
JADI apa tidaknya tentara Rusia menyerbu Ukraina, tidak ada yang bisa meramalkan dengan pasti, semua tergantung keputusan terakhir pimpinan tertinggi Rusia di Istana Kremlin, Moskow.
Beberapa waktu lalu merebak isu, sekitar 100.000 anggota pasukan beruang merah itu didukung persenjataan berat sudah disiapkan di perbatasan dengan Ukraina dan akan melancarkan invasi, medio Februari.
Namun Presiden Rusia Vladimir Putin malah meledek, dengan menginformasikan penarikan mundur pasukannya dari garis depan.
Jika perang pecah, pasti menimbulkan bencana kedua belah pihak, baik nyawa manusia mau pun kerusakan atau kehancuran sarana dan prasarana yang ditimbulkannya.
Namun persiapan atau antisipasi kemungkinan perang juga menyita enersi, dana dan daya. Mulai dari latihan-latihan militer, pengerahan atau mobilisasi kekuatan militer dan pasukan, logistik dan lainnya.
Itu yang dihadapi Ukraina, salah satu negara bekas sempalan Uni Soviet di Laut Hitam yang sedang dihantui kemungkinan invasi Rusia yang tidak menghendakinya masuk menjadi anggota Aliansi Pertahanan atlantik Utara (NATO) dipimpin AS.
Rusia menganggap masuknya Ukraina ke dalam NATO ancaman nyata bagi kedaulatannya, karena negara beruang merah itu akan terkepung lawan, apalagi setelah tiga negara yang dulu di bawah Soviet (Estonia, Latvia dan Lithuania) juga bergabung ke NATO.
Saat ini saja, NATO sudah menempatkan masing-masing 1.200 anggota tentaranya di Estonia, Latvia, Lithuania dan Polandia, ditambah 5.700 anggota tentara AS di Polandia, 450 personil di Lithuania dan 900 personil di Rumania.
Tidak Seimbang
Jika berhadapan langsung, kekuatan militer raksasa Rusia tentu dengan mudah melumat pasukan Ukraina yang jauh lebih kecil jumlahnya dan juga persenjataannya yang hanya mengandalkan warisan bekas Soviet.
Dari perbandingan kekuatan militer saja, Rusia memiliki lebih dua juta personil aktif, 12.400 unit tank, 4.173 aneka pesawat plus 770 pesawat tempur, 554 helikopter serang dan 600 lebih kapal perang.
Sementara Ukraina hanya berkekuatan 200.000 personil aktif, 2.600-an tank, 70-an pesawat tempur dan 38 kapal perang, sebagian besar alutsista lawas warisan eks-Soviet.
Namun bagi Rusia, jadi tidaknya menyerbu Ukraina sangat dilematis. Walau sekarang agaknya waktu yang paling tepat untuk melakukannya, sebelum Ukraina bergabung ke dalam NATO.
Dengan dalih menyelamatkan elemen-elemen  Ukraina yang pro-Moskow, Rusia bisa beralasan melakukannya, sebaliknya, jika Ukraina sudah bergabung ke NATO, tentu lebih sulit, karena seluruh anggotanya berkewajiban terjun membantu.
Presiden AS Joe Biden sendiri sudah mewanti-wanti, negaranya tidak akan membiarkan Ukraina sendirian berperang melawan Rusia.
Situasi antara perang dan damai, bisa berlarut-larut sehingga menghantui pemerintah dan rakyat, menguras biaya untuk tetap bersiaga dan menghambat perputaran roda-roda ekonomi serta investasi. (AP/Reuters/ns).




