
LAGI-lagi otak cerdas sekaligus licik Patih Sengkuni kembali diuji. Ternyata Lomba Timbang Badan di Ngastina ini bisa menciptakan ide-ide baru untuk kejayaan negeri Gajahoya ke depan. Di sela-sela pembagian hadiah, dia lalu berbisik pada Prabu Duryudana bahwa moment ini bisa digunakan sekaligus untuk mempecundangi Pendawa Lima berkaitan dengan harus kembalinya negeri Ngastina ke tangan Pandawa.
“Maksud paman Sengkuni bagaimana, saya kok belum begitu dhong (paham).”
“Anak prabu, acara Lomba Timbang Badan ini kita tingkatkan menjadi timbang badan kolosal antara Kurawa-100 dengan Pendawa Lima. Siapa yang lebih berat timbangannya, bisa memiliki negeri Ngastina tanpa lewat Perang Baratayuda.” Kata Patih Sengkuni.
“Lalu bagaimana cara nimbangnya? Memangnya ada timbangan yang bisa muat beban untuk 100 orang?”
“Kita tinggal pesan pada pabrik kapal di PT PAL Surabaya, pasti bisa itu.” Ujar Patih Sengkuni seperti yak-yako saja.
Pada akhirnya Prabu Jakapitono bisa menerima usulan Patih Sengkuni, meski sempat salah dengar juga. Ki Patih menyebut Surabaya, Prabu Duryudana dengarnya Suralaya. Ini kan gawat bin mustakhil. Bagaimana mungkin minta pertolongan dewa kahyangan, kan Ngastina tak ada tokoh yang punya link ke Suralaya. Ada memang Adipati Karno yang dekat dengan Betara Surya, tapi sosok satu ini kan gampang-gampang susah. Maksudnya, Betara Surya baru mau kerjasama atau membantu kalau disogok dengan perempuan cantik.
Sepakat dengan keputusan tersebut, Panpel Kartomarmo lalu dipanggil Patih Sengkuni – Prabu Duryudana untuk diberi tahu tentang rencana itu. Tentu saja Kartomarmo kaget, memangnya bikin timbangan raksasa bisa 1-2 hari jadi. Berapa miliar pula yang harus dianggarkan? Jika rakyat menolaknya bagaimana? Bisa seperti DPR RI loh, bikin gordin, bikin kalender sampai pengadaan 100 TV LED batal melulu karena ditolak rakyat.
“Karena waktunya masih lama, berarti ini kan tidak satu paket dengan Lomba Timbang Badan yang sekarang, paman Sengkuni?” tanya Kartomarmo.
“Ya memang tidak satu paket, tapi ini kelanjutannya. Bila ini sukses, negara Ngastina tetap menjadi milik Kurawa-100 tanpa melalui Perang Barartayuda. Ini bisa menghemat anggaran dan menyelamatkan ribuan nyawa.” Jawab Prabu Duryudana memotong Patih Sengkuni, karena tak segera menjawab pertanyaan Panpel Kartomarmo.
Melalui pengeras suara lalu diumumkan bahwa seusai Lomba Timbang Badan ini, beberapa minggu atau bulan ke depan akan diselenggarakan Trajon Massal Kurawa-100 dengan Pendawa Lima. Ini sifatnya baru usulan, sebab semuanya tergantung pada kontingen Pendawa Lima. Jika mereka siap bisa berlangsung, bila tidak siap terpaksa terhenti pada wacana saja.
Para hadirin pun bertepuk riuh. Ini lomba paling seru dan spektakuler di abad ini. Beda dengan Pendawa Lima, mereka kaget sekali dengar rencana gila ini. Secara hitung-hitungan kasar dan telanjang pun, pastilah Kurawa-100 yang akan menang. Sebab jumlah Pendawa hanya 5 persen ketimbang jumlah bala Kurawa-100. Apa lagi tubuh mereka banyak yang gendut, cenderung tambun-bekasi-cikarang.
“Bagaimana dimas Sena, kita ikut nggak?” bisik Puntadewa.
“Nggak usahlah! Kita pasti kalah karena jumlah peserta sama sekali tak seimbang.” Jawab Sena.
“Nanti apa kata dunia?” potong Harjuna.
“Ya biarin aja, dunia kan tak bisa berkata-kata. Yang ngomong begitu kan Ditjen Pajak saja…..” jawab Bima seenaknya.
Ternyata pengumuman Panpel Kartomarmo belum selesai. Sebab kemudian dia mengatakan, hadiahnya bukan lagi uang atau emas, tapi negara. Maksudnya, siapa yang bisa memenangkan pertandingan ini akan menjadi pemilik mutlak negeri Ngastina. Jika pemenangnya Pendawa, hari itu juga negri Ngastina akan dikembalikan. Tapi jika yang menang Kurawa-100, negeri ini akan tetap dikuasai Prabu Duryudana dan seluruh bala Kurawa sampai kapanpun, tanpa melalui Perang Baratayuda.
“Kalau begini caranya kita harus ikut, mbarep kakangku.” Kata Bima kemudian.
“Tapi mana kita bisa menang, kita hanya seperduapuluhnya dari mereka.” Jawab Puntadewa.
“Bagaimana Pendawa Lima, siap menerima tantangan ini?” kata Panpel Kartomarmo masih pakai pengeras suara.
“Siappp….!” Jawab Bima asal jawab siap saja, meski belum ada persiapan.
Pertandingan Trajon Massal Kurawa-100 itu disepakati akan dilangsungkan 6 bulan kemudian, sambil menunggu pesanan timbangan raksasa dari Surabaya. Tapi Bimas Cs juga mengusulkan, agar lokasi pertandingan harus yang representative. Jangan sampai terjadi tragedi macam Stadion Kanjuruhan Malang tempo hari, ratusan nyawa jadi korban gara-gara tak siap menerima kekalahan.
Lalu di mana tempatnya? Prabu Duryudana – Patih Sengkuni mengusulkan di stadion serbaguna JIS di Tanjung Priok, sebab tempat itu bisa digunakan macam-macam. Main bola bisa, salat Idul Adha dan Idul Fitri bisa, bahkan demo nyerang pemerintah juga boleh. Sayangnya Pendawa Lima menolak lokasi tersebut, karena JIS ternyata ditolak FIFA gara-gara bangunannya masih di luar standar. Cuma bagus rumputnya doang!
“Kalau begitu, bagaimana kalau di Tegal Kurusetra saja?” usulan Prabu Duryudana.
“Nah, itu saja bagus. Tapi bikin stadion mana cukup waktu 6 bulan?” tanya Bima lagi.
“Jangankan 6 bulan, seminggu juga bisa kok. Nanti kita pakai kontraktor PT Sangkuriang atau PT Bandung Bondowoso.” Jawab Patih Sengkuni optimis.
Demikianlah, para penonton dan pemenang Lomba Timbang Badan telah kembali ke pangkalan masing-masing dengan mengantongi hadiah sejumlah uang. Harjuna dan Nakula-Sedewa misalnya, mereka menerima Rp 20 juta dipotong pajak 15 persen. Lumayan buat pasang keramik di rumah, atau bikin pagar halaman.
Sementara Harjuna dan Nakula-Sadewa berwajah ceria karena memperoleh hadiah lomba, Bima justru pusing tujuh keliling. Dia mumet karena terlanjur menyatakan siap ikut pertandingan Trajon Massal Kurawa-100. Padahal sama sekali memang tak ada persiapan. Bima terpaksa menyatakan siap, tak lain sesungguhnya hanya demi menjaga nama besar Pendawa Lima. Istilah kata, pukul dulu urusan belakangan. (Ki Guna Watoncarita).


