TIBA kembali di Jagad Binangun Prabu Gandis Basuwedo menikmati kepusingan baru, para buruh proyek padupan agung berdemo ke Istana. Masalahnya setiap Sabtu biasanya terima upah, sampai hari Minggu mandornya tidak muncul. Jangankan mandor, kontraktornya juga minggat. Masalahnya pembayaran termin pertama belum dibayar oleh pemilik proyek “Sesaji Raja Ngaya” Prabu Gandis Basuwedo, sementara bangunan baru sampai pondasi doang.
Masa buruh proyek berorasi sendiri tanpa ditemui pejabat tinggi Jagad Binangun. “Bayarlah upah buruh sebelum keringatnya kering”, bunyi salah satu poster. Poster lain menulis: Apa proyek ini mau dijadikan “mesjid Sriwijaya” jilid II? Tapi ironisnya Patih Sabrang Pawitan yang biasanya jadi bumper setiap kebijakan juragan, kali ini pilih ngumpet sambil nonton Youtube. Tentu saja Prabu Gandis Basuwedo marah besar. Sini pusing kok sononya leha-leha.
“Hai Patih, buruh proyek padupan agung pada demo, tapi ente kok diam saja sih? Kalau mereka jadi anarkis bagaimana?” sergah Prabu Gandis Basuwedo.
“Ah bodo amat! Situ yang mulai, masak gue yang harus mengakhiri. Capek dijadikan bemper melulu.” Jawab Patih Sabrang Pawitan mulai nungkak krama (tidak sopan).
Ya, selama ini Patih Sabrang Pawitan memang selalu buat paten-paten (dikorbankan). Setiap ada masalah yang dibuat oleh Prabu Gandis Basuwedo, dia yang harus meluruskan, sementara raja Jagad Binangun itu ngilang. Tapi giliran ada penghargaan dari lembaga, Prabu Gandis Basuwedo tampil duluan. Dia gelar konprensi pers, bikin tayangan Youtube bahwa itu bukti prestasi kinerjanya.
Terpaksa Prabu Gandis Basuwedo menemui para pendemo sambil bagi-bagi uang. Ini dana Aspirasi Buruh yang jumlahnya tak sampai Rp 450 juta setiap 2,5 bulan sebagaimana Dana Aspirasi DPR RI. Meski jumlahnya hanya Rp 1,2 juta perorang, pekerja proyek itu sudah senang sekali, mereka pun bubar untuk tidak kembali lagi ke bedeng.
Legalah Prabu Gandis Basuwedo, karena para pendemo sudah pergi. Tapi itu artinya kas proyek “Sesaji Raja Ngaya” telah berkurang Rp 60 juta sebagai biaya tak terduga. Padahal dana yang masuk dari para raja-raja baru mencapai 30 persen dari target Rp 1 triliun. Pusing lagi Prabu Gandis Basuwedo, karena untuk bayar fee ke Betara Kala saja tidak nutup.
“Patih Sabrang Pawitan, ke sini kau….!” seru Prabu Gandis Basuwedo.
“Ogah! Selesaikan sendirilah, itu akibatnya kalau terlalu ngaya….” jawab patih ketus sekali.
Tanpa terasa sudah memasuki bulan Nopember akhir 2021, tapi proyek “Sesaji Raja Ngaya” tak ada kelanjutannya, sementara gedung padupan agung juga mengkrak terbengkelai mirip Candi Hambalang di Bogor. Kembali istana Jagad Binangun dipenuhi pendemo dari berbagai negara calon peserta “Sesaji Raja Ngaya”, kenapa waktu makin dekat, tapi kok negeri Jagad Binangun adem ayem saja, tak ada baliho proyek tersebut.
“Jangan sampai negeri kami ajukan interpelasi,” kata pendemo dari negara A.
“Kami juga ogah dijamu makan malam untuk menghambat interpelasi,” kata pendemo dari negara lain lagi.
Demikianlah. karena Patih Sabrang Pawitan sudah tak pernah masuk kerja. Tapi gaji masih jalan terus. Dan anti klimaks terjadi, ketika pemimpin negeri Jagad Binangun ini kedatangan tamu Raden Harjuna dari negeri Ngamarta. Satria Madukara inipun baru sadar bahwa ternyata Prabu Gandis Basuwedo itu itu juga penyelenggara “Sesaji Raja Ngaya”, sebab misinya ke sini sebetulnya ingin menyampaikan aspirasi jin Iprit Sayeksa yang tergusur dari wringin kurung Jagad Binangun.
“Ternyata penebang wringin kurung dan penyelenggara “Sesaji Raja Ngaya” itu orangnya sama ta,” kata Raden Harjuna.
“Lha memang iya, kisanak. Ada keperluan apa Anda ke sini? Apa mau melunasi setoran program kami?” ujar Prabu Gandis Basuwedo to the point tanpa malu-malu.
“Aku bukan utusan kangmas Puntadewa untuk bayar setoran proyek, tapi penyambung lidah jin Iprit Sayeksa. Kembalikan seperti semula wringin kurung itu, sehingga keluarga jin Iprit hidup tenang di tempat asalnya.”
“Nggak bisa lagi dong, kan sudah ditebang dan dijadikan areng para tukang sate.” Jawab Prabu Gandis Basuwedo seenaknya.
Harjuna menasihati Prabu Gandis Basuwedo agar berpihak pada wong cilik, meski jin sekalipun. Jika menggunakan aset rakyat untuk sebuah proyek, berilah mereka ganti untung, bukannya malah dirampok. Lihatlah itu korban proyek Pertamina di Paiton Probolinggo dan jalan tol di Sleman DIY, mereka menjadi miliarder dadakan karena dapat kompensasi yang layak.
Tapi Prabu Gandis Basuwedo memang bukan tipe pemimpin yang baik, sehingga saran Harjuna tak digubris, malah ditantang berantem. Harjuna kok ditantang soal begituan, itu kan sama saja bagaikan orang mengajari ikan berenang. Tantangan Prabu Basuwedo dilayani. Tapi aneh bin ajaib, sampai berapa ronde Harjuga gagal mengalahkan raja negeri Jagad Binangun tersebut. Maka dia kemudian HP androidnya, segera kontak lurah Semar.
“Tolong kakang Semar, berangkatlah ke Jagad Binangun, aku perlu bantuanmu.” Kata Harjuna saat telepon Semar.
“Di mana negeri Jagad Binangun itu, kok aku baru dengar?” tanya Semar yang hanya dijawab Harjuna untuk melihat Google maps.
Semar memang memiliki ajian Sepiangin, sehingga dalam waktu cepat bisa tiba di negeri Jagad Binangun, tanpa perlu test antigen dan PCR segala. Tiba di sana tanpa banyak kata Harjuna minta Kyai Semar menyelesaikan musuhnya yang satu ini. Dan ternyata benar, Lurah Badranaya tertawa terkekeh-kekeh melihat pemandangan di depannya. Orang yang selama ini menghilang tanpa berita, tiba-tiba menjadi raja di negeri orang, pakai ijazah apa dia?
“Prabu Gandis Basuwedo dicari banyak orang, tapi di sini malah jadi raja abal-abal. Ayo pulang, jangan bikin kaco negeri orang!” perintah Semar sambil menarik paksa udel bodong raja Jagad Binangun.
“Atho, atho, tobat….., tobat!” teriak Prabu Gandis Basuwedo yang tiba-tiba berubah jadi punakawan Petruk Kantongbolong.
Semar juga minta ditunjukkan patih Sabrang Pawitan yang selama ini sudah pecah kongsi dengan Prabu Gandis Basuwedo. Begitu datang dan ketemu Semar, belum diapa-apakan sudah takut duluan dan menjelma menjadi Bilung Sarawita. Tentu saja Semar dan Harjuna bingung, bagaimana mungkin Petruk dan Bilung yang selama ini berseberangan kok bisa bersatu dalam koalisi.
“Bagaimana ceritanya, Petruk kok bisa koalisi sama Bilung?” tanya Harjuna heran.
“Dalam politik biasa, Oom. Prabowo saja bisa menyatu dengan Jokowi kok.” Jawab Bilung tersipu-sipu.
Petruk kembali ke Ngamarta bersama Kyai Semar dan Harjuna, sementara Bilung juga kembali kepada pemimpin-pemimpin ratu sabrangan. Dengan gagalnya proyek “Sesaji Raja Ngaya” maka Betara Kala kembali ke komitmen lama. Betara Yamadipati juga tak kehilangan sumber rejeki sehari-hari. Dia tetap bisa mencabut nyawa wayang sesering mungkin, tak pandang yang sukerta atau bukan. Bahkan Betara Kala juga minta kepada Semar untuk diusulkan ke SBG, agar para wayang terlibat korupsi bisa dikategorikan sebagai wayang sukerta, sehingga Betara Kala bisa memakannya dengan bebas.
“Selama masih ada Komnas HAM, itu takkan terjadi dan korupsi akan selalu ada sepanjang masa.” Kata Kyai Semar. (Ki Guna Watoncarita – Tamat)



