
KONFLIK antara dua bangsa serumpun, China dan Taiwan yang belum teratasi, kini memanas lagi karena kedua belah pihak mengklaim Selat Taiwan sebagai miliknya.
Jubir Kemlu Taiwan Joanna Ou dari Taipei (14/6) pada CNA mengemukakan, Selat Taiwan berada lebih dari 12 mil laut (12,2 Km) dari garis pantainya, sehingga mengacu puda hukum int’l, wilayah tersebut masuk Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE).
Jalur laut yang memisahkan China dan China daratan ini menjadi sumber ketegangan antara kedua abangsa serumpun sejak pemisahan diri Taiwan dari China pada 1949.
Berdasarkan konvensi Hukum Laut int’l PBB (UNCLOS), kedaulatan setiap negara berada 200 mil laut dari garis pantainya walau harus melepaskan jarak lebih dari 12 mil laut sebagai ZEE yang bisa dilayari kapal dagang dan lintasan kapal patroli asing.
Taiwan merasa sudah mematuhi klausul UNCLOS termasuk membiarkan kapal-kapal perang AS melintas di perairan tersebut dan menganggap keliru jika adanya klaim selat itu milik negara tertentu.
Pernyataan Taiwan itu dilontarkan untuk merespons klaim Jubir Kemlu China Wang Wenbin sebelumnya (13/6) yang menyebutkan, Selat Taiwan sesuai hukum yang berlaku adalah milik China.
“Konsep yang menyebutkan Selat Taiwan milik internasional, keliru, memanipulasi fakta dan merupakan upaya untuk mendiskreditkan kedaulatan China, “ tandasnya.
Wenbin juga menganggap kapal-kapal perang Amerika Serikat yang lalu-lalang seenaknya di Selat Taiwan jelas merupakan provokasi terhadap negaranya.
Menurut catatan, selain kapal-kapal perang AL AS, sejumlah negara mitranya seperti Inggeris, Perancis, Kanada dan Australia juga acap kali mengirimkan kapal-kapalnya untuk melintas di selat tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Para petinggi Beijing sendiri berkali-kali menyatakan akan merebut kembali Taiwan pada 2027, namun sejauh ini belum terlihat tanda-tanda selain upaya untuk terus memupuk kekuatan militernya.
Baik Taiwan mau pun China selain saling melontarkan gertakan, juga melakukan latihan militer untuk menunjukkan kesiapan masing-masing
Perimbangan Militer
Taiwan jika dihadapkan dengan raksasa China yang saat ini terus membangun militernya menjadi kekuatan global bagaikan legenda “David dan Goliath” di era Palestina tempo doeloe.
Ancaman demi ancaman dilontarkan China untuk merebut kembali Taiwan yang diklaim sebagai wilayahnya tersebut, sebaliknya Taiwan juga terus mengasah kemampuannya untuk mempertahankan diri.
Mengacu pada ranking kekuatan militer dunia versi Global Firepower, posisi China dan Taiwan bagai langit dan bumi. China bertengger pada ranking ke-3 setelah Amerika Serikat dan Rusia, sementara Taiwan di posisi ke -22.
Anggaran militer China pada 2022 tercatat 230,16 miliar dollar AS (sekitar Rp3. 315 triliun atau setara hampir dua kali APBN RI), sebaliknya Taiwan mengalokasikan 16,8 miliar dollar AS (sekitar 242 triliun).
Ambisi China menguasai dunia, tampak nyata, mulai dari membeli persenjataan ex-Uni Soviet, mengopi paste atau mendapat lisensi, lalu membuat sendiri, bahkan kini menjadi negara pengekspor alutsista utama.
| Arsenal nuklir China menurut laporan intelijen Barat terdiri dari 50-an rudal balistik antarbenua (ICBM) Dong-Feng (a.l. DF-5 dan DF-41) berjangkauan 15.000 Km dan dan sekitar 1.200 rudal jarak menengah.
AU China mengoperasikan sekitar 4.200 pesawat berbagai jenis, sebagian copypaste MiG-21, MiG29, Sukhoi SU-27 dan SU-30 serta membuat sendiri pesawat tempur seperti siluman J-21 Chengdu dan 1.170 helikopter. Matra darat China a.l. memiliki 13.500 tank dan 6.000-an panser, 2.650 kendaraan peluncur roket, 10.000 pucuk artileri dan berbagai perlengkapan tempur utama lainnya. Di Laut, China juga lebih berjaya dengan sekitar 770 kapal berbagai jenis seperti dua kapal induk (Liaoning dan Shandong), 36 destroyer, 52 fregat, 50 korvet, 76 kapal selam dan 285 aneka jenis kapal pendukung lainnya.
Tidak terbayangkan kerusakan yang ditimbulkannya jika perang antara China dan Taiwan tak terelakkan, karena akan menyeret keterlibatan banyak pihak. Negara-negara Barat berintikan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pimpinan AS, juga Jepang dan Korea Selatan di belakang Taiwan, sebaliknya, China mungkin didukung Rusia. “Kalah jadi abu, menang jadi arang”, skenario ini yang bakal terjadi jika kedua belah pihak tidak bisa menahan diri.
|




