
NILAI-nilai kemanusiaan universal yang inklusif harus dikedepankan di tengah semangat globalisasi di era now tanpa membedakan pemerintahan, ideologi negara, kawan atau lawan.
Hal itu tercermin dari aksi bantuan kemanusiaan yang dikirimkan bagi korban gempa bumiĀ yang terjadi di Afghanistan yang menewaskan sekitar 1.000 orang, Kamis (23/6).
Pemerintah Korea Selatan menyiapkan komitmen bantuan senilai satu juta dollar AS, sementara pemerintah Jepang sedang mengoordinasikan langah-langkah dukungan terkait apa yang dibutuhkanĀ Ā Afghanistan.
AS sendiri yang menarik pasukannya, medio Agustus 2021 sehingga mempercepat kejatuhan Afghanistan ke tangan rezim garis keras Taliban, ambil bagian untuk mememberikan bantuan melalui Lembaga bantuan āintl (USAID).
āAS berkomitmen melanjutkan dukungan bagi rakyat Afghanistan, ā kata Penasehat Keeamanan pemerintahan Presiden Joe Bidden, Jake Sullivan.
Sementara PBB melalui Program Pangan Dunia (WFP) dilaporkan akan mengirimkan peralatan logistik ke wilayah yang terdampakĀ Ā untuk memberikan bantuan awal bagi 3.000 keluarga.
Wakil Direktur WFP Gordon Craig seperti dikutip AP dan AFP menilai, gempa bumi hanya memperparah beban kemanusiaan yang sudah mereka derita sebelumnya di tengah beberapa dekade konflik internal, kekeringan parah dan keterpurukan ekonomi.
Afghanistan seolah-olah negeri yang tidak lepas dari konflik, sejak pendudukan Uni Soviet pada 1990 untuk mendukung pemerintahan, sampai intervensi Amerika Serikat sejak kasus pengeboman WTC (11 Sep. 2001) dan gonta-ganti rezim sampai pada alih kekuasaan oleh rezim Taliban.
Penarikan pasukan AS dan NATO yang ditempatkan untuk mendukung pemerintah Afghanistan pasca tragedi WTC pada 15 Agustus 2001 mempercepat jatuhnya negeri itu ke tangan rezim garis keras Taliban yang berujung keterkuncilan dari masyarakat intāl.
Wakil PBB untuk Taliban, Ramiz Alakbaroz mengemukakan, sejauh ini rezim Thaliban belum secara resmi minta bantuan intāl atau kepada PBB untuk memobilisasi bantuan intāl , namun memberikan jaminan akses penuh pada PBB untuk menjangkau lokasi bencana.
Sebaliknya, sejumlah pejabat lokal Afghanistan berinisiatif untuk menggelar konferensi pers untuk meminta dukungan dan bantuan dari komunitas intāl.
Namun sejumlah pihak menilai Afghaistan akan mengalami kesulitan mengatasi bencana alam kali ini karena negeri itu tercerabut dari komunitas intāl pasca pengambil alihan kekuasaan oleh Thaliban.
Paling tidak seribu orang tewas dan 1.500 terluka akibat gempa berkekuatan 6,1 Skala Richter yang mengguncang Afghanistan timur (22/6) lalu.
Jumlah korban diperkirakan terus bertambah terutama di lokasi terpencil di empat distrik di Provinsi Paktika yakni Distrik Gayan, Neka, Barmal dan Zirok serta Distrik Spiri di Provinsi Khost.
Persoalan kemanusiaan, memang selayaknya dikedepankan ketimbang politik atau isu-isu lainnya (AP/AFP/ns)




