Kejujuran Petugas Kebersihan

Halimah, petugas kebersihan Bandara Sukarno-Hatta yang jujur. Nemu dompet berisi cek Rp 35,9 miliar dikembalikan pada pemilik,

KEJUJURAN itu mahal, kejujuran itu menenangkan; begitu kata orang bijak. Di era gombalisasi ini orang banyak yang memilih tidak tenang hidupnya, menafikan sifat jujur agar hidup makmur. Maka ketika mendengar berita seorang cleaning service di Bandara Sukarno-Hatta mengembalikan temuannya cek senilai Rp 35,9 miliar, publik pun angkat topi. Halimah (36) adalah manusia langka di era milenial, “species” yang harus dilindungi dan dihargai, karena makin berkurangnya perilaku jujur dalam masyarakat.

Yang namanya di bandara, bukan hanya di Sukarno-Hatta tentunya, jangankan dompet tergeletak di bangku ruang tunggu, tas dalam bagasi saja sering digerayangi porter-porter. Beberapa kali diberitakan, sejumlah “tikus” bagasi di bandara ditangkap. Ada yang mengambil sejumlah barang di dalamnya, bahkan ada pula yang menggondol sekalian sama tas-tasnya.

Tapi Halimah  petugas kebersihan di PT Angkasa Pura Sukarno-Hatta emang beda! Rendahnya pekerjaan bukan berarti merendahkan martabatnya pula. Maka ketika menemukan sebuah tas tangan warna coklat di bangku ruang tunggu, langsung diserahkan ke Aviation Security (Avsec) Bandara. Saat dibuka isinya, bukan saja KTP dan SIM beserta dokumen lain, tapi juga ditemukan cek senilai Rp 35,9 miliar.

Sekuriti dan Halimah kaget! Sebetulnya sudah sering menemukan barang-barang tertinggal di seputar bandara. Tapi baru kali ini berisi cek yang nominalnya luar biasa. Karena pemiliknya jelas, beberapa hari kemudian Sunardi sang miliarder bisa ditemukan dan tas berisi segala isinya diserahkan. Dia sangat bersyukur dan berterima kasih sekali, sebab sudah beberapa hari ini sempat stress dibuatnya. “Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih, Allah Swt yang akan membalas-Nya,” kata Sunardi merendah.

Di balik ucapan itu pastilah ada tanda terima kasih dalam bentuk lain, hanya Sunardi tak mau dipublikasikan. Dan bagi Halimah, selama 10 tahun bekerja sebagai petugas kebersihan, sudah terbiasa menjumpai hal-hal seperti itu. “Besar atau kecil nilai barang, selama itu bukan milik kami, sudah jadi kewajiban petugas di lapangan untuk melaporkannya,” kata Halimah.

SOP (Standard Operating Procedure) adalah aturan yang harus dipatuhi oleh siapapun yang berada dalam sistem itu. Hanya orang yang punya kejujuran bisa melaksanakan dengan baik. Dan karena konsisten akan prinsip tersebut, Halimah mendapat berkah, dia naik pangkat setingkat lebih tinggi dari jabatan semula. Bahkan dia diangkat pula sebagai Duta Amaneh oleh PT Angkasa Pura Solusi selaku pengelola Bandara Sukarno-Hatta. Orang-orangtua sering mengatakan, wajida-wajidahu, siapa yang bekerja secara jujur dan serius akan menerima berkah-Nya.

Halimah memang tidak sendiri. Di berbagai tempat pernah diberitakan, orang-orang kecil menemukan barang berharga dikembalikan kepada pemiliknya. Sebuah survei dari luar negeri juga mengatakan, orang jujur lebih banyak ketimbang mereka yang berhati durjana. Penelitian di 40 negara termasuk Indonesia, dari 17 ribu dompet hilang di 332 kota di 40 negara tersebut, cenderung orang mengembalikan ketika menemukan dompet-dompet tersebut.

Tapi di Indonesia memprihatinkan, 17 persen mengembalikan dompet kosong dan 32 persen mengembalikan dompet yang berisi uang. Kesimpulannya, bangsa kita “sense of belonging”-nya terhadap barang milik orang lebih tinggi. Jangankan barang yang “tak bertuan” di jalan, meski tersimpan rapat di rumah ketika ditinggal mudik Lebaran banyak yang kebobolan. Ekstremnya, bini tetangga yang lama ditinggal suami jadi TKI, banyak yang dibobol juga!

Terlepas dari sampel luar negeri, para pejabat dan politisi yang suka “nyolong” uang negara harus malu pada Halimah petugas kebersihan Bandara ini. Dengan keterbatasan ekonominya, dia masih mampu mempertahankan kejujuran. Sedangkan pejabat dan politisi, meski harta sudah melimpah puluhan sampai ratusan miliar, masih mencoba mengakali uang negara.

Orang jujur itu meski miskin hidupnya akan lebih tenang, karena tak perlu ada yang ditutup-tutupi. Sebaliknya orang kaya karena tidak jujur, selalu mencoba menutupi segala ketidakjujurannya itu, agar bisa terus menambah kekayaannya lewat ketidakjujurannya tersebut. Tapi di sisi lain hatinya selalu ketar-ketir bila dibuntuti penyidik Kejaksaan maupun KPK.

Orang Jawa punya kepercayaan, barang siapa yang menemukan barang orang tak dikembalikan, suatu saat akan kehilangan jauh lebih besar ketimban nilai barang yang ditemukan dan dinikmati sendiri. Maka koruptor itu, jika ketahuan dan masuk penjara, dia akan menjadi nol kembali. Badan dikurung, aset-asetnya disita negara dan segenap keluarga ikut dipermalukan karenanya. (Cantrik Metaram)

Advertisement