DEPOK – Salamun (17), remaja asal Kota Kembang berkisah tentang hidupnya yang berat selama dua tahun terakhir, sebelum akhirnya mendapat beasiswa dari Ekselensia Tahfizh (eTahfizh) School milik Dompet Dhuafa.
Dia berkisah, sebelumnya sempat mendaftar ke salah satu Pondok Pesantren (jenjang SMA) di Depok, pasca kelulusannya dari Pondok Pesantren (jenjang SMP) sebelumnya.
“Sudah diterima, tapi karena Corona, penerimaan itu dibatalkan. Jadinya, saya libur (nganggur) dulu setahun, menunggu ada pendaftaran selanjutnya,” aku Salamun, meraba ingatan momen berjuang mencari tempat pendidikan terbaiknya.
“Saat menunggu setahun itu, saya sempat jualan jas hujan. Jaga toko aksesoris motor, bantu saudara juga. Cuma 2 (dua) bulan aja, sebulannya dibayar Rp1 juta,” jelasnya lagi.
Pun dalam setahun masa ‘libur’ ia gunakan untuk membantu sang Ibu yang membuka warung klontong di rumah. Ya, giat berdagang dilakoni, sembari Muraja’ah hafalan Al-Qur’an. Sebab, kala itu ia telah mampu menghafal Al-Qur’an sebanyak 15 Juz.
“Setahun itu saya juga di rumah bantu ibu jualan, sambil Muraja’ah. Ada juga sih main sama kawan sempat naik gunung. Dulu kan awalnya sekolah di SDIT dan SMP mondok juga. Alhamdulillah, waktu lulus SMP sudah hafal 15 Juz,” imbuhnya, dikutip dari dompetdhuafa.org.
Namun kepada tim Dompet Dhuafa, Rabu (20/7/2022), Salamun juga bercerita bahwa dua tahun terakhir itu merupakan tahun terberat bagi diri dan keluarganya. Pasalnya, Salamun harus merelakan kepergian Salamah, saudari kembarnya, selama-lamanya.
“Pas kelas 3, dia sakit, terus meninggal. Gak lama, di tahun yang sama, Ayah juga meninggal,” ungkapnya, tegar.
Setelah ‘libur’ setahun berlalu, suar kabar dari kawan lama, menginformasikan tentang eTahfizh School Dompet Dhuafa. Salamun menyambutnya dengan baik. Tanpa perlu waktu lama, ia daftarkan dirinya ke eTahfizh School yang bertempat di Bumi Pengembangan Insani, Jalan Raya Parung-Bogor KM. 42, Jampang, Kemang, Bogor, Jawa Barat.
“Nah, sempat jualan jas hujan dan dapat uang, dikumpul untuk kebutuhan-kebutuhan masuk sekolah, tapi, alhamdulillah di eTahfizh dapat beasiswa,” seru santriwan penyuka mata pelajaran Bahasa Arab itu.
Kini Salamun duduk di kursi kelas 2 eTahfizh School. Selain Tahfizh, ia mempelajari Fiqih, Sirah, serta Ulumul Hadist disana. Hafalan Al-Qur’an Salamun kini sebanyak 19 Juz.
“Di keluarga saya rata-rata gak tamat sekolah. Maka saya ingin mencoba dan berusaha lebih baik, agar orang tua tenang dan senang. Saya gak tahu, tapi saya pengen jadi pengusaha sambil berdakwah. Cita-cita pengen banget bisa kuliah di Madinah,” pungkas Salamun.
Sebagai informasi, kelak akan banyak hadir kursi kosong untuk para santriwan dan santriwati di sekolah Tahfizh berbasis Wakaf dan Zakat Produktif tersebut.
Dukungan itu akan berarti melalui tautan https://donasi.dompetdhuafa.org/etahfidz/ ini. Mereka yang tidak mampu secara ekonomi namun unggul dalam intelektual dan kemauan yang tinggi, memiliki kesempatan tinggi untuk mengisi.





