
ANGKATAN laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) sebagai “blue-water navy” atau kekuatan laut global di laut dalam, makin Tangguh dengan masuknya kapal induk baru “Fujian” ke dalam jajarannya.
Fujian, menurut Reuters (17/6) serratus persen produk dalam negeri, berbobot 80.000 ton atau lebih besar dari pendahulunya, Shandong dan Liaoning yang berbobot 60.000 ton.
Shandong yang merupakan kapal induk kedua AL China, juga buatan dalam negeri, sementara kapal induk pertama Liaoning adalah buatan Uni Soviet di galangan Ukraina yang pembuatannya diteruskan China setelah mangkrak pasca bubarnya Soviet.
Dengan bobot tersebut, Fujian mendekati kapal-kapal induk AL Amerika Serikat dari kelas Ford (termasuk USS Gerald Ford) berbobot 100.000 ton dengan kapasitas 90-an pesawat tempur.
Berbeda dengan kedua kapal pendahulunya yang menerapkan sistem sky-jump atau tanjakan langsung untuk landas pacu pesawat, Fujian menggunakan pelontar elektromagnit, sehingga jarak lepas landas lebih pendek.
Peluncuran Fujian di galangan Shanghai (17/6) bersamaan waktunya dengan memanasnya situasi di Selat Taiwan akibat saling klaim antara Taiwan dan China dan pernyataan-pernyataan pemimpin China yang bertekad merebut kembali Taiwan pada 2027.
Situasi kawaan juga memanas terkait klaim China atas wilayah yang disebut sebagai “nine dash line) di Laut China Selatan dan juga pembentukan kerjasama militer AUKUS (AS, Inggeris dan Australia) di Indo Pasifik.
Kehadiran Fujian, menurut koran setempat The Global News, memainkan peran vital untuk menjaga kedaulatan, integritas dan pembangunan China terkait dengan Taiwan yang melepaskan diri pada 1949 namun masih diakui sebagai wilayahnya.
Dengan anggaran militer sebesar 230,6 miliar dollar AS (setara Rp3.115 triliun) menurut the Global Firepower 2022, China atau kedua setelah AS, China terus mengembangkan kemampuan militernya.
Sebagai kekuatan “blue water navy”, AL China selain memiliki tiga kapal induk, mengoperasikan satu penjelajah, 32 perusak, 48 fregat, 51 korvet, 57 pengangkut amfibi, 71 kapal selam (56 diesel, sembilan tenaga nuklir dan enam berpeluncur rudal balistik).
Menurut pihak Barat, China yang memiliki sekitar 50 sampai 60 hulu ledak nuklir, juga terus mengembangkan rudal-rudal balistik antarbenua (ICBM) seri Dong Feng (seri DF5 – DF41) yang sebagian bisa menjangkau wilayah timur AS dan pesawat-pesawat tempur siluman J-21 Cheng-du.
Selain AS dan Rusia, China ke depan diperkirakan bakal meramaikan persaingan global yang memicu polarisasi antarnegara.
RI sebagai negara bedaulat dengan belasan ribu pulau dan puluhan ribu Km garis pantai serta dikelilingi kawasan laut, harus memiliki kekuatan militer yang mumpuni untuk menghadapi berbagai gejolak kawasan.
(Reuters/AP/AFP/ns)




