Perubahan Geopolitik di Timur Tengah

Untuk pertama kali, dua pimpinan negara Arab, Presiden Mesir Abdel Fatah el-Sisi, Pangeran Sheik Mohammed bin Yazed dari UEA dan PM Israel Naftali Benett bertemu untuk membahas isu terkini di Sharm el-Sheikh, Mesir, 22/3 lalu.

KONSTELASI geopolitik di kawasan Timur Tengah yang dulu diwarnai perseteruan bebuyutan antara dua kubu, Arab melawan Israel, kini posisi kawan dan lawan sudah berubah jauh dan mencair.

Hal itu tercermin dari pertemuan mendadak antara PM Israel Nafthali Benett, Putera Mahkota UEA Pangeran Sheik Mohammad bin Yazed dan Presiden Mesir Abdel Fatah el-Sisi di kota Sharm el-Sheik, Mesir, Selasa (22/3).

Setelah Turki (1950), Mesir (1978) dan Yordania (1994), menyusul Bahrain, Maroko, Sudan dan Uni Emirat Arab yang menjalin hubungan diplomatik dengan negara Yahudi itu pada 2020.

Pertemuan ketiga pimpinan negara diulas oleh media arus utama setempat, walau berbeda penekanan (angle) pemberitaannya. Koran Mesir dan UEA lebih mengedepankan dampak perang Rusia lawan Ukraina sementara media Israel terkait isu Iran.

Bagi Israel, lawan yang ada di depan matanya saat ini tinggal Iran, setelah potensi ancaman dari Mesir, Suriah dan Irak melunak akibat persoalan dalam negeri masing-masing.

Musuh utama Israel yakni Mesir sudah didamaikan dalam kesepakatan Camp David pada 1978, setelah dikalahkan dalam Perang kemerdekaan Israel (1948), Perang Enam Hari (1967) dan Yom Kippur (1973).

Irak pasca Perang Teluk lebih condong ke Barat selain juga harus berbenah diri membangun ekonomi yang porak poranda dan menyatukan fraksi-fraksi antara pendukung dan lawan  mendiang Presiden Saddam Husein.

Suriah yang bahu-membahu dengan Mesir dalam Perang Enam Hari dan Yom Kippur menjadi lawan berat Israel, namun sejak 2014 terperangkap dalam konflik sipil berkepanjangan, juga melawan NIIS dan fraksi-fraksi lainnya.

Selain Israel, Arab Saudi dan UEA juga berseteru dengan Iran yang mendukung kelompok Houti di Yaman yang sering menghujani  sejumlah kota di kedua negara dengan rudal-rudalnya.

Israel dan UEA juga menuduh peran pasukan Garda Revolusi Iran di balik para loyalisnya dalam aksi-aksi penyerangan di Arab Saudi,  Irak, Lebanon, Suriah dan Yaman.

Dari sisi militer, sebenarnya kubu Arab yang terkuat, baik finansial dan militer adalah Arab Saudi, namun sejauh ini, walau tidak membuka hubungan diplomatik resmi dengan Israel, keduanya melakukan kontak-kontak dan kerjasama secara rahasia.

Sementara bangsa Palestina saat ini seolah-olah berjuang sendiri setelah negara-negara Arab yang sebelumnya mendukungnya secara penuh, dana mau pun politik, satu persatu merapat pada Israel.

Adagium lawas: “ Tidak ada kawan atau lawan yang abadi, kecuali kepentingan”, suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. (AP/AFP/Reuters/ns).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement