Polisi Jangan Hedonis

Setelah dilucuti pangkatnya, "kaisar" Sambo dari bintang dua beralih ke balsem bintang tujuh.

KASUS Irjen Ferdy Sambo menjadikan institusi Polri ditelanjangi habis-habisan. Polisi yang disebut juga hamba wet, ternyata banyak yang menghamba duwit. Polisi nakal tingkat kroco masih bisa dimaklumi, tapi yang sekelas jendral kok begitu juga, benar-benar bikin rusak citra Polri. Ketika Polri sedang menangani Ferdy Sambo, Kapolda Jatim Irjen Teddy Minahasa yang baru beberapa hari menjabat, ditangkap gara-gara menjual barang bukti narkotika.

Begitu mudahnya para elit kepolisian mencari duit secara tidak halal, sehingga mereka bisa tampil hedonis dalam keseharian. Pakai mobil dan motor mewah, sampai-sampai disindir Presiden Jokowi. Karenanya Kapolri Jendral Pol. Listyo Sigit Prabowo kembali mengingatkan, polisi jangan tampil hedonis. “Kalau bupati pakai Inova, polisinya jangan lebih dari itu.”, katanya. Di kala rakyat masih banyak yang hidup susah, polisi harus punya tenggang rasa.

Selama ini yang biasa dikenal tampil hedonis adalah para anggota DPR, menyusul kemudian pengacara. DPR bisa tampil kaya karena selain gaji  gede, mereka di Senayan memang dalam rangka mengubah nasib personalnya. Sebelum memperjuangkam nasib rakyat, lebih utama ya memperjuangkan nasibnya sendiri. Sudah ombyokan oknum DPR dikandangi KPK gara-gara terlibat korupsi. Jual aspal untungnya tak seberapa, tapi jual pasal UU, bisa meledak bro!

Untuk kalangan pengacara, bisa tampil hedonis bila dapat gebukan gede, maksudnya membela perkara kelas kakap. Dia tak mungkin korupsi uang negara. Jika ada sejumlah pengacara ditangkap KPK, pasalnya pasti karena memperkaya pejabat negara alias menyogok sebagaimana OC Kaligis. Oleh karena itu pengacara harus pinter ngomong, sebab dia maju tak gentar demi membela yang bayar.

Polisi sebagai hamba wet, rupanya juga ngiri dengan penampilan orang Senayan dan pengacara. “Gue kalau mau juga bisa,” begitu katanya. Bagi yang tipis iman, akhirnya benar-benar mau. Lewat kekuasaan yang dimiliki mereka mengumpulkan uang. Gara-gara kasus Ferdy Sambo jadi terungkap, Satgasus yang dipimpinnya menerima ratusan triliun dari judi online. Ferdy Sambo pun disebut jadi kaisar di kepolisian. Soalnya, karena uang dia bisa “mengatur” jendral polisi yang berpangkat di atasnya.

Maka Menko Polhukam Mahfud MD sampai terheran-heran, bagaimana ceritanya, pati polisi berpangkat Irjen sebagaimana Ferdy Sambo, kok bisa bikin tunduk polisi berpangkat Komjen (bintang 3) di atasnya. “Ferdy Sambo sudah punya kekuasaan seperti jendral bintang 5,” kata Mahfud MD. Tapi kini setelah dilucuti pangkatnya dan ditahan, Ferdy Sambo berganti pakai balsem bintang tujuh untuk kerokan.

Beberapa tahun lalu pernah rame isyu polisi berekening gendut. Gara-gara itu pula KPK era Abraham Samad berhasil menjegal seorang calon Kapolri. Eh, sekarang muncul lagi, seorang Kapolsek di di Pematang Siantar (Sumut),  AKP Manaek S Ritonga miliki harta mencapai Rp 11,4 miliar. Padahal Kapolri Sigit saja hanya punya Rp 9,2 miliar.

Polisi dan siapapun tak dilarang untuk menjadi orang kaya, asal diperolehnya secara wajar. Bisa karena punya usaha, dapat warisan, atau dapat dana hibah. Entah hibah betulan atau sekedar akal-akalan, asal harta itu diperoleh dengan alasan tersebut, KPK takkan mengusutnya. Cuma publik menyimpan tanda tanya, begitu banyaknya orang Indonesia yang jadi pemurah, memberikan sebagian asetnya pada seorang pejabat, jika tanpa kepentingan tertentu.

Di alam sana, Jendral Pol. Hugeng Imam Santosa bisa menangis bila tahu polisi generasi sekarang kelakuannya seperti Ferdy Sambo Cs. Polisi dulu siap miskin demi mempertahankan kejujuran. Lha kok sekarang, polisi siap tidak jujur demi memperoleh kekayaan. Padahal kekayaan sampai berapa triliun pun takkan dibawa mati, sebab Allah Swt memandang umatnya bukan dari harta dan pangkatnya di dunia, tapi amalnya.

Semoga jeweran Presiden Jokowi dan  Kapolri Listyo Sigit Prabowo membuat polisi terus bebenah. Tapi percayalah, betapapun banyak polisi terkontaminasi kelakuan Ferdy Sambo, masih banyak polisi yang baik, bekerja penuh dedikasi. Cuma karena pepatah saja, gara-gara nila setitik rusak polisi sebelanga. (Cantrik Metaram).

 

 

Advertisement