Mengerikan, Pengaruh Dunia Maya

Dua ABG di Makassar membunuh bocah usia 10 tahun hanya karena terinspirasi setelah membaca postingan di medsos ginjalnya bisa dijual dengan harga tinggi dan tayangan terkait perdagangan organ tubuh manusia di TV.

DUA ABG di Makassar, MF (14) dan AD (17) tega-teganya menculik lalu membunuh bocah laki-laki FS (10) hanya karena tergiur postingan di medsos tentang penjualan ginjal yang bisa menghasilkan ratusan juta rupiah.

“Saya membayangkan, jika berhasil (menjual organ ginjal) bisa membelikan kakak saya laptop dan membantu bangun rumahnya, “ tutur AD dengan lugu seperti dituturkan oleh Kapolres Makassar AKBP Budi Haryanto (12/1).

Sejauh ini polisi tidak menemukan kaitan aksi yang dilakukan kedua remaja tersebut dengan sindikat perdagangan organ manusia.

Kedua remaja tergiur, membayangkan banyaknya uang yang bisa diraihnya, lalu merencanakan pembunuhan  setelah memperoleh informasi dari medsos dan juga tayangan di TV mengenai perdagangan organ tubuh manusia yang dilakukan oleh sindikat internasional.

“Cuma searching-searching di Google dan pernah lihat di TV, “ tutur MF dan AD ketika diinterogasi fihak kepolisian. Korban tewas setelah dicekik dan kepalanya dibenturkan lima kali ke tembok.

Kedua pelaku kembali mencoba menghubungi medsos yang memosting tawaran transaksi organ manusia yang mereka unggah  sebelumnya namun tidak aktif sehingga memutuskan membungkus korban dengan plastik  hitam dan membuang jasadnya ke Waduk Nipah-nipah.

Dampak negatif medsos terhadap anak-anak yang kejiwaannya masih labil, tercermin pada peristiwa ini dimana mereka begitu mudahnya terinspirasi dan mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang.

Dalam kasus-kasus lain, hasutan di medsos sering memicu tawuran anta kelompok ABG, ada yang terprovokasi untuk melakoni ajaran sesat, membuat konten viral dengan menghadang truk yang berjalan cepat ke arah mereka dan aksi-aksi kejahatan lain.

Tidak jarang juga aksi tawuran, kelompok remaja atau antarsekolah, dipicu provokasi darii postingan medsos, begitu juga aksi-aksi kekerasan yang terinspirasi atau dicontohkan di medsos.

Mengingat ada sekitar 191 juta pengguna aktif medsos di Indonesia,  sepantasnya negara (a.l melalui Kemenkominfo), pendidikan (Kemendikbud) dan pemangku kepentingan lainnya merumuskan mekanisme untuk meningkatkan literasi publik dalam bermedsos dan juga mengawasinya dengan seksama.

Jika tidak, banyak potensi perilaku negatif, mulai dari penyebaran hoaks dan narasi kebencian serta aksi-aksi kriminalitas lainnya yang bakal terjadi terkait penggunaan medsos.

Ayo, rumuskan edukasi publik dalam bermedsos dan juga pengawasannya untuk mencegah hal-hal tidak terduga yang bisa  dilakukan terutama oleh anak-anak dan remaja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement