193 Juta Penduduk Dunia Kurang Pangan

Negara-negara maju tidak mempermasalahkan lagi soal pangan, padahal 193 juta jiwa di 53 negara di belahan bumi selatan masih kesulitan mendapatkannya.

JIKA warga negara-negara di belahan bumi utara sudah tidak mempemasalahkan lagi urusan pangan, sekitar 193 juta orang di 53 negara di selatan masih bergelut untuk mencukupinya.

Hal itu tercermin dari laporan Global Krisis Pangan yang dirilis berama oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Program Pangan Dunia (WFP) serta Uni Eropa,Selasa (3/5).

Dibandingkan 2020, menurut laporan tersebut, kerawanan pangan meningkat 20 persen atau bertambah sekitar 40 juta menjadi 193 juta dari sekitar 7,9 miliar penduduk dunia.

Jumlah penduduk yang kekurangan pangan tahun 2022, menurut laporan tersebut, diprediksi bakal meningkat lagi akibat akumulasi antara cuaca ekstrim yang membuat gagal panen, dampak pandemi Covid-19 dan perang Rusia dan Ukraina.

Pandemi Covid-19 berdampak bagi 30,2 juta penduduk di 21 negara, sementara cuaca ekstrim menyebabkan kekurangan pangan akut bagi 23,5 juta penduduk di delapan negara Afrika.

PBB sendiri mendefinisikan, kerawanan pangan akut sebagai ketidakmampuan seseorang untk mengosumsi cukup makanan untuk menopang hidup mereka  atau tingkat kelaparan yang bisa memicu kematian.

Kerawanan pangan makin parah terjadi di negara-negara yang mengalami konflik internal berkepanjangan seperti Afghanistan, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, Nigeria, Sudan Selatan, Suriah dan Yaman.

Negara di ujung tanduk Afrika, Somalia diprediksi akan mengalami krisis pangan terburuk pada tahun ini akibat kemarau panjang seperti yang terjadi pada 1991.

Sementara Perang di Ukraina akibat invasi Rusia sejak 24 Feb. lalu yang sampai hari ini makin meluas, diperkirakan bakal memperburuk situasi kerawanan pangan seperti Afghanistan, Somalia, Etiopia, Haiti dan Yaman.

Pasalnya, negara-negara tersebut sangat bergantung pada pasokan gandum dan sejumlah makanan pokok lainnya pada Rusia dan Ukraina.

Somalia misalnya pada 2021 menggantungkan 90 persen pasokan gandum dari Rusia dan Ukraina, sedangkan Kongo 80 persen, sementara Madagaskar mengimpor 80 persen kebutuhan pokok dari kedua negara.

FAO mengingatkan, jika komunitas int’l tidak segera melakukan aksi secara signifikan, skala krisis pangan bakal meluas, karena bantuan pangan harus segera didistrbusikan bagi jutaan penduduk dunia yang tidak bisa mendapatkan makanan setiap harinya.

Solidaritas dan uluran tangan harus segera diberikan pada saudara-saudara kita yang kurang beruntung, menghadapi masalah kerawanan pangan. (AP/AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement