SETELAH UU IKN disahkan DPR, Presiden Jokowi bergerak cepat untuk segera memindahkan ibukota RI ke Penajam Paser Utara, Kaltim. Kepala Otorita IKN dan Wakilnya sudah diangkat, masing-masing Bambang Susantono dan Dhony Rahajoe. Disusul kemudian dengan upacara Kendi Nusantara, dan Senin malam lalu Presiden Jokowi berkenan kemah di titik nol bersama para menteri dan 4 gubernur di Kalimantan. Semua prosesi sarat denga tradisi yang terasa Njawani.
Untuk Kepala IKN, dulu isyunya yang akan ditunjuk Ahok BTP mantan Gubernur DKI yang kini Komut Pertamina. Bagi kalangan kadrun dan para penyinyir, rupanya sosok satu ini sudah harga mati, sehingga Jokowi memilih duet Bambang Susantono – Budi Dhony Rahajoe yang dijamin aman terpercaya. Aman karena akan bebas dari serangan dan kegaduhan, dan terpercaya lantaran kedua sosok ini memang berpengalaman di bidangnya.
IKN Nusantara memang bukan sekedar untuk pemerataan pembangunan agar tidak Jawa sentris, tapi juga melambangkan persatuan 34 provinsi di Indonesia. Maka Presiden Jokowi menciptakan Kendi Nusantara. Seluruh gubernur di Indonesia wajib datang ke IKN Nusantara dengan membawa air dan tanah dari wilayah masing-masing. Di titik nol itulah air dan tanah dari sejumlah penjuru nusantara itu dikumpulkan menjadi satu, itulah lambang NKRI.
Prosesi ini sangat Njawani jika tak mau disebut berbau perdukunan. Sebab kalangan “wong pinter” sering mengobati pasiennya dengan memandikannya pakai air dari 7 sungai. Entah bagaimana cara mengumpulkannya itu sang dukun, apakah cari langsung ke kali dimaksud, atau sekedar beli online lewat tokopedia atau bukalapak. Yang jelas para pasien juga mempercayainya.
Acara yang berbau mistis ini masih juga ada yang menariknya secara politis. Misalnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Dia tak mau ambil tanah Monas yang ambilnya tinggal nyeberang dari Balaikota, tapi sengaja diambil tanah dari Kampung Akuarium Jakarta Utara. Di samping takut disalahkan Kemensesneg lagi gara-gara tebangi pohon Monas untuk Formula-E, tanah Kampung Akuarim ini katanya lambang keberpihakan Gubernur Anies pada wong cilik.
Berbau pedukunan juga terasa ketika tenda-tenda para pejabat bermalam sekelilingnya ditaburi garam. Katanya untuk mencegah masuknya ular, karena ular sangat anti garam, mungkin takut terkena stroke. Padahal dunia perdukunan juga menggunakan garam yang sama. Misalnya ketika seorang pemuda jatuh cinta pada seorang gadis, agar sigadis mau dan cinta setengah mati, sang dukun memerintahkan pada pemuda itu untuk menaburkan sejumlah garam dapur di depan rumah sigadis.
Mungkin juga, dengan garam-garam bertaburan di titik nol ini, para ASN yang tadinya ogah dipindahkan ke IKN Nusantara, mendadak jadi bersedia. Sebab sebagaimana berita, dari ribuan ASN yang akan dipindahkan ke sana banyak yang menolak. Ada yang memilih pensiun dini, ada pula yang mengajukan permohonan untuk dimutasikan jadi ASN DKI Jakarta. Padahal kata Menpan-RB Tjahjo Kumolo, jika negara sudah menghendaki, ASN yang dimutasi ke IKN harus berangkat karena hukumnya wajib.
Padahal puluhan ribu ASN harus menjalankan roda pemerintahan baru dari sana. Hingga 2045 nanti ditargetkan 24.000 ASN yang harus pindah ke sana. Jangan percaya omongan Edhy Mulyadi bahwa lokasi IKN Nusantara bak tempat jin buang anak. Di sana ASN itu takkan harus blusukan cari kontrakan, tapi semuanya sudah disediakan perumahan yang tertata seperti di real estate pada umumnya.
Istana IKN yang berlatar sayap burung garuda ini akan segera dimulai pembangunannya di atas tanah ketinggian 80 meter dari permukaan laut. Kata Menkeu Sri Mulyani, dari 2024 hingga 2045 dana yang dibutuhkan sekitar Rp 466 triliun baik itu APBN maupun partisipasi swasta. Dari jumlah itu diminta oleh Kemen PUPR sebanyak Rp 46 triliun untuk pembangunan infrastruktur. Pemerintah mulai bekerja di IKN Nusantara sekitar bulan Agustus 20-24, sehingga hanya 2 bulan Jokowi menikmati Istana Negara baru hasil gagasannya.
Banyak yang mengkhawatirkan, setelah IKN berjalan, Jakarta sang mantan akan ditinggalkan dan dilupakan. Presiden Jokowi menepis kecurigaan itu. Meski bukan lagi ibukota negara Jakarta tetap akan diperbaiki. Nah, menjelang selesainya jabatan Gubernur Anies Baswedan Oktober mendatang, ada yang mengusulkan agar PLT gubernur DKI sampai 2024 nanti tunjuk saja Ahok BTP. Di samping sebagai “pelipur lara” para pendukungnya, diyakini Ahok dalam tempo 2 tahun mampu mengejar dan menutup ketinggalan Anies selama 5 tahun. (Cantrik Metaram)





