Puncak Covid-19 Akhir Juli

Puncak serangan Covid-19 didominasi subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 diperkirakan akhir Juli.Saat ini penyebaran harian sudah merambat naik di atas 3.000 kasus sehari. Waspada dan patuhi prokes!

PENYEBARAN Covid-19 di Indonesia yang didominasi virus SARS-CoV-2 subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 asal Afrika Selatan diperkirakan akan mencapai puncaknya akhir Juli.

Dalam beberapa hari terakhir in (12 – 14 Juli), penambahan paparan harian Covid-19 sudah tembus di atas 3.000 kasus (3.361, 3.822 dan 3.458 kasus), padahal awal Mei lalu, trennya sudah turun terus, sampai yang terendah 107 kasus (3 Mei).

Menkes Budi  Gunadi Sadikin memperkirakan, puncak Covid-19 pada akhir Juli nanti diperkirakan mencapai sekitar 20.000 kasus per hari, masih sepertiga, di bawah puncak Covid-19 saat didominasi varian Delta Yakni 64.718 kasus (16 Feb. lalu) dan 2.069 kematian (27 Juli 2021).

“Jika melihat pola penyebaran yang terjadi di wilayah asalnya (Afrika Selatan), puncak penyebaran virus subvarian Omicron BA4 dan BA5, sekitar sepertiga dari puncak serangan virus Delta (20.000 : 64.718 kasus).

Dari pola yang terjadi di Afsel, puncak serangan virus Omicron terjadi sekitar satu bulan setelah kasus pertama terdeteksi, sehingga di Indonesia, kasus pertama terdeteksi 6 Juni, sehingga puncak penyebarannya bisa diperkirakan pada akhir Juli.

Jadi, lonjakan penyebaran varian Omicron saat ini, bukan karena akibat peningkatan mobilitas publik menyongsong lebaran lalu, tetapi karena munculnya varian dan subvarian Omicron baru.

Berbeda dengan virus Delta dengan gejala berat dan tingkat kematian tinggi, varian Omicron (termasuk subvarian BA4 dan BA5) bergejala ringan, bahkan terkadang tanpa gejala, namun tingkat penularannya tinggi, bisa menginfeksi ulang,  tidak terdeteksi sistem imunitas tubuh, walau fatalitas atau risiko kematiannya rendah.

Subvarian Baru Lagi

Namun yang harus diwaspadai, varian Omicron begitu cepat bermutasi sehingga terbentuk sub-sub varian baru dengan karakteristik berbeda dari asalnya.

Konsorsium Imunologi Genomic SARS-CoV-2 India melaporkan sudah  mendeteksi subvarian Omicron  lebih baru (BA2.74, BA2.75 dan BA2.76), sedangkan China mencatat kemunculan subvarian BA5.31.

BA2.75 sejauh ini juga sudah terdeteksi di 10 negara termasuk Australia, Jerman, Inggeris dan Kanada dan yang dicemaskan para epidemiologi, sejumlah besar subvarian baru memisahkan dari varian Omicron induknya.

Sejauh ini kedua subvarian baru belum terdeteksi di Indonesia walau bukan tidak mungkin, mengingat tingginya mobilitas penduduk dunia, akan menyebar juga.

Tetap waspada, patuhi prokes!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement