TMII Wajahmu Kini

Setelah seluruh kompleks TMII direnovasi, tampilan anjungan keong mas jadi tampak lebih megesankan.

SETELAH ditutup selama 10 bulan untuk direnovasi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tgl. 20 Oktober 2022 mendatang akan dibuka kembali menyambut para tamu pertemuan KTT G-20 di Bali. Setelah itu, akhir Oktober baru akan dibuka untuk umum seperti biasanya. Masuk TMII sekarang, dijamin pangling. Sesuai namanya, wajah TMII sekarang demikian indah setelah dipoles dengan biaya Rp 1,1 triliun.

Dulu anjungannya hanya 26, sesuai jumlah provinsi Indonesia waktu itu. Setelah reformasi disusul dengan pemekaran DOB (Daerah Otonomi Baru), jumlah anjungan di TMII juga menjadi 34 buah. Kini di sana terdapat pula anjungan Banten, Sulawesi Barat, Kalimantan Utara. Karena lahannya tak bertambah, maka anjungan-anjungan itu diperkecil untuk berbagi dengan provinsi lain.

Sejak berdiri tahun 1974, TMII dikelola oleh Yayasan Harapan Kita yang diketuai Bu Tien Soeharto,  karena beliau pula penggagasnya. Negara menyediakan lahannya seluas 150 Ha di daerah Lobang Buaya-Ceger yang waktu itu masih ikut Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Sedangkan anjungan dari 26 provinsi di Indonesia, menjadi kewajiban gubernurnya masing-masing untuk membangunnya. Tanpa nasi bungkus sponsor, mahasiswa mendemonya waktu itu, karena dianggap proyek mercusuar. Tapi nyatanya jalan terus dan sekarang menjadi tujuan wisata orang daerah yag sedang ke Jakarta.

Di TMII inilah setiap anjungan menyuguhkan seni dan budaya setiap provinsi. Mau nonton wayang kulit dan ketoprak, setiap malam Minggu bisa disaksikan di anjungan DIY dan Jateng. Mau lihat ludruk bisa ditemukan di anjungan Jatim. Begitu pula pengin nonton tari Kicak dan Leak bisa disaksikan di anjungan Bali. Pendek kata setiap provinsi secara periodik selalu menyajikan seni dan budaya dari daerahnya. Maka di hari Sabtu sampai minggu sore TMII selalu ramai oleh pengunjung. Karyawan TMII pun liburnya malah di hari Senin.

Ironisnya, meski yang modali negara, pemasukannya mengalir ke Yayasan Harapan Kita alias Keluarga Cendana. Maka pada pertengahan April 2021 lalu Masdjopray – Eko Kuntadi dalam chanel Youtube Prakontro meledeknya dengan judul: tamannya mini rampokannya maksi. Judul ini muncul karena selama 44 tahun mengelola TMII, Yayasan Harapan Kita tak pernah setor ke negara. Statemen Sekretaris Negara itu langsung dibantah oleh pengelola, sebab Pajak Tontonannya setiap tahun di atas Rp 9 miliar. Baru di masa pandemi Corona ngedrop menjadi sekitar Rp2,6 miliar.

Di luar Covid-19, di hari libur Sabtu Minggu dan hari-hari libur nasional, pengunjung TMII dengan tarip murah meriah memang selalu membanjir. Apa lagi di tahun 1980-an, tempat wisata  di Jakarta baru ada TIJA (Taman Impian Jaya Ancol) da Bonbin Ragunan, sehingga kehadiran TMII menjadi alternatip orang Jakarta mencari hiburan bersama keluarga. Setiap bulannya ratusan ribu orang memadati TMII.

Pada masa pemerintahan Jokowi, banyak asset negara yang dikuasai pihak lain diambil alih kembali. Salah satunya ya TMII tersebut. Sejak direnovasi Januari 2022, kini sudah mendekati finishing. TMII sekarang tampil beda. Meski bentuk gedungnya tak berubah, tapi kini menjadi lebih asri dan nyaman. Pintu selatan yang tadinya kecil saja, kini diperlebar. Areal Istana Anak-anak misalnya, kini halamannya menjadi lebih asri. Pendek kata, tak sia-sia pihak Setneg mengeluarkan anggaran renovasi TMII sampai Rp 1,1 triliun.

Selepas dari Yayasan Harapan Kita, oleh Kemensetneg TMII pengelolaannya diserahkan kepada PT. TWC (Taman Wisata Candi Borobudur dan Boko). Hebat juga perusahaan ini, begitu masuk sudah berani jadi pasukan berani tekor duluan. Sebab para pensiunan karyawan TMII yang ditelantarkan oleh pengelola sebelumnya, semua dibayarkan oleh PT TWC. Begitu juga nasib 700 karyawan yang tak dipekerjakan selama masa renovasi, tetap digaji penuh.

Semoga saja PT TWC ini ke depannya juga memikirkan nasib perumahan karyawan TMII di belakangnya, yang tampak kusam dan menyedihkan. Tak elok rasanya, di depan kelihatan megah, tapi di belakang kondisi perumahan itu jah megah-megahake (baca: memelas). (Cantrik Metaram)

Advertisement