Korsel Akan Serang Korut?

Sistem pertahanan rudal anti rudal terrminal area tinggi (THAAD) AS ditempatkan di Korsel. Muncul wacana Korsel akan menyerang Korut lebih dulu.

WACANA pihak Korea Selatan melancarkan serangan lebih dulu (preemptive strike) terhadap seteru bebuyutan, tetangga dan bangsa serumpun Korea Utara mulai beredar.

Alasannya, uji-uji coba rudal nuklir Korut terus berlangsung, dan pada awal 2022 saja sudah tiga kali dilakukan, bahkan Korut dilaporkan juga sedang menguji coba rudal hipersonik yang bisa melesat minimal lima kali kecepatan suara (MACH-5). Jika terbukti, ini ancaman besar bagi Korsel.

Wacana tersebut juga mengundang pro-kontra. Bagi pihak yang setuju, menganggap “preemptive srike”  perlu dilakukan karena tidak ada yang bisa “membaca” apa yang hendak dilakukan oleh pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong Un.

“Daripada diserang lawan duluan, lebih baik nyerang duluan, “ demikian kira-kira pendapat sesejumlah petinggi dan pengamat militer Korsel.

Seorang pensiunan Jenderal Korsel, Chun-in Bum juga menyatakan, rakyat Korsel sudah terbiasa hiduo di bawah ancaman rudal Korut, namun rudal hipersonik yang dikembangkannya tidak bisa disepelekan.

Jika terbukti mampu mengembangkan rudal jelajah hipersonik, dikhawatirkan rudal tersebut yang bergerak menyusur kontur permukaan tanah, bakal sulit terlacak radar.

Namun yang tidak setuju dengan serangan duluan, meyakini kemampun Korsel menahan rudal-rudal nuklir Korut sebelum sampai sasaran.

Menurut catatan, Korsel sejauh ini memiliki sistem pertahanan anti rudal Terminal Pertahanan Area Altitud Tinggi (Terminal High Altitude Areal Defence – THAAD) buatan AS seharga 15 milyar dollar (Rp223 triliun) per unitnya.

Rudal anti rudal sistem THAAD akan mengejar rudal lawan di ketinggian cakrawala tanpa hulu ledak, melainkan menabrak rudal lawan sehingga rudal anti rudal dan rudal lawan sama-sama hancur berkeping-keping

Selain THAAD, Korsel mengoperasikan sistem perahanan rudal Aegis,  juga buatan AS dan jika Korut menyerang Korsel, armada AS yang berada di sekitarnya tentu tidak akan tinggal diam. Sejauh ini AS juga menempatkan 28.500 anggota pasukannya di Korsel.

Pejabat Korut sendiri berkilah, mereka meneruskan uji coba senjata nuklir dan rudal hipersonik sebagai jawaban atas sanksi yang dijauhkan AS terhadap negaranya.

“Reaksi lebih keras akan kami lakukan jika AS terus menunjukkan sikap permusuhan , “ demikian pernyataan pejabat Korut yang dikutip media Korsel tanpa menyebut sumbernya.

Perimbangan Militer

Korsel pada 2021 menggelontorkan anggaran militer 43,8 miliar dollar AS (sekitar Rp621,4 triliun), sementara Korut di tengah embargo dan keterpurukan ekonomi, masih menganggarkan 3,6 miliar dollar AS (sekitar Rp51,2 triliun).

Dari jumlah personil, anggota tentara tetap Korut 950.000 orang, cadangan 5,5 juta orang, sedangkan Korsel 627.000 pasukan tetap dan 5,2 juta cadangan.

AU Korut mengoperasikan 950 pesawat tempur lawas warisan Uni Soviet seri MiG (MiG-15, MiG-21, MiG-23 dan MiG-29), sebaliknya AU Korsel didukung 1.600 aneka pesawat tempur buatan AS seperti F-16 Fighting Falcon dan F-15 EX Eagle dan T-50 Golden Eagle buatan lokal.

Di darat Korut didukung 4.100 tank eks Soviet seperti T-55,    T-62, 4.300 meriam tarik dan 2.250 meriam swagerak serta 2.400 peluncur roket buatan lokal mau pun Soviet, sebaliknya, Korsel mengoperasikan 2.660 tank termasuk M2A1 Abrams buatan AS dan Black Panther buatan lokal, 537 pucuk meriam tarik dan 1.990 pucuk meriam swagerak serta 210 peluncur rudal.

Sedangan matra laut Korut dilengkapi 76 kapal selam kelas Kilo dan Whisky serta 11 fregat (semua eks-Soviet), sedangkan Korsel memiliki satu kapal induk, 15 kapal selam, 13 fregat dan 12 kapal perusak, buatan AS mau pun galangan lokal.

Di tengah himpitan ekonomi, akibat embargo pihak Barat mau pun kemarau panjang, Korut terus mengembangkan rudal-rudal balistik yang mampu membawa hulu ledak nuklir dan menjangkau daratan AS.

Sebaliknya, Korsel walaupun tidak memiliki arsenal nuklir, termasuk negara pengekspor alutsista terkemuka didukung industrinya yang kuat.

Perang hanya bakal menyengsarakan rakyat dan berujung kerusakan dan kematian. Jika bisa didamaikan, kenapa tidak?

 

 

 

 

 

 

Advertisement