Sistem Rudal S-400 untuk Ukraina

Amerika Serikat meminta sekutunya di NATO, Turki memasok Ukraina dengan sistem rudal pertahanan udara S-400 yang dibelinya dari Rusia. Jika ini terjadi, pesawat-pesawat tempur Rusia bisa "dimangsa" oleh rudal buatannya sendiri.

PERANG konvensional di era now diwarnai adu teknologi sistem  alutsista. Pengguna dengan persenjataan lebih jauh jangkauannya, lebih presisi, lebih cepat dan daya rusaknya lebih dahsyat, lebih besar pula kansnya keluar sebagai pemenang.

Perang juga ajang promosi bagi industri atau pialang senjata, sehingga tidak keliru jika mereka dijuluki “merchant of death”  atau pedagang maut yang memanfaatkan perang yang mempertaruhkan nyawa atau kesiapan perang menjadi masa panennya.

Dari produknya sendiri, keberhasilan digunakan dalam perang nyata atau “combat proven”  atau terbukti kedahsyatannya, tentu akan menaikkan nilai jual dan juga bakal dilirik banyak calon pembeli.

Hal itu juga tampak dari drone Bayraktar TB-2 dan Anka buatan Turki serta Kamikaze buatan Israel yang sukses digunakan oleh pasukan Azerbaijan dalam konflik terkait wilayah Nagorno Karabakh dengan Armenia beberapa waktu lalu.

Kedua pesawat nir-awak buatan Turki tersebut yang sukses melumpuhkan situs-situs rudal dan tank-tank Armenia kini digunakan lagi di Ukraina dalam perang melawan Rusia. Entah bagaimana penampilannya kali ini, karena yang dilawan, raksasa Rusia.

Kisah sukses alutsista juga diraih rudal anti rudal Patriot buatan AS yang digunakan Israel untuk menangkal serangan rudal ballistik Scud (eks-Soviet) yang dilancarkan pasukan Irak di bawah Saddam Husein dalam Perang Teluk sekitar dua dekade lalu.

Perang Rusia vs Ukraina

Perang di wilayah Ukraina, tetangga sesama bekas negara sempalan Uni Soviet yang meletus sejak invasi tentara Rusia 24 Februari dan sampai hari ini masih berkecamuk juga jadi tak lepas dari ajang adu senjata.

Sebagian persenjataan kedua belah pihak nyaris sama, terutama yang warisan Soviet, seperti tank-tank T-62, T-72, T-90 pesawat tempur seri Sukhoi (SU-27, SU-30 SU-35) dan MiG-29 serta koleksi alutsista lainnya.

Bedanya, Rusia memiliki arsenal pesenjataan yang jauh melimpah ruah  dibandingkan Ukraina dan juga seri-seri terbaru yang tidak dimiliki Ukraina pasca runtuhnya Uni Soviet akhir 1992.

Di darat, Rusia memiliki 12.420 tank dan 30.120 kendaraan lapis baja, sementara Ukraina hanya memiliki sekitar 3.000 tank dan 12.300 kendaraan lapis baja.

Di udara, Ukraina hanya memiliki 69 pesawat tempur yang relatif lawas seperti SU-24 atau MiG-29, sebaliknya Rusia mengoperasikan 772 pesawat tempur lebih baru seperti SU-30,SU-35 da SU-57. Helikopter Ukraina cuma 112 buah dibandingkan Rusia, 1.540 lebih.

Tentara aktif Ukraina yang berjumlah sekitar 200.000 personil jelas tidak sebanding jika harus berhadapan dengan 800.000 tentara Rusia yang lebih lengkap persenjataannya.

Sedangkan matra laut, perbandingannya jauh tidak seimbang, apalagi setelah Rusia mencaplok pangkalan AL Ukrania di Sevastovol. Krimea

sejak 2014.  AL Ukraina hanya memiliki 38 kapal perang dibandingkan armada laut Rusia dengan 605 kapal perang.

Itu sebabnya, Ukraina memainkan taktik perang kota menggunakan rudal-rudal anti tank Javelin (buatan AS) dan NLAW (buatan Inggeris-Swedia) yang dipasok NATO untuk menghadang tank-tank Rusia.

Sebaliknya, Rusia leluasa menggunakan kekuatan udaranya mengebomi sasaran-sasaran di darat berupa situs-situs pertahanan udara, bunker, pangkalan udara, markas komando dan fasilitas militer Ukraina lainnya.

Namun bombardemen dari udara, rudal jelajah dan artileri berat serta serbuan tank-tank Rusia secara politik juga harus dibayar mahal   karena menuai kecaman int’l akibat banyaknya kerusakan prasarana dan sarana umum  serta korban jiwa ditimbulkannya.

Ancaman bagi Pesawat Rusia

Ke depannya, pesawat-pesawat tempur Rusia bakal tidak bisa leluasa lagi mengembomi wilayah Ukraina jika Turki jadi memasok Ukrana dengan sistem rudal pertahanan udara S-400 buatan Rusia yang dibelinya beberapa tahun lalu.

S-400 Triumph atau dijuluki SA-21 Growler oleh NATO yang dikembangkan Rusia sejak 2007 untuk menghadapi berbagai obyek di udara, selain pesawat tempur dan helikopter, juga rudal balistik lawan.

Dipandu radar pelacak 92N6E, sistem pertahanan udara S-400 mampu mendeteksi musuh pada jarak 600 km dan menyasar  sekaligus 300 obyek bergerak di angkasa.

Sistem pertahanan rudal S-400 yang dibandrol 300 juta dollar per unit (sekitar Rp426 milyar) dapat dioperasikan untuk memburu sasaran di udara dari jarak dekat, 40-an Km sampai 400 Km dengan kecepatan sampai Mach-5.

S-400 ditakuti pihak Barat termasuk AS yang membatalkan perjanjian pengembangan pesawat tempur generasi kelima Super Lightning F-35 dengan Turki gegara memilih S-400 untuk sistem pertahanan udaranya.

Jika ternyata Turki jadi mengirimkan sistem S-400 ke Ukraina, mungkin perimbangan di medan tempur berubah, karena pesawat-pesawat Rusia bisa jadi bakal dimangsa oleh rudal-rudal buatannya sendiri.

Slowakia, yang dulu juga bernaung di bawah Pakta Warsawa saat masih bersatu dalam Cekoslowakia, kabarnya juga ingin memasok sistem pertahanan udara S-300 (kakak S-400) buatan Soviet untuk Ukraina.

Ukraina sebenarnya juga masih memiliki S-300 walau agaknya tidak efektif digunakan, mungkin  dilumpuhkan oleh serangan rudal jelajah dan bombardemen Rusia, sementara rudal panggul Stinger buatan AS hanya untuk menyasar pesawat yang terbang rendah.

Jika di medan perang ke dua belah pihak menyabung nyawa, juga lebih tiga juta penduduk Ukraina mengungsi ke berbagai negara, para produsen dan pialang alutsista sedang mengatur strategi pemasaran dagangannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement