Membanggakan, Anak Jalanan Mampu Terbitkan Koran ‘Balaknama’

Ilustrasi/Ist

NEW DELHI – Anak jalanan identik dengan mengemis dan mengamen, tidak demikian dengan sekelompok anak jalanan di New Delhi, India, yang mampu menerbitkan surat kabar Balaknama.

Balaknama berarti suara anak-anak. Pertama kali terbit, koran ini hanya berisi empat halaman hingga kemudian bertambah dua kali lipat. Surat kabar ini juga didistribusikan ke penjuru kota kata Chandni.

“Koran ini kami kirimkan ke kantor polisi, aktivis hak anak dan kantor pemerintahan. Harganya sekitar 300 rupiah. Tapi untuk anak-anak jalanan kami bagikan gratis.” tutur Chadni sang editor kepada seorang jurnalis Jasvinder Sehgal.

Para reporter itu kebanyakan anak jalanan yang direkrut dari pusat belajar LSM Chetna –sebuah kelompok yang ingin memperbaiki masa kecil anak lewat aksi dan pelatihan.

Total ada 70 repoter yang menggarap Balaknama dan mayoritas usia mereka antara 12-18 tahun. Reporter dibagi menjadi dua bagian yaitu reporter oral atau yang tidak bisa menulis dan hanya melaporkan, serta reporter yang mencari dan menulis berita.

Sama hal degan arti dari nama koran tersebut, anak-anak yang berasal dari daerah kumuh ini berlaku sebagai reporter yang memberitakan tentang anak-anak yang tinggal dan bekerja di jalanan, juga isu seperti kekerasan seksual pada anak, buruh anak dan kebrutalan polisi.

Misalnya Chandni yang berusia 17 Dia tahun mempunyai laporan mengenai anak-anak yang tinggal di stasiun kereta api.

“Beberapa dari mereka bercerita kalau polisi memaksa anak-anak di stasiun kereta api memunguti ceceran tubuh orang-orang yang mati di rel kereta. Ini sangat berbahaya bagi anak-anak. Mereka bercerita kalau menolak, polisi akan mengusir mereka dari stasiun,” ungkap Chandni yang bergabung dengan Balaknama sejak 2008.

Sebelumnya, ia berjualan bunga di lampu merah untuk mendapat uang pasca ayahnya meninggal. Dia mengaku, beruntung bertemu relawan dari LSM Chetna.

“Mereka mendorong saya untuk bersekolah dan memberi uang saku agar saya tidak perlu bekerja lagi di jalanan. Mereka juga melatih saya sebagai reporter surat kabar mereka, Balaknama, yang dikelola oleh anak-anak yang tinggal dan bekerja di jalanan,” kisah Chandni.

Kisah menarik juga diceritakan Liza yang usianya baru 13 tahun. Sebelum bergabung dengan Chetna, dia menjadi pemulung dan pengemis di stasiun kereta api.

“Saya kecanduan rokok, alkohol dan ganja. Saya dulu sering tidur di stasiun kereta api dan jarang pergi ke rumah. Lalu saya berkenalan dengan relawan Chetna. Mereka bercerita tentang Balaknama. Mereka bilang kalau saya mau bergabung saya harus menghentikan semua kebiasaan buruk saya. Saya berhasil melakukannya dan sekarang saya bersekolah dan duduk di kelas 8,” tutur Liza.

“Laporan terbaik saya sejauh ini adalah tentang upaya penyelamatan empat buruh anak. Usia mereka baru 6 atau 7 tahun dan bekerja di sebuah restoran di pinggir jalan. Mereka diselamatkan LSM saya dan saya membuat laporannya di surat kabar kami,” kata Liza bangga.

Berkat perjuangan mereka, laporan-laporan di Balaknama kerap diangkat media arus utama di India. Bahkan salah satu laporan terbaru bahkan ditindaklanjuti Komite Nasional untuk Perlindungan Hak Anak India ke polisi.

Chandni berharap korannya bisa terus memberdayakan anak jalanan di India, dengan terus menyuarakan kisah mereka dan dapat menciptakan perubahan yang nyata dalam hidup anak-anak jalanan.

Sungguh fakta yang unik dan sangat membanggakan, karena diperkirakan ada sekitar 150 juta anak jalanan yang rentan mengalami kekerasan dan dieksploitasi di seluruh dunia. Di India sendiri ada lebih dari 10 juta anak yang hidup di jalanan dan terpaksa bekerja.

Untuk itu, generasi Chadni dkk sangat memberi titik terang bagi kehidupan anak jalanan.
(Sumber: Portalkbr)

Advertisement