SETELAH mengklaim areal Sembilan Garis Putus-putus (Nine Dotes Line – NDL) di kawasan Laut China Selatan (LCS), bahkan membangun pangkalan udara di salah satu gugus pulau karang dekat Natuna, China menancapkan kukunya di kawasan Samudera Hindia.
Tekad China menyaingi Amerika Serikat menjadi “penguasa dunia” antara lain tercermin darirangkaian lawatan Menlu China Wang Yi ke lima negara di pesisir Samudera Hindia baru-baru ini, diawali dengan Eritrea (4/1) , salah satu negara yang bergabung dengan proyek global China “Sabuk dan jalan” (Belt and Road Initiative) yang digagasnya.
Setelah itu, dalam lawatan ke Kenya, Wang Yi mengunjungi Mombasa (4/1), kota pelabuhan terbesar dan tertua di tanduk Afrika, sementara Kenya sendiri adalah negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di Afrika Timur. China pada 2017 membiayai proyek jalur KA ke Mombasa.
Wang lalu mengunjungi negara kepulauan Kmoro di pesisir Samudera Hindia barat (6/1) di lepas pantai Afrika Timur , tepatnya di ujung utara Selat Mozambik yang merupakan jalur pelayaran strategis, memisahkan Afrika bagian selatan dan Madagaskar.
Maladewa dan Srilanka, dua negara halaman belakang India, jaraknya berdekatan dengan New Delhi, ibukota negara musuh bebuyutannya juga jadi obyek lawatan Wang.
Tidak hanya lawatan Wang yang menjadi cermin ambisi China menancapkan kukunya di level global, China juga gencar melaksanakan ofensif diplomatik dengan memprakasai pertemuan-pertemuan puncak regional misalnya KTT China dan Afrika atau KTT China dengan ASEAN.
China juga membangun kekuatan militernya secara intensif tercermin dari anggaran pertahanannya pada 2022 mencapai 766 milyar dollar AS atau sekitar Rp10.877 triliun, dan di Laut China Selatan, mengklaim wilayah “Sembilan Garis Putus-putus (NDL) di peta yang dianggap sebagai wilayah operasi nelayan tradisionalnya.
Tidak hanya itu, China juga membangun pangkalan militer di gugus karang Fiery Coral Reef yang bisa digunakan pesawat pembom H-6 Xian, hanya beberapa ratus Km dari Kep. Natuna.
RI sendiri sebagai negara yang menganuat politik bebas aktif sesuai pembukaan UUD 1945 tentu akan menggalang kemitraan dengan negara mana pun termauk China sepanjang tidak membelenggu kebebasannya dan menganggu kedaulatannya.





