Waspada, Cemas dan Stres Bisa Memperparah Gejala GERD

Ilustrasi. (Foto: practo.com)

JAKARTA – gangguan psikologis seperti kecemasan dan stres yang tidak ditangani dengan benar bisa memperparah gejala gastroesophageal reflux disease atau GERD. Orang yang terkena GERD disertai gangguan psikologis biasanya sering berdebar-debar dan dalam beberapa kasus mengalami rasa nyeri yang berpindah-pindah, merasa tidak bertenaga, serta pekerjaannya tidak tuntas.

“Faktor psikologis ini bisa memperberat gejala GERD, mengakibatkan gangguan daripada hormon-hormon di dalam tubuh, saraf-saraf di dalam tubuh khusus pencernaan, semua terganggu ritmenya,” kata dokter spesialis penyakit dalam, dr. Yongki Sp.PD dilansir dari Antara, Selasa (10/1/2023).

Menurut dia, stres juga dapat membuat sistem imun tubuh melemah sehingga kesehatan tubuh jadi lebih mudah terganggu.

GERD terjadi akibat melemahnya otot-otot pembatas antara kerongkongan dan lambung sehingga menyebabkan refluks (aliran balik) atau naiknya isi dan asam lambung ke saluran esofagus.

Paparan asam lambung yang berulang-ulang ke esofagus akan mengakibatkan iritasi pada lapisan esofagus atau kerongkongan.

GERD juga dapat dipicu oleh faktor makanan, antara lain, mengonsumsi makanan dan minuman dengan rasa yang kuat serta kebiasaan makan yang kurang baik seperti makan terburu-buru, sering makan dalam porsi banyak sekaligus, dan langsung tidur setelah makan.

Gejala GERD antara lain mual, rasa pahit di mulut, karies pada gigi, regurgitasi (makanan kembali ke mulut dari kerongkongan), nyeri saat menelan atau kesulitan menelan, batuk kronis, sakit tenggorokan dan suara serak, serta bau mulut.

Yongki mengatakan, penderita GERD saat ini banyak yang berusia 20 sampai 30 tahun, di antaranya ada yang mengalami gangguan psikologis.

Penanganan penderita GERD yang mengalami gangguan psikologis, menurut dia, lebih baik dilakukan dengan dukungan dari ahli kesehatan jiwa.

“Pasien saya secara keseluruhan beberapa persennya juga dikonsultasikan atau istilahnya rawat bersama dengan teman-teman dari psikiater, kesehatan jiwa, karena kita harus tahu bahwa sehat itu ada dua, secara fisik dan secara mental,” kata Yongki.

Advertisement