
GARA-gara terbalas obsesinya, Bambang Kumbayana jadi lupa daratan, karena yang diingat ranjang melulu. Sepanjang perjalanan udara Ngatasangin – Pancala dia berwisata haram bersama Dewi Wilutama. Kisah asmara di langit seribu kaki ini menjadikan nama Durna di hari tuanya nanti diplesetkan orang sebagai: mundur-mundur kena alias surut ke belakang tapi malah dapat. Tak tahulah dapat apa dia.
Sudah menjadi kehendak dewa, selama dalam perjalanan udara tersebut perut Dewi Wilutama berkembang sedikit demi sedikit alias positip hamil. Dan ketika menjelang tiba di wilayah Ngatasangin, usia kehamilan Dewi Wilutama sudah 9 bulan 10 hari. Kalau begitu berapa jarak Ngatasangin – Pancala, hitung sendiri dah! Penerbangan Jakarta – Amsterdam saja makan waktu 18 jam, sedangkan Ngatasangin-Pancala jika disesuaikan dengan usia kandungan, berarti membutuhkan waktu 6.720 jam. Dengan demikian jarak Ngatasangin – Pancala memang jauuuuuuuuh sekali, nggak umum!
“Kangmas Kumbayana,saya sudah hamil 9 bulan 10 hari, sebentar lagi akan melahirkan.” Ujar Dewi Wilutama apa adanya, dan tiba-tiba menyebut “kangmas”.
“Yang bener dinda Wilutama? Memangnya perjalanan kita sampai 9 bulan 10 hari, kok sudah menjelang persalinan. Jangan-jangan dinda sudah isi duluan, dan saya hanya menjadi “generasi penerus”-nya.” Jawab Bambang Kumbayana juga langsung ber-adinda.
Tapi kalimat lanjutan Bambang Kumbayana itu menusuk perasaan dan bikin sakit hati putri kahyangan itu. Memangnya sebagai lelaki tak bisa membedakan mana yang “perintis” dan mana yang “generasi penerus”. Jadi cowok jangan goblok-goblok amat, malu kan kalau dicap dungu oleh Rocky Gerung.
Meskipun demikian Dewi Wilutama tak langsung membantah tuduhan Bambang Kumbayana, kecuali hanya masuk catatan dalam hati. Ternyata lelaki yang ditolongnya itu tak bagus kepribadiannya, ditulung malah menthung. Tahu begini hasilnya, tadi biarkan saja membusuk di pantai negeri Ngatasangin.
Sebagai reaksi telak atas sikap “lambe turah” Bambang Kumbayana, begitu bayi itu lahir di tepian pantai Pancala, langsung saja ditinggal kabur Dewi Wilutama, terbang langsung ke langit lepas. Rupanya dia mau meniru bidadari Dewi Nawangwulan dalam legenda Jawa. Memang di kahyangan sana dia juga kenal dengan Dewi Nawangwulan, rumahnya hanya beda RT. Tapi sekarang sudah nenek-nenek, tidak cantik lagi. Mandi di telaga pun yang ngintip sudah males.
“Kangmas Kumbayana, sengaja bayi itu saya tinggalkan begitu saja. Rawatlah baik-baik, kelak akan terbukti bahwa Wilutama bukan bidadari open BO….!” kata Dewi Wilutama pendek dan wush…….sudah tak kelihatan lagi jejak bekasnya.
“Dinda Wilutama, tunggu dulu…..!” teriak Bambang Kumbayana mencoba menahan Dewi Wilutama, tapi sudah tak digubris.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16:00 sore waktu Pancala. Bayi yang ditinggalkan Wilutama itu lelaki, tapi model kakinya bukan berjari 5 sebagaimana lazimnya, melainkan berkuku gasal seperti kuda. Bambang Kumbayana ingat betul, sebelum menjelma jadi bidadari cantik di ruangan laksana kamar hotel, Dewi Wilutama memang berwujud kuda sembrani.
Bayi lelaki itu lalu diberi nama Aswatama. Aswa artinya kuda, sedang nama Tama diambil dari nama ibunya, Wilutama. Begitu diberi nama Aswatama, bayi tersebut langsung melepas lengking tangisnya. Tak tahulah apa maknanya. Bisa dia setuju, bisa juga dia menolak dengan nama itu. Jaman sekarang, nama-nama kan berbau Timur Tengah.
“Oo, kamu haus ya, minta susu? Sebentar ya, cup,cup,……” kata Bambang Kumbayana, sudah mirip baby siter.
“Waduh, di sini nggak ada Alfa Maret atau Indo Mart nak, “ kata Bambang Kumbayana kemudian. Dia yang menawari, dia pula yang meralat.
Akhirnya bayi itu hanya digendong ngalor ngidul. Seperti janjian, bila Dewi Wilutama berlagak seperti Nawangwulan, giliran Bambang Kumbayana juga meniru gaya Jaka Tarub. Wajah bayi itu diarahkan ke langit, agar bisa melihat Dewi Wilutama berdada-dada seakan ngliling si bayi yang Aswatama dalam gendongan Bambang Kumbayana.
“Tuh lihat, mamamu ada di sana…..!” kata Kumbayana seakan berdialog dengan si bayi.
Namun orok Aswatama terus nangis melengking-lengking, karena memang kehausan dan perlu mimik. Sambil bilang cap-cup…..sepanjang jalan, kemudian ketemulah Warteg. Jika nggak ada susu ya pisang ambonlah. Tapi sial, warung itu ternyata belum buka. Sebab selama bulan puasa di Pancala semua rumah makan dilarang buka siang hari. Jika nekad bisa diobrak-abrik sisa-sisa laskar FPI.
Bambang Kumbayana jalan terus, sehingga akhirnya masuk ke perkotaan. Jalannya mulus-mulus, tapi sayangnya di sana sini dilobangi untuk sumur resapan. Dan di luar dugaan sama sekali, Bambang Kumbayana menemukan tulisan: tempat penitipan bayi dan anak-anak, 50 meter. Ini dia, kata batin Kumbayana. Dan tambah senang lagi, ketika di rumah itu ditemukan ada tulisan taripnya: bayi sehari Rp 25.000,- anak-anak Rp 50.000,-
“Maaf Mbak, titip bayi selama seminggu bisa?” tanya Bambang Kumbayana, sementara si bayi Aswatama terus menangis.
“Bisa saja, memangnya Bapak mau ke mana?” kata petugas berpakaian putih-putih acam perawat di RS.
“Saya ada urusan penting ke Istana?” jawab Bambang Kumbayana asal-asalan.
“Mau buka puasa bersama, ya?”
Kumbayana tak menjawab, kecuali langsung membayar ongkos penitipan 7 hari sekaligus sebanyak Rp 175.000,- Bayi kemudian diserahkan pada babysiter, dan begitu diberi susu botolan langsung diem, macam politisi dapat pembagian uang proyek. Legalah sekarang Bambang Kumbayana. Dia bisa pergi ke istana Pancala dengan tenang, tanpa diribeti bayi Aswatama.
Benar kata babysiter tadi, di Istana Pancala sore itu memang ada acara buka puasa bersama, dengan ceramah pengantar berbuka ustadz Khalid Basalamah. Tentu saja Kumbayana bingung. Kok bisa terjadi ya di negeri ini, ustadz yang mengharamkan wayang, malah kasih pengajian di dunia wayang. Kok bisa ya? Bisa saja, namanya juga wayang parodi. (Ki Guna Watoncarita).


