
ANTISIPASI dan kewaspadaan perlu ditingkatkan menyongsong cuaca ekstrim terutama angin kencang dan hujan lebat di sejumlah wilayah di tanah air di tengah pergantian musim kemarau ke musim hujan.
Kasubkoordinator Bidang Produksi Inforrmasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto akhir pekan ini mengingatkan pada pemda dan warga di wilayah rawan banjir dan longsor yang mengalami musim hujan lebih basah dari normal agar mewaspadai puncak musim hujan.
Hujan lebih awal misalnya terjadi di Jakarta, padahal seharusnya masih musim kemarau akibat kelimpahan uap air di perairan yang suhunya masih hangat dan dampak La Nina berkepanjangan, selain aktifnya Borneo Vortex dan pusat tekanan rendah yang memicu hujan lebat lebih awal (Kompas, 11/9).
Borneo Vortex adalah fenomena atmosfir di atas perairan Indonesia yang dapat mempengaruhi aktivitas konveksi di Laut China Selatan dekat ekuator saat monsoon Asia berlangsung.
Mendung dan hujan setiap hari di Jakarta, kata Siswanto, bersifat temporer, tergantung aktivitas Borneo Vortex dan pusat tekanan rendah tersebut.
Hujan berdurasi singkat pada siang hari, lanjutnya, masih bakal sering terjadi karena kelimpahan uap air hasil penguapan dari perairan sekitarnya yang masih cukup hangat suhunya.
Sebanyak 46 persen dari 326 zona musim di Indonesia akan mengalami musim hujan lebih awal dibandingkan kondisi normal, dan 18 persen atau 124 zona musim normal, sisanya 36 persen atau 76 zona musim lebih mundur.
Wilayah Jawa-Bali dan NTB akan mengalami musim hujan lebih maju pada September – Oktober dimulai sebagian wilayah Jawa Timur dan daerah pegunungan lalu diikuti sebagian besar wilayah dan pesisir utara pada November.
Seperti disampaikan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati buan lalu, penyimpangan iklim terjadi sepanjang 2022 ditandai keterlambatan awal musim kemarau dan hujan turun di atas normal di sebagian wilayah Indonesia.
Waspada dan waspada serta lakukan mitigasi bencana!




