Beda Data Jumlah Korban Jiwa Gempa Cianjur, Ini Kata Ridwan Kamil

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, di Kantor Bupati Cianjur, Jumat (25/11/2022). (Foto: ANTARA/Devi Nindy)

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil meminta data korban jiwa gempa Cianjur sebaiknya mengacu pada pernyataan yang disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sebelumnya, Bupati Cianjur, Herman Suherman, menyebut jumlah korban tewas akibat gempa berkekuatan Magnitudo 5,6 pada 21 November 2022 mencapai 600 orang, bukan 335 orang.

“Soal angka kematian gempa Cianjur, kita pegang saja statement dari BNPB dulu, untuk dilakukan kroscek karena setiap hari yang dikutip media kan data BNPB,” ujar Ridwan Kamil di Cimahi, Selasa (13/12/2022).

Angka korban meninggal akibat gempa yang disebutkan Bupati Cianjur itu saat ini sedang diverifikasi BNPB. Sebab, selama ini angka korban meninggal gempa Cianjur mengacu pada laporan yang diterima BNPB.

“Jadi, kalau Pak Bupati menyatakan lebih, tinggal menunggu waktu untuk diverifikasi oleh BNPB. BNPB, kan, melaporkan yang dilaporkan. Kalau Pak Bupati, kan, menyatakan ada yang tidak dilaporkan, tapi meninggal dunia,” kata Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, dikutip dari detik.com.

Emil mengatakan butuh waktu satu sampai dua hari melakukan kroscek data yang disampaikan Bupati Cianjur dengan data yang dikantongi BNPB. Hasil kroscek tersebut akan langsung disampaikan ke publik.

“Mudah-mudahan segera ada hasilnya (kroscek data). Nanti data terakhir yang akan kita sampaikan pada publik,” ucap Emil.

“Kita tidak mau menutup-nutupi atau mengecilkan korban, tapi seringkali itu tadi, kata Pak Bupati ada yang tidak dilaporkan langsung dikuburkan. Nah, yang dikonsumsi datanya oleh publik, kan, yang dilaporkan,” tambahnya.

Data Korban Tewas 600 Data Riil

Bupati Cianjur, Herman Suherman, menegaskan data terbaru korban meninggal akibat gempa 5,6 magnitudo sebanyak 600 orang merupakan riil. Bahkan, Herman menyebut data yang diajukan ke Kementerian Sosial itu disertai dengan by name by address.

“Itu data riil, memang ternyata jumlah yang meninggalnya mencapai 600 orang. Ada data by name by address nya,” ucap Herman, Selasa (13/12/2022).

Dia mengatakan, data tersebut diperoleh dari laporan setiap desa dan kecamatan yang terdampak gempa, terutama dari Kecamatan Cugenang yang menjadi daerah terdampak paling parah.

“Untuk Cugenang saja ternyata yang meninggal mencapai 400 orang,” katanya.

Herman menjelaskan bahwa data yang muncul di BPBD sebanyak 335 orang meninggal merupakan data korban yang dilaporkan di hari kejadian, data korban meninggal yang tercatat di rumah sakit atau puskesmas, dan korban meninggal hasil evakuasi relawan.

Setelah ditelusuri, ternyata masih banyak data korban meninggal yang tidak terlaporkan atau tidak tercatat, seperti korban yang langsung dimakamkan keluarganya setelah kejadian hingga korban bencana yang meninggal di pengungsian.

“Ada juga korban yang sebelumnya luka berat atau luka ringan, tetapi ternyata saat di pengungsian meninggal karena riwayat penyakit sebelumnya atau faktor lain. Ditambah ada juga yang sebelumnya tidak dilaporkan oleh keluarga. Data itu yang kita inventarisir, dan didapati data total korban meninggal akibat bencana sebanyak 600 orang,” kata dia

“Jadi bukan data mengada-ngada, tapi memang tercatat semuanya sekarang,” tambahnya.

Herman menuturkan bahwa data tersebut sudah diserahkan ke Kemensos untuk diajukan mendapatkan dana kerohiman.

“Kita sudah ajukan, secepatnya bisa dicairkan dan diserahkan ke ahli waris,” tuturnya.

Advertisement