
CUACA ekstrim diwarnai bencana hidrometeorologi terutama banjir dan longsor diperkirakan akan membayangi wilayah ibukota Jakarta dan sekitarnya serta sebagian besar wilayah Indonesia sampai pertengahan Oktober.
Khusus warga DKI Jakarta, “kado” klasik banjir tahunan di titik-titik tertentu masih tetap “dinikmati” sampai Gubernur Anies Baswedan dengan janji-janji kampanyenya untuk membebaskan wilayah ibukota dari baniir, lengser 16 Okt. nanti.
Masih ingat ucapan Anies dalam kampanyenya yang mencela kebijakan gubernur terdahulu terkait penanganan banjir, Basuki Cahaya Pernama Alias Ahok?
Menurut Anies, kesalahan lang dilakukan Ahok, membangun gorong-gorong untuk mengalirkan air ke laut, padahal sesuai “sunatullah” (kata dia) air harus dimasukkan ke dalam tanah dengan membuat sumur-sumur resapan.
Program Ahok menormalisasi 13 kali yang melintasi ibukota dengan melebarkannya, sebagian mangkrak, tidak diteruskan oleh Anies, dengan alasan banyak masalah termasuk sengketa lahan dengan penduduk.
Yang menyedihkan, untuk mengatasi banjir di ibukota, Anies cuma mengubah istilah program normalisasi yang digagas Ahok menjadi naturalisasi.
Mungkin Anies sudah lupa akan janji-janjinya untuk membebaskan Jakarta dari banjir, apalagi kini ia sibuk melobi kesana kemari setelah dicalonkan capres oleh Nasdem, begitu pula DPRD dan warga Jakarta mungkin juga sudah lupa menuntut janji-janji kampanye Anies lalu.
Sebagian wiilayah DKI Jakarta kembali kembali tergenang, Senin pagi (10/10) akibat hujan lebat yang mengguyur Bogor sejak Minggu sore sehingga Kali Ciliwung meluap dan juga hujan lokal di wilayah Jakarta yang merata sejak beberapa hari lalu.
Sampai Senin pukul 10.00 pagi tercatat 68 RT di DKI Jakarta yang tergenang air dengan ketinggian 40 sampai 200 sentimeter a.l. di sebagian Kel. Pejaten Timur, Srengseng, Pangadegan, Pejaten Timur, Cikoko, Rawajati, Kebon Baru, Cililitan dan Cawang. Bidara Cina, Kebon Baru dan Kampung Melayu,
Sampai Pertengahan Oktober
Sementara Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam rilis yang dikeluarkan, menyebutkan dinamika atmosfir di wilayah Indonesia masih berpotensi meningkatkan cuaca ekstrim secara signifikan di sejumlah wilayah dalam sepekan ke depan.
Menurut dia, sirkulasi siklonik yang membentuk pola belokan angin serta perlambatan kecepatan angin dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan.
Sedangkan fenomena Madden Julian Oscilation (MJO) yang berinteraksi dengan gelombang Roosby Equatorial dan gelombang Kelvin secara langsung juga meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah.
Berdasarkan kondisi tersebut, intensitas curah hujan sedang dan lebat akan disertai kilat dan angn kencang akan melanda hampir seluruh wilayah di Indonesia, mulai dari ujung barat, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTB dan NTT, sampai Papua Barat hingga Papua sampai pertengahan Oktober.
Seluruh pemangku kepentingan dan segenap elemen bangsa, yuk siap-siap menyongsong dan gotong-royong menanggulangi bencana.




