Alutsista Barat Perpanjang Perlawanan Ukraina

Berkat aliran ragam alutsista dari Barat terutama AS, Ukraina tidak saja mampu bertahan dari gempuran Rusia, tapi juga menimbulkan kerugian berat bagi pihak lawan.

ALIRAN pasokan ragam alutsista dari Barat terutama AS, tak saja memperpanjang perlawanan pasukan Ukraina dari serangan mesin perang raksasa Rusia, tapi juga menimbulkan kerugian berat bagi lawannya.

Konflik akibat invasi Rusia sejak 24 Feb. lalu dan juga aneksasi sepihak yang dilakukan terhadap wilayah Donetsk, Luhansk, Kerson dan Zaporizhia di Ukraina dengan mengerahkan mesin perangnya belum usai hingga memasuki bulan ke-10 hari ini.

Dari sisi perimbangan militer, baik anggaran, jumlah personil dan alutsista, Rusia dan Ukraina – sesama bekas sempalan Uni Soviet –  bak bumi dan langit. Teoritis, seharusnya Rusia bisa melumat Ukraina dalam beberapa hari saja.

Dari sisi anggaran pertahanan saja, menurut Global firepower 2022, Ukraina tercatat di urutan ke-20 dengan nilai sekitar 11,87 miliar dollar AS (atau sekitar   Rp 168,7 triliun), sebaliknya Rusia ranking ketiga (154 miliar dollar AS atau sekitar Rp2.202 triliun).

AB Rusia berkekuatan dua juta personil tetap, sementara kekuatan konvensional matra daratnya a.l.  memiliki 12.000 tank tempur utama, 9.000-an pucuk artileri dan 27.000 kendaraan lapis baja, 400 kapal perang dan sekitar 1.500 pesawat tempur.

Sementara AB Ukraina berkekuatan sekitar 875 ribu personil, matra daratnya didukung 1.150 tank peninggalan Uni Soviet seperti     T-84, T-80, T-72 dan T-62, 230 pesawat tempur peninggalan Soviet dan hanya belasan kapal perang.

Pukulan Berat

Faktanya, dengan mengerahkan lebih 100-ribu anggota pasukannya, bombardemen dari laut dan udara dengan rudal-rudal jelajah dan artileri berat, Rusia gagal mencapai ibukota Kyiv, sehingga mengalihkan serangan ke wilayah Ukraina lainnya.

Kerugian besar yang dialami Rusia antara lain tenggelamnya kapal penjelajah kebanggaannya, Moskwa April lalu, dihancurkannya jembatan strategis menghubungkan Rusia dengan Semenanjung Krimea yang dicaploknya pada 2014 dan direbutnya kembali P. Ular oleh Ukraina.

Tank-tank dan kendaraan pengangkut personil tentara Rusia, banyak yang menjadi mangsa rudal-rudal anti tank Javelin buatan AS, rudal anati tank ringan (NLAW buatan Inggeris -Swedia serta rudal-rudal yang dibawa drone tempur Bayrakhtar Turki.

Pertahanan udara Ukraina juga terus diperkuat, dari yang semula hanya mengandalkan artileri dan rudal S-300 peninggalan Soviet, diperkuat dengan rudal-rudal panggul Stinger dari AS dan Crotale dari Perancis serta Skystreaker buatan Inggeris.

Sejumlah heli tempur Rusia seperti Kamov-52 dan Hind MI-35 berhasil dilumpuhkan oleh rudal-rudal portable berjarak pendek tersebut.

Pesawat-pesawat tempur Rusia semakin terancam dengan tibanya rudal-rudal hanud jarak jauh dan lebih canggih seperti rudal NASAMS buatan patungan AS – Norwegia yang mampu melacak pesawat lawan pada jarak 120 Km dan menjatuhkannya pada ketinggian sampai 30 Km.

Jerman juga mengirimkan sistem rudal anti rudal hanud IRIS-T  dikendalikan infra merah berharga 140 juta euro (Rp210 miliar) yang mampu  menjangkau obyek bergerak sampai ketinggian 40 Km dan radarnya mampu mengendus pesawat lawan sejauh 120 Km.

Rusia juga makin geram dan menganggap pihak Barat terutama AS terus memprovokasi perang dengan mengirimkan paket sistem rudal hanud Patriot seri teranyar bernilai 1,8 miliar dollar AS (sekitar Rp288 triliun) kepada Ukraina.

Rusia sendiri agaknya mulai mengalami kelangkaan persenjataan untuk terus berperang akibat embargo Barat, tercermin dari kehadiran drone-drone Iran yang dimodifikasi untuk diterjunkan ke wilayah perang dan juga isu adanya pasokan senjata dari Korut.

Paket ke-9 sanksi embargo Barat sudah dikenakan terhadap lebih seratus tokoh Rusia dan ratusan industri termasuk pembuat micro-chip yang digukanan dalam industri persenjataan Rusia.

Pihak Barat juga dengan sistematis berupaya melemahkan Rusia termasuk dengan mematok (capping) harga ekspor migasnya agar kemampuannya membiaya perang terus melemah.

Namun perang agaknya masih berlangsung lama, karena Rusia pasti tidak ingin kehilangan muka, dan jangan-jangan malah terpicu, nekat  menggunakan kekuatan nuklir yang akan menciptakan bencana bagi umat manusia. (AP/AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement