Akhirnya, Warga Pulau Ende Bisa Menikmati Listrik 24 Jam

Ilustrasi

NTT – Sejak tahun 1984 listrik menyala di Kecamatan Pulau Ende, Nusa Tenggara Timur, hanya 12 jam saja. Namun kini, listrik sudah bisa dinikmati 24 jam.

Sudah satu minggu, tepatnya Jumat (28/4/2016), diberitakan RRI, Bupati Ende Ir.Marselinus Y.W Petu didampingi General Manajer PT.PLN Wilayah NTT Richard Safkaur mendeklarasikan listrik nyala 24 jam di Kecamatan Pulau Ende.

Bupati Marsel Petu mengatakan ‎pencanangan listrik 24 jam di Kecamatan Pulau Ende merupakan salah satu upaya pengembangan pembangunan kelistrikan yang dilaksanakan oleh pemerintah bekerja sama dengan manajemen PT.PLN Area Flores Bagian Barat-FBB.

Menurutnya program kelistrikan merupakan salah satu program prioritas pemerintah daerah selain jalan dan air minum bersih atau lebih dikenal dengan Jalan,Air dan Listrik atau JAL selama periode kepemimpinanya bersama wakil bupati Drs.Haji Djafar Achmad.

“Saya harapkan agar masyarakat khususnya pelanggan memanfaatkan secara baik listrik yang ada untuk peningkatan usaha ekonomi rumah tanggah,” ujarnya.

Bupati Marsel Petu menambahkan berbagai usaha dapat dikembangkan oleh masyarakat terutama nelayan bisa mengawetkan hasil tangkapannya memanfaatkan listrik yang ada.

Sementara itu General Manajer PT.PLN Wilayah NTT Richard Safkaur pada kesempatan yang sama mengatakan jumlah pelanggan di Kecamatan Pulau Ende mencapai seribu 536 pelanggan semuanya sudah menggunakan listrik pintar atau listrik pra bayar.

Dirinya mengharapkan agar pelanggan menera‎pkan perilaku hemat menggunakan listrik guna menghindari pemadaman listrik pada saat beban puncak malam hari.

Kepada Detikcom, Jumat (6/5/2016) dalam keterangan tertulisnya ia pun menyampaikan rasa bahagianya, “Senang sekali, setelah 32 tahun, akhirnya masyarakat bisa menikmati listrik selama 24 jam, Karena itu, manfaatkan listrik secara baik dan bijak, seperti moto PLN ‘listrik untuk kehidupan yang lebih baik’. Gunakan listrik untuk kegiatan-kegiatan produktif dan tetap menggunakan dengan berhemat,” ujar Safkaur.

Advertisement