INVASI Rusia ke wilayah tetangganya, Ukraina sudah memasuki hari ke-53 sejak 14 Februari lalu, namun belum ada tanda-tanda segera bakal usai akibat perlawanan tak terduga lawannya.
Dari sisi personil saja, sekitar 200-an ribu pasukan Ukraina harus berhadapan dengan 1,3 juta tentara beruang merah dengan jumlah stok dan jenis persenjaatan berlipat ganda dan jauh lebih canggih.
Sebaliknya, Ukraina lebih banyak memanfaatkan alutsista lawas warisan Uni Soviet saat bersama Rusia bernaung di bawahnya. Dari sisi anggaran, Ukraina juga kalah jauh. Anggaran militer Rusia 2021 sebesar 154 miliar dollar AS (Rp2.201 triliun), sebaliknya Ukraina Cuma 11,8 miliar (Rp170 triliun).
Kenapa Ukraina sampai hari ini mampu bertahan tanpa keterlibatan pasukan NATO sekali pun?
Agaknya Ukraina cukup efektif menahan gempuran rudal, roket, artileri serta bombardemen Rusia dari darat, laut dan udara dengan berbagai persenjataan yang dipasok Barat (anggota NATO).
Dengan taktik perang kota yang dikuasainya, pasukan Ukraina yang kalah jumlah personil dan persenjataan mampu menimbulkan korban berat bagi tentara Rusia sehingga urung memasuki ibukota, Kiev, walau sudah tinggal sepelemparan batu, hanya puluhan Km di luar kota.
Rudal panggul Stinger buatan AS ternyata cukup ampuh untuk melumpuhkan helikopter-helikopter serang Rusia seperti MI-35 dan Kamov K-52, sementara rudal-rudal Javelin (AS) dan NLAW (Inggeris dan Swedia) banyak memangsa tank-tank tempur utama Rusia yang coba-coba mendekat.
Mengingat besarnya korban yang dideritanya, pasukan Rusia, berdasarkan citra satelit Barat, sudah mengalihkan posisinya untuk bergerak dari arah timur Ukraina, bergabung dengan kelompok separatis Donbas (Donetsk dan Luhansk).
Sebaliknya Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky terus meneriakkan pihak Barat terutama negara-negara anggota NATO untuk segera memasok alutsista offensif seperti tank, pesawat tempur dan rudal-rudal jarak jauh.
AS kabarnya sudah menyiapkan anggaran bantuan militer tambahan bernilai 800 juta dollar AS (Rp11,3 triliun) termasuk pengiriman kendaraan lapis baja M113, 300 unit drone Switchblade dan 11 helikopter buatan Rusia M-17 yang dipasok dari bekas negara Pakta Warsawa yang kini bergabung dalam NATO.
Ceko, salah satu negara bekas Pakta Warsawa yang bergabung ke NATO kabarnya akan memasok Ukraina dengan rudal darat ke udara (SAM) jarak jauh S-300 buatan Rusia miliknya.
Ukraina sendiri juga mengoperasikan jenis rudal tersebut, namun mungkin stoknya sudah habis atau situs-situs peluncurannya berhasil dilumpuhkan  oleh serangan udara Rusia.
Ukraina, selepas dari naungan Soviet pada 1992, juga meneruskan pengembangan alutsista eks-Soviet, misalnya rudal anti kapal Neptunus RK-360MT yang berhasil menenggelamkan kapal penjelajah Rusia Moskva (15/4). Rudal tersebut semula adalah RH-35 eks-Soviet.
Mengalirnya persenjataan untuk Ukraina membuat perang dengan Rusia bakal seru dan lebih lama. Yang jelas korban bakal berjatuhan dan ekonomi global akan terimbas akibat anjloknya pasokan energi. (AFP/Reuters/ns)
Â
Â
Â





