
PALING tidak, enam dari total 42 unit pesawat tempur Rafale yang dibeli dari Perancis untuk memperkuat skadron TNI-AU akan segera tiba dan selebihnya bakal datang secara bertahap.
Pesawat tempur generasi 4.5 berharga sekitar 115 juta dollar AS atau sekitar Rp1,6 triliun per unit) tergantung dari opsi perlengkapan dan persenjatannya semula adalah salah satu pilihan antara F-15 EX Joint Strike Eagle atau F-16 Viper buatan AS, Sukhoi SU-35 buatan Rusia atau Typhoon buatan konsorsium Eropa.
Pesawat-pesawat sekelas F15, F-16 atau Rafale diperlukan untuk menjaga kedaulatan wilayah RI dari ancaman musuh mengingat sejumlah pesawat yang ada, seperti F-16A/B atau seri C/D serta Sukhoi SU-27 dan SU-30 sudah terbilang tua, berusia di atas 10 tahun.
Rafale juga dikenal sebagai pesawat multi peran karena dapat digunakan untuk berbagai misi. Misalnya, pencegatan, pengintaian udara), dukungan darat, antikapal permukaan dan kapal selam) dan misi pencegahan serangan nuklir.
Pesawat yang muncul pertama kali pada 2001 itu hingga kini sudah digunakan oleh sejumlah negara, antara lain, Qatar, Yunani, India, Uni Emirat Arab, Kroasia, dan Mesir.
Sebagai pesawat tempur generasi 4.5 Rafale memiliki radar Active Electronically Scanned Array (AESA) yang berjangkauan luas dan bisa mengendus berbagai obyek sekaligus serta memiliki kemampuan siluman (stealth).
Berkecepatan sampai 1,8 Mac, Rafale mampu menggembol berbagai rudal udara ke udara, udara ke darat dan udara ke permukaan buatan AS (seperti AIM-9 Sidewinder, AMRAAM- 120), Maverick dan Harpoon, serta bom pintar MK-82.
Penambahan skadron TNI-AU dengan 42 unit Rafale tentu akan memperkuat efek deterent (penggentar) agar musuh tidak menganggap enteng, melanggar wilayah udara RI semau-maunya.




