
RUSIA memperketat cengkeramannya ke kota Mariupol di utara Ukraina (1/5), sementara sekitar 100 warga sipil yang berlindung di kompleks pabrik baja Azovstal di kota tersebut berhasil dievakuasi.
Mariupol yang semula dihuni sekitar setengah juta penduduk sudah dikosongkan dari warga sipil sejak invasi Rusia pada 24 Februari dan kini porak poranda akibat gempuran rudal, roket multi laras, bom-bom dan artileri berat dari darat, laut dan udara oleh pasukan Moskow.
Sampai hari ke-68, sekitar 2.000 orang diantaranya termasuk satuan militer battalion Azov masih mencoba bertahan atau terperangkap di bunker-bunker dan jalur-jalur bawah tanah di kompleks pabrik baja Azovstal di kota Mariupol.
Di bawah supervisi PBB dan Palang Merah Int’l, ungkap Associated Press, akhirnya 100 orang warga sipil berhasil dievakuasi walau pasukan terdepan Rusia yang sudah beradai di pinggir kota Mariupol, Minggu (1/5) mulai lagi menghujani pabrik dengan artileri.
Sementara di Kiev, Ketua Parlemen AS Nancy Pelosi dan dua anggota parlemen dari fraksi Partai Demokrat bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam kunjungan yang sebelumnya dirahasiakan.
“Perang bakal berakhir dan kami akan keluar sebagai pemenang,” seru Presiden Zelenskiy dalam wawancara dengan koran Yunani Kathimerini, seraya menambahkan, perang mengakibatkan kerusakan berbagai sarana dan prasarana di wilayah Ukraina sekitar 60 miliar dollar AS (sekitar Rp923 triliun).
Zelenskiy juga mengklaim, pasukanya telah menghancurkan sekitar 1.000 tank Rusia, 2.500 kendaraan lapis baja, dan hampir 200 pesawat tempur Rusia di berbagai front pertempuran di wilayah negaranya.
Komitmen Dukungan AS dan Jerman
Sementara Pelosi dan tiga politisi Partai Demokrat AS menyatakan dukungan berkelanjutan Kongres Washington untuk memberikan paket bantuan militer senilai 33 miliar dollar AS (sekitar 468,6 triliun).
Sukses pasukan Ukraina menerapkan taktik perang kota menghadang invasi mesin perang raksasa militer Rusia, juga tidak lepas dari gelontoran persenjataan dari Barat terutama AS.
Rudal anti tank Javelin buatan AS dan N-LAW (Inggeris dan Swedia) misalnya, cukup ampuh memangsa tank-tank Rusia, juga rudal-rudal panggul Stinger (AS) untuk merontokkan pesawat tempur Rusia yang coba-coba terbang rendah.
Setelah 67 hari pertempuran, selain bangunan prasarana dan sarana publik di berbagai wilayah di Ukraina hancur, sekitar 5,5 juta penduduk Ukraina dari berbagai wilayah juga bertebaran untuk menyelematakan diri ke negara sekitarnya.
Sebagian besar pengungsi (sekitar 3,1 juta orang) menyeberang ke Polandia, Rumania dan Ceko, bahkan ada juga yang mengungsi ke Jerman, Inggeris dan Itali.
Sementara Presiden Zelensky di akun twitter berbahasa Ukraina (1/5), menyampaikan terima kasihnya pada AS yang telah membantu melindungi kedaulatan dan integritas teritorial negaranya.
Dari rekaman yang diunggah di twitter itu tampak Zelenskiy berjabat tangan dengan Pelosi dan anggota parlemen AS lainnya, termasuk Adam Schiff dari California, Jason Crow dari Colorado dan Jim McGovern dari Massachusetts.
Pasokan persenjataan juga dijanjikan oleh pemerintah Jerman seperti yang disampaikan oleh Kanselir Jerman Olaf Scholz yang menyebutkan, pemerintahnya akan memberikan persenjataan hingga Ukrana mampu membela diri dari serangan Rusia.
Sebaliknya, Menlu Rusia Sergey Lavrov menegaskan, operasi militer khusus Rusia di Ukraina bakal selesai segera setelah tujuan tercapai yakni mempertahankan Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Luhanks (LPR) yang ingin melepaskan diri dari Ukraina.
Lavrov juga mengingatkan bagi negara-negara yang mendukung Ukraina jika dijadikan sasaran yang sah oleh pasukan Rusia, mengingat senjata-senjata itu (menurut dia) digunakan oleh rezim pemerintah yang mengobarkan perang terhadap rakyatnya sendiri.
Perang Ukraina agaknya bakal berlarut-larut jika Ukraina yang sejauh ini Cuma mendapatkan persenjataan untuk membela diri, akan menerima persenjataan untuk melancarkan offensif.
Sebaliknya, Rusia selain semula tak menduga bakal menghadapi perlawanan berat Ukraina, juga menanggung beban ekonomi semakin berat untuk membiayai perang akibat sanksi dan tekanan yang dilakukan AS dan negara-negara Barat lainnya.
Ceko misalnya sudah menjanjikan akan memasok rudal-rudal pertahanan udara jarak jauh S-300 eks-Soviet yang bisa mendeteksi puluhan obyek di udara sekaligus pada jarak 300 Km, sementara Perancis akan memasok artileri swagerak kaliber 155MM Caessar.
Ending perang Rusia vs Ukraina belum bisa diprediksi, waktu akan membuktikannya nanti. (AP/AFP/Reuters/ns)




