Makin Sulit, Mengidentifikasi Korban

Masih 14 jasad korban gempa Cianjur belum ditemukan. Makin hari makin sulit mengindentifikasi korban karena jasad makin rusak sehingga sukar dikenali. Total korban tewas sampai 27/11 sebanyak 18 orang.

SAMPAI hari keenam gempa yang melanda sejumlah lokasi di Kab. Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11), masih 14 korban lagi yang berada di reruntuhan bangunan atau longsoran tanah belum ditemukan.

Menurut Deputi Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Fajar Setiawan,  sampai Sabtu (27/11) tercatat 318 korban tewas, sementara 14 orang lagi masih belum ditemukan.

Sebanyak 158 kantong jenasah sudah terindentifikasi, sedangkan 134 diantaranya sudah dikenali terdiri dari 92 korban dewasa, 27 balita dan 15 anak-anak.

Menurut Fajar, jika pada awal-awal pasca gempa, cukup mudah untuk mengenali korban tewas secara visual, makin bertambah hari makin sulit karena memerlukan alat bantu yang lebih rumit. Kondisi jasad yang rusak seiring perjalanan waktu membuat indentifikasi korban makin sulit dilakukan.

“Diperlukan alat-alat yang lebih kompleks, misalnya untuk melakukan tes DNA yang memerlukan waktu dan dana yang cukup.

Selain itu 7.729 orang mengalami luka-luka berat dan 7.134 luka ringan serta 73.693 orang mengungsi di 107 titik pengungsian yang tersebar di 12 kecamatan di Cianjur.

Total kerugian material akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,9 tersebut mencapai Rp1.600 triliun terdiri dari 2.834 bangunan rumah, lima tempat ibadat, 12 fasilitas pendidikan, 10 perkantoran, lima fasyankes dan masing-masing dua jembatan dan ruas jalan.

 Darurat Air Bersih dan Sanitasi    

Sejauh ini bantuan terus mengalir, baik dari instansi pemerintah, pemda, berbagai institusi, baik swasta maupun perseorangan, namun agaknya belum terkoordinasi degan baik.

Di sejumlah titik pengungsian tampak pengungsi mendirikan tenda-tenda seadanya menggunakan karton bekas atau terpal, bahkan ada yang mengungsi di kandang kambing yang mereka anggap lebih nyaman ketimbang di tenda-tenda darurat.

Di RT 002 dan 004/RW 006 Desa Pakuoan, Sukaresmi, Cianjur misalnya, para penyintas mendirikan tenda-tenda  darurat di tanah seluas 10 x 25 M yang memuat sekitar 500 orang.

Beruntung di sekitar tenda, mengalir sungai kecil yang digunakan oleh pengunsi buat MCK, sementara di sejumlah titik pengungsi, mereka kekurangan air bersih, air minum dan juga sanitasi.

Akibatnya, menurut Sekretars Dinas Kesehatan Cianjur Isman Faisal, hampir 2.800 pengungsi menderita penyakit, yang terbanyak mengidap infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) 1.576 orang, 902 mengalami gastritis dan 313 orang mengalami diare dan gatal-gatal.

Penyakit semacam itu, menurut dia, sering terjadi di tempat-tempat pengungsian yang kondisi lingkungannya tidak bersih dan yang terutama diserang adalah anak-anak.

Pentingnya air, baik untuk MCK dan air bersih untuk makan dan minum mestinya sudah harus diantisipasi oleh para pemangku kepentingan mengingat air adalah kebutuhan manusia dimana saja.

Pengalaman dari musibah gempa ke gempa yang sudah berulang kali terjadi hendaknya menjadi pembelajaran agar penanganannya lebih baik lagi ke depannya.

 

 

 

 

 

Advertisement