
AKSI bersama komunitas int’l menguncilkan rezim junta Myanmar sejauh ini tidak berpengaruh, terbukti dengan leluasa masih melakukan aksi kekerasan terhadap kelompok perlawanan sipil dan minoritas etnis.
Sejumlah sanksi sudah dijatuhkan AS dan negara-negara Barat untuk mengucilkan Myanmar di bawah junta militer yang mengambil alih pemerintahan sipil di negeri seribu pagoda itu, awal Februari 2021.
Sanksi pembekuan rekening dan “pencekalan” pejabat junta Myanmar berpergian ke luar negeri sudah dijatuhkan, begitu pula ASEAN yang sepakat untuk tidak mengundang Myanmar dalam pertemuan-pertemuannya sebagai simbul tidak mengakui rezim junta.
Namun, rezim junta militer dipinpin jenderal enior Min Aung Hlaing tetap membandel, diduga karena posisinya yang masih kuat berkat dukungan negara tetangganya, China dan juga Rusia.
Hlaing dilaporkan beberapa kali melawat ke Moskow, dimana pemerintahnya mendapatkan privilege antara lain berupa pasokan minyak dengan harga murah dan juga pembelian peralatan militer.
Dengan aliran bantuan dari Rusia dan China, rezim junta Myanmar mampu bertahan di tengah kesulitan ekonomi akibat penguncilan AS dan Barat serta menggerakkan pasukannya untuk memberangus perlawanan sipil.
Sudah ribuan orang yang dianggap pembangkang termasuk penasehat negara Aung San Suu Kyi yang memenangkan pemilu masih mendekam di tahanan.
Bahkan walau sulit diverifikasi, lembaga pemantau konflik, Acled melaporkan sekitar 12-ribu orang tewas di berbagai aksi kekerasan oleh Tatmadaw (militer) sejak kudeta awal Februari 2021.
Dalam kejadian teranyar, tiga pesawat tempur Myanmar membombardir acara konser musik di Desa Aung Bar Lai, Negara Bagian Kachin (24/10) yang dihuni etnis minoritas Kachin yang menentang rezim junta, menewaskan 80-an penonton termasuk penyanyi.
Selain masa prodemokrasi, kelompok perlawanan Myamar sebenarnya juga datang dari etnis-etnis minoritas seperti Kachin, Karen dan Rohingya yang diperlakukan tidak adil dan sarat pelanggaran HAM oleh rezim junta.
Bahkan jutaan etnis muslim Rohingya diusir dari kampung halaman mereka ke kam pengungsi Cox’s Bazar di negara tetangganya, Bangladesh, ribuan tewas akibat kelaparan, penyakit di perjalanan.
Dukungan kepada kelompok-kelompok perlawanan yang tersebar di seluruh Myanmar termasuk untuk mengundang mereka di forum-forum regional dan int’l agaknya diperlukan selain melalui tekanan int’l terhadap rezim junta.




