
TREN penyebaran varian virus baru Omicron, baik di level global mau pun nasional diprediksi makin terus melonjak sampai Februari depan sehingga upaya untuk menghambatnya harus lebih intensif dilakukan.
Saat ini varian Omicron sudah menyebar di puluhan negara, bahkan di negara-negara Uni Eropa (UE) diprediksi bakal menggantikan jumlah penyebaran varian Delta yang semula mendominasi paparan Covid-19.
Sepuluh negara dengan kasus Omicron terbanyak saat ini yakni Inggeris (108.633 kasus), Amerika Serikat (68.861 kasus), Denmark (12.153 kasus), Jerman (3.503 kasus), Australia (3.471 kasus), Perancis (3.091 kasus), Israel (2.978 kasus), Kanada (2.287 kasus), Afrika Selatan (2.223 kasus0 dan Swiss 1.767 kasus.
Sejumlah negara juga sudah melaporkan kasus kematian akibat Omicron, yang trebanyak Inggeris 14 orang, sementara Australia, India dan Jerman masing-masing satu orang. Di Indonesia sendiri, sampai Minggu (9/1), tercatat 414 kasus positif Omicron dan belum dilaporkan adanya kasus kematian.
Varian Omicron yang memiliki kemampuan menyebar empat kali lipat dibandingkan varian Delta, sejauh ini memang gejalanya ringan atau tanpa gejala.
Namun demikian, jika lonjakan penyebarannya tidak dapat dihindari, bisa membuat fasilitas layanan kesehatan kewalahan, sehingga pada gilirannya juga bisa memicu naiknya angka kematian akibat tidak tertanganinya pasien-pasien penderita penyakit lainnya.
Omicron degan kode B.1.1.529 yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan awal November lalu ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai galur yang harus diperhatikan (Variant of Interest) karena memeiliki 50 mutasi genetik, 36 di antaranya ada di SARS-CoV2 atau virus pernafasan akut penyebab Covid-19 yang terus bermutasi.
Sementara Kordinator Humas Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Kemayoran Kol. Mintoro Sumego mengemukakan, mayoritas pasien berasal dari pelaku perjalanan dari luar negeri sejak dilakukan pelonggaran perjalanan mulai September lalu.
RSDC Kemayoran pada 7 Januari merawat 1.435 pasien, meningkat dibandingkan 665 pasien pada 31 Desember 2021, sedangkan saat ini jumlah pasien rata-rata meningkat 10 kali lipat dibandingkan dari awal Desember 2021.
Pemerimtah saat ini berupaya keras mengawasi pintu-pintu masuk N secara ketat, begitu pula karantina bagi mereka yang pulang dari luar negeri, namun di sisi lain, disiplin mengenakan masker dan jaga jarak juga makin longgar di tengah masyarakat.
Di tambah dengan mobilitas warga yang barusan meningkat menjelang pergantian tahun dan juga dibukanya kembali Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah-sekolah, ancaman lonjakan Omicron memang sudah di depan mata.




