Repotnya Ngurus Tahu-Tempe

Para perajin tempe dan tahu seluruh Indonesia akan melakukan mogok produksi 21 - 23 Februari memprotes naiknya harga kedelai yang membuat usaha mereka terancam bangkrut.

MBOK Warni (53), pengelola warung Tegal di bilangan Rawajati, Jakarta Selatan, beberapa hari ini uring-uringan gegara naiknya harga beli tempe mentah seiring naiknya harga kedelai yang jadi bahan bakunya.

Betapa tidak, bagi warung Tegal seperti yang dikelolanya, masakan berbasis tempe-tahu adalah kuliner primadona yang wajib hukumnya atau tidak terlalu lebai jika dikatakan “hidup-mati” warungnya bergantung dari “tahu-tempe”.

Dari tempe atau tahu, bisa dibuat tempe atau tahu goreng bersalut tepung (tahu tempe kemul), orek, atau dioseng-oseng (ditumis) bersama kacang panjang, kangkung, buncis atau sayuran lain.

Pasalnya, menurut Ketua Gabungan Produsen Tahu-Tempe, Aip Syarfifudin (18/2) harga kedele yang sebelumnya Rp9.000 per Kg, saat ini melonjak menjadi sekitar Rp11.000-an.

Bisa dibayangkan, selain pengelola Warteg, sekitar 170.000-an produsen tahu di seluruh Indonesia yang sebagian besar adalah perajin industri rumahan megap-megap.

Mereka biasanya hanya membeli 20 Kg-an kedelai untuk diolah menjadi tahu-tempe. Perlu waktu sehari untuk tempe siap jual dan tiga hari untuk tahu.

Paling-paling laba yang didapat cuma Rp50.000. Bayangan jika modal yang mereka keluarkan semula Rp 180.000 (20 kg kedelai Rp9.000/Kg), sekarang harus mengeluarkan Rp220.000 (20 Kg, Rp11.000 per Kg).

Untuk itu, para perajin tempe-tahu akan melakukan aksi mogok produksi pada 21 sampai 23 Februari pekan depan. Mereka hanya berdiam di rumah masing-masing, tidak turun ke jalanan.

 

Tidak ada Koordinasi

Wakil Ketua Komisi IV DPR, Dedy Mulyadi menuturkan, persoalan kedelai yang berujung melonjaknya harga tahu-tempe antara lain karena lemahnya koordinasi antara Kementan dan Kemendag.

Selayaknya, kementan menyiapkan lahan yang akan digunakan untuk menanam kedele, luas lahan, petani dan penyuluh lapangan, pupuk, benih, insektisida sampai ke penanganan pasca panen.

“Tidak usah jauh-jauh ke luar P. Jawa, untuk menyediakan 150.000 HA lahan untuk tanaman kedelai, tidak sulit, cukup memanfaatkan lahan perusahan perkebunan negara (PNP), “ ujarnya.

Sebaliknya, kementerian perdagangan menyiapkan pembelian untuk seluruh hasil panen petani.

Subsidi juga harus diberikan pada petani jika harga anjlok, karena jika tidak, petani akan memilih menanam tanaman lain yang lebih menguntungkan.

Indonesia sudah mencapai swasembada kedelai sebesa 1,5 juta ton pada lahan 1,5 juta Ha pada 1990-an, kini dengan lahan yang menyusut sampai tinggal sekitar 500 ribu Ha, produksi paling tinggi sekitar 900.000 ton, padahal kebutuhan domestik sekitar dua juta ton.

Sementara pengamat pertanian, Khudori menilai, kedelai lokal sebenarnya lebih baik mutunya sebagai bahan mentah tahu-tempe, namun penanganan pasca panennya juga perlu diperbaiki.

Di dalam karung kedelai sering ada ranting atau sampah lain, juga tidak dijemur dulu, sehingga pengrajin tahu-tempe memerlukan tenaga lagi untuk menanganinya dan berat timbangannya lebih ringan dibandingkan saat pembelian.

Khudori menyebutkan, pada saat Orde Baru dulu, pemerintah juga menetapkan harga kedelai, paling tidak satu setengah kali harga gabah sebagai insentif untuk petani.

Indonesia sudah lebih 76 tahun merdeka, sehingga selayaknya, urusan tahu-tempe dituntaskan sehingga tidak menjadi persoalan yang selalu muncul setiap tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Repotnya Ngurus Tahu-Tempe

MBOK Warni (53), pengelola warung Tegal di bilangan Rawajati, Jakarta Selatan, beberapa hari ini uring-uringan gegara naiknya harga beli tempe mentah seiring naiknya harga kedelai yang jadi bahan bakunya.

Betapa tidak, bagi warung Tegal seperti yang dikelolanya, masakan berbasis tempe-tahu adalah kuliner primadona yang wajib hukumnya atau tidak terlalu lebai jika dikatakan “hidup-mati” warungnya bergantung dari “tahu-tempe”.

Dari tempe atau tahu, bisa dibuat tempe atau tahu goreng bersalut tepung (tahu tempe kemul), orek, atau dioseng-oseng (ditumis) bersama kacang panjang, kangkung, buncis atau sayuran lain.

Pasalnya, menurut Ketua Gabungan Produsen Tahu-Tempe, Aip Syarfifudin (18/2) harga kedele yang sebelumnya Rp9.000 per Kg, saat ini melonjak menjadi sekitar Rp11.000-an.

Bisa dibayangkan, selain pengelola Warteg, sekitar 170.000-an produsen tahu di seluruh Indonesia yag sebagian besar adalah pengrajin industri rumahan megap-megap.

Mereka biasanya hanya membeli 20 Kg-an kedele untuk diolah menjadi tahu-tempe. Perlu waktu sehari untuk tempe siap jual dan tiga hari untuk tahu.

Paling-paling laba yang didapat cuma Rp50.000. Bayangan jika modal yang mereka keluarkan semula Rp 180.000 (20 kg kedelai Rp9.000/Kg), sekarang harus mengeluarkan Rp220.000 (20 Kg, Rp11.000 per Kg).

Untuk itu, para pengrajin tempe-tahu akan melakukan aksi mogok produksi pada 21 sampai 23 Februari pekan depan. Mereka hanya berdiam di rumah masing-masing, tidak turun ke jalanan.

 

Tidak ada Koordinasi

Wakil Ketua Komisi IV DPR, Dedy Mulyadi menuturkan, persoalan kedelai yang berujung melonjaknya harga tahu-tempe antara lain karena lemahnya koordinasi antara Kementan dan Kemendag.

Selayaknya, kementan menyiapkan lahan yang akan digunakan untuk menanam kedele, luas lahan, petani dan penyuluh lapangan, pupuk, beih, insektisida sampai ke penanganan pasca panen.

“Tidak usah jauh-jauh ke luar P. Jawa, untuk menyediakan 150.000 HA lahan untuk tanaman kedelai, tidak sulit, cukup memanfaatkan lahan perusahan perkebunan negara (PNP), “ ujarnya.

Sebaliknya, kementerian perdagangan menyiapkan pembelian untuk seluruh hasil panen petani.

Subsidi juga harus diberikan pada petani jika harga anjlok, karena jika tidak, petani akan memilih menamam tanaman lain yang lebih menguntungkan.

Indonesia sudah mencapai sasembada kedelai sebesa 1,5 juta ton pada lahan 1,5 juta Ha pada 1990-an, kini dengan lahan yang menusut sampai tinggal sekitar 500 ribu Ha, produksi paling tinggi sekitar 900.000 ton, padahal kebutuhan domestik sekitar dua juta ton.

Sementara pengamat pertanian, Khudori menilai, kedele lokal sebenarnya lebih baik mutunya sebagai bahan mentah tahu-tempe, namun penanganan pasca panennya juga perlu diperbaiki.

Di dalam karung kedelai sering ada ranting atau sampah lain, juga tidak dijemur dulu, sehingga pengrajin tahu-tempe memerlukan tenaga lagi untuk menanganinya dan berat timbangannya lebih ringan dibandingkan saat pembelian.

Khudori menyebutkan, pada saat Orde Baru dulu, pemerintah juga menetapkan harga kedelai, paling tidak satu setengah kali harga gabah sebagai insentif untuk petani.

Indonesia sudah lebih 76 tahun merdeka, sehingga selayaknya, urusan tahu-tempe dituntaskan sehingga tidak menjadi persoalan yang selalu muncul setiap tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement