
PEMANASAN suhu permukaan bumi sekitar 1,5 sampai 1,6 derajat Celsius sejak Revolusi Industri pada awal abad ke-19 lalu sampai 2040 merupakan “alarm” serius bagi kehidupan umat manusia.
Bahkan sejumlah pakar memperkirakan, kenaikan 1,6 derajat Celsius bakal terjadi sepuluh tahun lebih cepat, yakni pada 2030 dan dalam skenario terburuk, pada tahun 2100, panas permukaan bumi bakal naik sampai 3,2 derajat Celcius.
Dengan kenaikan suhu bumi setinggi itu, lebih separuh atau sekitar empat miliar dari total 7,5 miliar penduduk dunia bakal mengalami berbagai persoalan lingkungan seperti kekeringan, masalah bersih air dan lainnya.
Kantor Meteorologi Inggeris pada 18 Juli lalu untuk pertama kalinya melaporkan tingkat suhu sampai 40,3 derajat Celcius di Coningsby, wilayah tengah Inggeris, memecahkan rekor sebelumnya 38,7 derajat Celcius pada 2019.
Rekor suhu tertinggi di Inggeris tersebut tercatat di 46 stasiun d seluruh negeri itu , sementara suhu terendah juga sangat tinggi yakni 25,8 derajat Celcius di Kenley, Surrey yang tertinggi sejak 1990.
Negara-negara Eropa lainnya juga mengalami gelombang panas lebih awal sejak Juni 2022 dengan kenaikan suhu sampai 46 derajat Celcius sehingga memicu kebakaran hutan dan gagal panen akibat kekeringan.
Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), gelombang panas yag menyerang daratan Eropa akhir Juli 2022 menyebabkan lebih 1.700 kematian di Semenanjung Iberia (Spanyol) saja.
Sementara menurut catatan Earth Observatory Badan Angkasa Luar AS (NASA), lebih 9.000 rekor suhu panas terpecahkan di eluruh dunia, Juli 2022, sebanyak 6.000 diantaranya di AS.
Wilayah Indonesia sendiri tidak mengalami gelombang panas, mengingat di wilayah tropis suhu hariannya sudah panas, sehingga umumnya gelombang panas terjadi di wilayah subtropis.
Setiap penambahan suhu global akan meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas dan panas ekstrim yang akan memicu kekeringan dan kebakaran hutan atau lahan.
Jika rata-rata suhu global naik 2,7 derajat Celcius di atas suhu di era pra industri yag diprediksi akan terjadi 10 atau 15 tahun ke depan, maka gelombang panas yang muncul bisa empat kali lebih sering.
Bumi adalah milik bersama, seluruh umat manusia, sehingga kesadaran dan upaya untuk mencegah makin mamanasnya permukaan bumi harus dilakukan bersama-sama pula. (Kompas/ns)




