ALLAHU Akbar Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa ilaaha illalaahu, wallahuallahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamdu…,” begitulah suara takbir dan tahmid yang selalu kunantikan setiap malam Syawal. Meski “hari kemenangan” itu hadir saban tahun, kami tak pernah bosan dan selalu merindukan. Ya, hari raya Idul Fitri memang hari yang sangat menyenangkan bagi kalangan anak-anak.
Karena apa? Itu hari yang selalu banjir dengan makanan enak, itu hari yang memungkinkan kalangan anak kecil selalu dapat duit dari famili dan tetangga kanan kiri. Di Idul Fitri pula, anak-anak kecil selalu menikmati baju-baju baru. Maklum, orangtuaku tak pernah memanjakan anak-anaknya. Aku, kakakku dan adik-adikku, hanya menikmati baju baru manakala Lebaran tiba, ditambah ketika peringatan 17 Agustus. Dengan baju baru warna biru putih, aku ikut upacara tujuh belasan di Lapangan Ngombol. Daerah Ngombol adalah kecamatan di Kabupaten Purworejo (Jateng) bagian selatan. Di daerah itulah penulis menjalani kehidupan di masa kecil (1960-an).
Jika waktunya omber, biasanya baju-baju kami dijahit oleh Bulik adik daripada ayahku. Tapi jika waktunya mepet, cukup beli di Pasar Jenar atau Purwodadi. Pernah saya dibelikan baju model mantrus, yang biasa dipakai pelaut itu. Aku ingat betul, warnanya hijau kecoklat-coklatan macam kain dril, ada dasi kecil, di leher belakang berjumbai-jumbai empat persegi. Kata simbok itu baju potongan Mbaledana. Buat kampungku kala itu, baju beli di Pasar Mbaledana Purworejo sudahlah sangat top.
Menjelang malam takbiran, bapak sibuk membuat “lampion” ala pedesaan, yang sepertinya sudah menjadi tradisi turun temurun. “Kap”-nya terbuat dari lembaran bonggol pisang yang dibentuk melingkar, dengan garis tengah 20 Cm dan ketinggian sekitar 20 Cm. Di dalamnya ditaruh dian yang cukup cukup terang nyalanya, sehingga dilihat dari balik “lampion” itu menjadi nampak indah sekali. Bapak selalu memasangnya di depan rumah dua buah, dan di sumur satu buah.
Aku sendiri bersama teman-teman selalu menyiapkan oncor, yakni penerangan dari bambu yang diisi minyak tanah. Ketika malam takbiran tiba, kami menyalakan oncor itu bersama-sama, baris berbanjar-banjar sepanjang jalan besar di desaku. Suasananya demikian indah, mulut kami sepanjang jalan selalu meneriakkan takbir yang lafalnya asal-asalan. “Abaraloh, abaraloh….,” begitu kami mengucapkan.
Rumah Pak Kaum yang selama sebulan penuh kami kunjungi, malam itu menjadi sepi anak-anak. Tak ada lagi salat tarawih. Di tempat itu gantian dibanjiri para orangtua yang akan membayar zakat fitrah. Sejak habis Isya hingga menjelang subuh, Pak Kaum nyaris tak tidur melayani tamu yang membayar fitrah. Di masa itu memang belum dikenal Panitia Zakat Fitrah. Semua dikendalikan langsung oleh Pak Kaum Amat Soderi sendiri.
Simbokku di rumah malam itu juga sibuk di dapur, masak- memasak mempersiapkan bancakan kolektif yang akan digelar di rumah Pak Kaum Amat Soderi besok pagi sebelum salat Ied. Menunya satu tenong penuh, terdiri dari nasi ambeng, ada mie, telur mata sapi, peyek dan ingkung ayam. Di rumah tetangga, semua juga memiliki kesibukan sama, sehingga ketika saling kirim bancakan tersebut, di meja rumahku demikian penuh kiriman nasi bancakan. Di saat itu aku sudah tak berselera lagi untuk makan.
Dalam usia balita, malam takbiran itu selalu kutunggu segera usai, terbit fajar dan tibalah hari raya Idul Fitri itu. Aku sudah demam pakai baju baru, aku sudah ingin sekali mengenakan sepatu Bata lungsuran dari Lik Ismi. Meski ukurannya terlalu besar buat kakiku, aku senang bukan main. Di malam takbiran itu sepatu kupakai juga sampai kebawa tidur, sehingga simbokku kemudian melepasnya ketika aku telah didekap mimpi.
Di kampungku, 1 Syawal tahun hijriah disebut udhunan, juga riyaya, bada atau bakda. Hari pertama, yang diyakini kalangan santri sebagai hari jatuhnya 1 Syawal, nampak sepi karena hanya salat Ied di rumah Pak Kaum. Hari kedua, yang diyakini orang Islam abangan atau kejawen sebagai hari pertama bulan Syawal (Aboge = Alip Rebo Wage), justru baru nampak ramai. Orang saling bersilaturahmi ke rumah antar tetangga, saling bermaaf-maafan dari yang muda kepada yang tua dan orangtua.
Dalam istilah populer, tradisi semacam itu disebut halal bihalal, yang konon diperkenalkan pertama kali oleh KGPA Mangkunagoro I (1725- 1795). Tapi di kampungku orang menyebutnya: balalan. Sedari masa kecilku, tradisi halal bihalal untuk generasi muda telah terpangkas erosi, artinya lirik dan kalimatnya yang santun, panjang dan berbahasa Jawa halus itu mulai ditinggalkan. Diganti sekadar kata minal aidzin wal faizin, bersalaman atau cium tangan, sudahlah selesai.
Kuperhatikan, tinggal satu orang bernama Bu Sitas Marmono (1970-an) sajalah yang selalu tertib mengikuti tradisi lama, ketika halal bihalal kepada bapak. Setelah duduk berhadapan di risban yang sama, sementara keempat tangan mereka terus bersalaman, mulailah dia mengutarakan maksud kehadirannya.
Katanya kemudian, “Kula nuwun Mas Tjokro, sowan kula wonten ngarsanipun panjenengan, sepindhah tuwi kasugenganipun Mas Tjokro. Ndungkap kaping kalih, sarehning punika dinten riyadi, kula nyuwun pangapunten, ngaturaken sedaya dosa kalepatan, lampah kula satindak, wiraos kula saklimah ingkang mboten angsal idinining sarak, mugi Allah Ta’ala nglebur dosa kula ing dinten riyadi punika, mukaramah saking Mas Tjokro (permisi Mas Tjokro, kehadiran saya ke hadapan kangmas, pertama untuk mengabarkan kesehatan Mas Tjokro. Yang kedua, berhubung ini hari raya Idul Fitri, mohon maaf atas segala dosa yang saya perbuat, sebersit perasaan di dalam hati, yang kesemuanya tak dibenarkan hukum agama, se- moga Allah Swt menghapus dosa saya di hari Lebaran ini lewat doanya Mas Tjokro)…..”
Lalu bapakku pun menjawab: “Oh inggih Dhik Marmono, dhawah sami-sami, sedaya aturipun adhik kula tampi. Semanten ugi kula ingkang dhawah sepuh uga gadhah kalepatan utawi dosa, mugi-mugi Allah Ta’ala maringi pangapunten sarta nglebur dosa kita sedaya ing dinten riyadi pu- nika. Sedaya dosa kabucala wonten seganten ler lan seganten kidul (oh ya Dik Marmono, sama-samalah, segala maksud adik kuterima. Demi- kian juga saya sebagai orang yang lebih tua juga punya kesalahan, semoga Allah Swt memberikan maaf dan menghapus dosa kita semua pada hari Lebaran ini. Segala dosa dibuang ke laut utara dan selatan).”Ini suasana yang sangat mengesankan, tapi sekarang sudah tinggal kenangan. Baik mereka sebagai pelakunya, maupun tradisi itu sendiri.
Buat anak kecil sebagaimana aku dan kawan-kawan, Lebaran di hari kedua tersebut targetnya mencari sangu kepada orang- orangtua kerabat dekat. Perburuan itu hingga sore hari. Tapi ketika dihitung di rumah, ternyata jumlahnya tak pernah mencapai “target”. Dibanding perolehan teman-temanku, duit sanguku kalah jauh. Ketika kutanyakan hal itu pada bapak, barulah jelas. Ternyata orang-orang memberikan sangu lihat-lihat juga status ekonomi orangtuanya. Karena bapak dianggap keluarga lebih mapan, mereka memberinya lebih sedikit. Bila temanku Rp 2,- misalnya, aku hanya disangoni Rp 1,- Inilah sebuah “ketidak-adilan yang tak bisa kuirikan.
Aku agak terhibur ketika banyak tamu dari Jakarta pada hari Lebaran. Mereka ketika pulang kampung sering memberikan sejumlah uang padaku. Bahkan baju baru juga pernah dibelikan. Ya, di mata anak-anak, orang Jakarta demikian hebat. Mereka begitu keren dengan baju-bajunya yang bagus, dengan sepatunya yang hitam mengkilat. Lebih-lebih rokok Kansas atau Escort-nya, dari jauh sudah tercium begitu sedap. (Cantrik Metaram).





