiliki tiga juta personil, AU-nya mengoperasikan 3.170 pesawat berbagai jenis, AL diperkuat 714 kapal perang termasuk satu kapal induk, 76 kapal selam dan AD memiliki 13.500 tank.
Selain membangun kekuatan nuklir, China juga terus berusaha mengembangkan persenjataan konvensional, misalnya pesawat tempur siluman generasi ke-5 Chengdu J-20, rudal penghancur kapal induk Dongfeng DF-21 dan rudal hipersponik DF-17.
Sebaliknya, kekuatan Taiwan walau jauh lebih kecil, dengan personil 300.000 orang, 300 pesawat tempur, 87 kapal perang dan sekitar 1.855 tank tidak bisa dianggap enteng, karena selain terlatih juga canggih.
AU Taiwan ditulangpunggungi lebih 100 pesawat tempur “Elang Tempur F-16 C/D yang kemampuannya akan ditingkatkan menjadi F-16 Viper, pesawat Mirage 2000-5 buatan Perancis dan Chengko F-CK1 buatan lokal yang keandalannya disebut-sebt setara F-16.
Entah, kapan gertakan China untuk merebut Taiwan akan direalisasikan, karena jika perang pecah, risiko korban dan kerusakan di kedua belah apihak tak terbayangkan, karena banyak pihak turun tangan.




