Deteksi Cepat Demam Berdarah (Dengue)

Kehadiran alat deteksi dini demam berdarah dengue (DBD) KO-DC buata FKUI dan PT BIofarma diharapkan dapat menekan angka fatalitas penyakit akibat nyamuk aedes aegypti tersebut.

INFEKSI demam berdarah atau dengue (DBD) di Indonesia sudah terdeteksi sejak 1968 dan kasus penularannya dari waktu ke waktu fluktuatif walau cenderung meningkat.

Dari data Kemenkes, angka kesakitan (incidence rate/IR) yang pada 2008 59,02 per 100.000 penduduk, turun lebih separuhnya, menjadi 27,67 persen pada 2011, lalu merangkak naik lagi menjadi 78,85 persen pada 2016, lalu turun lagi menjadi 26,12 persen.

Data teranyar 2022 sampai minggu ke-34 tercatat 30,14 persen per 100.000 penduduk atau berarti naik lagi atau secara kumulatif tercatat 82.824 kasus dengue dengan 771 kematian, tersebar di 462 kabupaten di 34 provinsi.

Kematian akibat DBD seyogyanya bisa dicegah bila korban ditangani dengan cepat dan tepat, namun kenyataannya deteksi sering terlambat sehingga kondisi pasien memburuk.

Gejala pasien DBD tidak khas. Pada tahap awal saat terjadi penularan, antara satu sampai tiga hari, pasien mengalami gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri sendi dan nyeri di belakang bola mata.

Pada tahap kedua penularan di hari ke-4 atau ke-6, suhu tubuh justeru turun sehingga ini kadang-adang mengecoh seolah-olah pasien sudah sembuh, padahal sedang memasuki fase kritis yakni terjadinya kebocoran pembuluh darah ditandai naiknya kadar hematokrit, sebaliknya, trombocit dan tekanan darah turun.

“Jika tidak ditangani, pasien akan mengalami shock atau bleeding (pendarahan) dan jika berlangsung terus berisiko kematian. Oleh sebab itu tatalaksana infeksi DBD harus dilakukan sedini mungkin, “ tutur Staf Divisi Penyakit Tropik Infeksi Dept. Ilmu Penyakit Dalam FKUI – RS Ciptomangunkusumo, Leonard Nainggolan (6/9).

Alat Deteksi Buatan DN

Atas kerjasama antara FKUI dan PT Konimex, kit deteksi dini DBD bernama KO-DC Dengue diluncurkan 6 Sept. lalu, sehingga persoalan terkait keterlambatan melakukan deteksi bisa dihindari.

Menurut Staf Dept. Mikrobiologi Klinik FKUI Beti Ernwati, keungguan kit yang dikembangkan timnya a.l.    mampu mendeteksi DBD pada awal infeksi, dan hanya diperlukan 15 menit untuk menentukan terjadi tidaknya infeksi.

Kit bisa disimpan di suhu kamar sehingga tidak memerlukan cool chain , harganya pun relatif murah yakni Rp300.000 per box dengan 10 kit deteksi.

KO-DC juga memiliki tingkat sensitivitas dari produk lain karena dikembangkan dengan strain atau galur virus dengue yang beredar di Indonesia. Sensitivitasnya hingga 100 persen untuk pemeriksaan dari serum darah atau darah utuh (whole blood).

Secara teknis, kit dibuat dengan tehnik immunokromatografi menggunakan NSI sebagai biomarker. Antigen NSI berperan besar dalam mendiagnosis infeksi dengue, mengingat antigen tersebut disekresikan atau dikeluarkan dalam konsentrasi yang besar dalam plasma atau serum darah pasien dengue.

Antigen NSI muncul lebih awal pada infeksi dengue sehingga lebih efektif digunakan untuk deteksi dini.

Melalui temuan kit KO-DC Dengue diharapkan risiko kematian atau fatalitas pasien DBD bisa ditekan serendah mungkin. (Kompas/NS)

 

Advertisement