KTT G20 Usai, Tinggal Implementasinya

DI TENGAH polarisasi akibat Perang Rusia dan Ukraina serta ancaman krisis ekonomi dunia akibat perubahan iklim, KTT G20 yang digelar di Bali, 15 dan 16 November berhasil mengeluarkan deklarasi melalui diskusi alot sejak awal.

Presiden Jokowi selaku tuan rumah atau presidensi G20 tahun 2022 mengapresiasi terbit dan disahkannya deklarasi pertemuan akbar tersebut yang dinilainya sebagai hasil luar biasa upaya bersama peserta.

Deklarasi memuat 52 paragraf tersebut dihasilkan melalui perdebatan sengit terutama pada paragraph terkait sikap G20 menyikapi perang Rusia dan Ukraina.

Setelah melalui diskusi alot sampai larut tengah malam, disepakati pemasukan kata condemnation (kutukan) terhadap perang di wilayah Ukraina karena dinilai telah melanggar batas wilayah.

Seluruh peserta termasuk delegasi Rusia akhirnya sepakat melalui konsensus, untuk menyebutkan bahwa perang berdampak negatif pada ekonomi global.

Intinya, dalam paragraph 3 disebutkan, sebagian besar anggota mengecam perang di Ukraina yang menyebabkan penderitaan dan memperburuk ekonomi global yang sudah rapuh.

Untuk itu, Rusia dituntut untuk menarik seluruh pasukannya dari wilayah Ukraina dan menghentikan perang, sementara  sistem hukum multilateral harus ditegakkan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut.

Disebutkan pula, G20 bukanlah forum untuk menyelesaikan masalah keamanan, namun para anggota mengakui, masalah keamanan dapat berkonsekuensi secara signifikan bagi perekonomian global.

Hal senada ditegaskan Presiden Jokowi yang menyebutkan, G20 adaah forum ekonomi bukan forum politik, sehingga forum ini tidak perlu dikaitkan dengan kondisi politik global. “Namun pemulihan ekonomi global tidak akan tercapai tanpa perdamaian, “ ujarnya.

Poin Utama Deklarasi G20

Selain isu Perang Rusia-Ukraina, tiga substansi yang diangkat dalam KTT G20 di Bali yakni Arsitektur Kesehatan Global, Transformasi Digital dan Transisi Energi Berkelanjutan.

Terkait Arsitektur Kesehatan Global, G20 menyepakati untuk diperkuat dengan Dana Pandemi (Pandemic Fund), dengan dana yang disepakati 1,4 miliar Dollar AS dan selanjutnya didorong agar jumlahnya diperbanyak lagi.

Dana Pandemi nantinya diharapkan menjadi solusi negara-negara terkait pencegahan (prevention), kesiapan (preparadness) dan respons menghadapi pandemi.

Sedangkan terkait Transformasi Digital, disebutkan akibat terjadinya pandemi Covid-19, diharapkan percepatan transformasi ekosistem dan ekonomi global, sementara teknologi digital menjadi kunci pemulihan dan pemberdayaan di berbagai sektor.

G20 juga menyambut baik pengembangan Central Bank Digital Currencies (CBDCs) melalui kolaborasi  BIS, CPMI, BISIH, IMF dan Bank dunia.

Sedangkan mengenai Transisi Energi Berkelanjutan, G20 mengaku dunia sedang mengalami volatilitas harga dan masalah pasokan energi, sehingga mendesak untuk mendiversifikasi sistem energi dengan cepat, menjaga keamanan energi dan stabilitas  pasar.

Transisi dan aliran energi berkelanjutan, adil, terjangkau, serta inklusif harus dipercepat, sementara Bali Compact dan Bali Energy Transition Roadmap menjadi pedoman untuk mempercepat solusi masalah energi.

Poin-poin kerjasama sudah dirumuskan dalam KTT G20 Bali, tinggal komitmen untuk merealisasikannya. Sampai bertemu di KTT G20 tahun 2023 d bawah presidensi India.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement