
PEMERINTAH membatalkan PPKM Level 3 di pekan pergantian tahun (24 Desember 2021 sampai 2 Januari 2022) dengan pertimbangan,capaian dan kondisi tiap daerah dalam penanganan Covid-19 berbeda-beda sehingga pengaturannya pun tak bisa disamaratakan.
“Penerapan level PPKM selama Nataru akan tetap mengikuti asessmen kondisi pandemi dengan sejumlah pengetatan, “ ujar Menko Marves Luhut Panjaitan baru-baru ini.
Pertimbangan yang melatarbelakanginya, antara lain tren pertambahan harian kasus konfirmasi Covid di Indonesia saat ini sudah rendah dan stabil di bawah angka 1.000 kasus.
Pada 7 November tercatat penambahan 420 kasus baru terkonfirmasi Covid-19 atau jauh turun dibandingkan pada puncaknya 15 Juli lalu sebanyak 56.757 kasus, begitu pula angka kematian 17 orang, padahal puncaknya pada 27 Juli lalu mencapai 2.069 orang.
Selain itu, capaian vaksinasi dosis pertama di seluruh Indonesia sampai 7 Desember mencapai 143.291.352 atau 68,8 persen dan dosis kedua 99.825.444 atau 47,9 persen sehingga target herd immunity atau kekebalan komunitas diharapkan bisa tercapai, begitu pula vaksinasi untuk lansia sudah mencapai 11.951.513 atau 55,45 persen dosis pertama dan 7.729.339 atau 35,86 persen dosis kedua.
Untuk mencapai herd immunity atau kekebalan komunitas, akan dilakukan vaksinasi terhadap 208,2 juta atau bagi 80 persen dari seluruhnya 267 juta penduduk Indonesia.
Berdasarkan keputusan Mendagri, PPKM Level 3 selama Nataru antara 24 Desember 2021 dan 2 Januari 2022 yang dibatalkan diganti dengan PPKM di Masa Nataru tanpa pelevelan, namun tetap dengan pembatasan prokes tergantung situasi di masing-masing daerah.
Berdasarkan hasil survei Kementerian Kesehatan, menurut Mendagri Tito Karnavian, antibodi masyarakat sudah terbilang tinggi, bahkan di sembilan daerah aglomerasi telah mengalami kekebalan kelompok atau herd immunity.
Namun walau mengubah istilah, Mendagri menegaskan, pemerintah akan tetap menerapkan pembatasan, misalnya pengunjung mal dibatasi maksimal 75 persen dari kapasitas, hanya warga yang sudah vaksinasi dua dosis yang dapat beraktivitas di tempat publik, dan penerapan aplikasi PeduliLindungi di ruang publik.
“Mobilitas masyarakat selama Nataru juga dibatasi, “ ujarnya.
Menurut catatan penulis, euforia turunnya penyebaran Covid-19 juga terasa di tengah masyarakat, misalnya di angkot-angkot sebagian penumpang sudah melepas masker, begitu pula para pedagang kaki-lima dan warga yang bercengkerama di ruang publik.
Yang dicemaskan, lonjakan kasus Covid-19 terjadi pada libur akhir tahun dan Idul Fitri tahun lalu akibat meningkatnya obilitas massa, belum lagi munculnya ancaman varian baru virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 Omicron asal Afrika Selatan.
Walau sejauh ini belum terdeteksi di Indonesia, varian Omicron yang mampu bermutasi lebih 30 kali dan kemampuan menginfeksi ulang tiga kali lebih ganas dari varian Delta, sudah menyebar di 23 negara termasuk tetangga, Singapura dan Malaysia.
Jadi, tidak ada alasan untuk bereuforia, karena Covid-19 masih ada di sekitar kita.




