
NILAI tukar rupiah di pasar spot berdasarkan data Bloomberg, melemah saat penutupan perdagangan Senin (22/6), terdepersiasi 39 poin atau 0,22 persen ke level Rp 17.843 per dollar Amerika Serikat (AS).
Sebelumnya nilai rupiah bahkan pernah mencapai titik nadirnya menyentuh Rp18.229 per dollar AS pada 8 Juni 2026, dan pelemahannya sedikit mereda saat BI melakukan sejumlah langkah strategis dan agresif.
BI rate dinaikkan dari 4,75 ke 5,25 persen pada 20 Mei, lalu dinaikkan lagi dari 5,25 ke 5,50 persen pada 9 Juni dan dinaikan lagi menjadi 5,75 persen pada18 juni.
BI juga melakukan intervensi pasa valas secara intensif, baik melalui pasar spot, Domestic Non Deliverable Forwards (DNDF) mau pun di pasar luar negeri.
Aksi lain yang dilakukan BI untuk menjaga stabilitas rupiah yakni dngn menaikkan Suku Bunga Sekuritas BI (SRBI) dan pengetatan transaksi valas secata tunai tanpa kebutuhan rill (underlying), dengan menetapkan batas maksimum 25.000 dollar AS per pelaku per bulan dan mendorong Skema Local Currency Transaction dalam perdagangan bilateral.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi seperti ditulis Kompas.com, Senin (22/6) menilai, inflasi menjadi salah satu faktor yang mendorong pelemahan kurs rupiah.
BI sebelumnya memproyeksikan penyesuaian harga BBM nonsubsidi, khususnya kenaikan harga Pertamax yang mendorong kenaikan inflasi.
“Saat ini terdapat sejumlah faktor risiko inflasi yang mencuat dan menjadi perhatian bank sentral,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Senin sore ini.
Tantangan utama berasal dari rambatan global berupa transmisi harga minyak dan komoditas ke dalam negeri atau yang lazim disebut sebagai ‘imported inflation’.
Faktor rambatan global itu secara langsung berdampak pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), seperti yang tecermin dari kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi baru-baru ini.
Faktor risiko kedua yang tengah diwaspadai adalah potensi gangguan cuaca. Fenomena El Nino diperkirakan akan melanda Indonesia pada periode akhir Juni hingga Oktober atau November mendatang.
Kondisi cuaca ekstrem ini berpotensi memberikan tekanan pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food).
Bisa diredam
Meski demikian, BI menilai risiko dari sisi hulu pertanian, seperti lonjakan harga pupuk, dapat diredam karena kapasitas produksi pupuk domestik dinilai masih sangat mencukupi.
Oleh sebab itu, BI mengonfirmasi bahwa laju inflasi memang mulai menunjukkan tren peningkatan.
Namun, Aida memastikan proyeksi inflasi tetap terjangkar dalam rentang sasaran yang ditetapkan oleh bank sentral dan pemerintah, yakni 2,5 persen plus minus satu persen atau maksimal berada di level 3,5 persen.
Di sisi global, sentimen pasar sempat terguncang setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran mengenai potensi aksi militer tambahan apabila Teheran tidak mengambil langkah untuk mengendalikan kelompok Hizbullah yang beroperasi di Lebanon.
Pernyataan tersebut muncul ketika Wakil Presiden AS JD Vance membuka babak baru pembicaraan diplomatik dengan perwakilan Iran di Swiss, Minggu kemarin (21/6).
Namun, pembicaraan antara AS dan Iran di Swiss berakhir dengan sejumlah perkembangan yang dinilai meredakan kekhawatiran pasar.
Teheran menyatakan telah memperoleh pengecualian untuk ekspor minyak dan produk petrokimia, sehingga mengurangi kekhawatiran mengenai potensi kekurangan pasokan energi global.
Kondisi tersebut turut menekan harga minyak mentah. Para pejabat tinggi AS dan Iran menyelesaikan putaran pertama pembicaraan mereka di Swiss, Senin.
Menurut para mediator, perundingan tersebut dimulai sejak Minggu berdasarkan MoU yang dicapai Rabu lalu (17/6) untuk memperpanjang gencatan senjata yang rapuh sejak April setidaknya selama 60 hari ke depan.
Kemenlu Iran menyatakan bahwa “kemajuan yang baik” telah dicapai dalam pembicaraan multilateral di Swiss.
Sementara itu, mediator dari Qatar dan Pakistan menyebut para negosiator telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan yang lebih luas.Diskusi teknis dijadwalkan berlanjut sepanjang pekan ini.
Pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari AS pada pekan ini, terutama perkiraan PDB kuartal I-2026 serta data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core Personal Consumption Expenditures/PCE), yang merupakan indikator inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed).
Data tersebut akan menjadi petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan. Sebagai langkah mitigasi, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak.
Terkait stabilitas harga kelompok volatile food, upaya antisipasi dilakukan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang dikoordinasikan secara intensif bersama pemerintah daerah di seluruh Indonesia guna memastikan ketersediaan pasokan pangan tetap terjaga.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,98 persen ke level 6.116,69 pada penutupan perdagangan Senin, 22 Juni 2026. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, 9 dari 11 sektor saham dalam negeri terkoreksi hari ini.
Sektor bahan baku, paling terpuruk
Sektor barang baku turun paling dalam hingga 2,49 persen diikuti sektor industri dan sektor kesehatan yang masing-masing turun 2,36 persen dan 2,23 persen, yang menguat hanya sektor energi dan teknologi, masing-masing naik 1,47 persen dan 0,18 persen.
Menurut data RTI Business, frekuensi perdagangan saham dalam negeri hari ini 1,74 juta kali transaksi, total saham berpindah tangan 22,51 miliar lembar, dan nilai transaksi mencapai Rp13,49 triliun.
Sebanyak 445 saham ditutup melemah hari ini, 221 saham menguat, dan 147 saham stagnan.
Emiten top loser hari ini adalah BAIK yang ambles 14,79 persen, diikuti BINA yang turun 12,5 persen dan HBAT terkoreksi 10 persen.
Di sisi lain, emiten berkode ZONE menjadi top gainer setelah terbang 24,77 persen, diikuti EMDE yang naik 24,56 persen dan KIOS yang menguat 24,14 (persen.
Berbeda dengan IHSG, bursa kawasan Asia sore ini cenderung ditutup menguat. Indeks Nikkei naik 1,55 persen ke 72.353,96; indeks Shanghai naik 1,78 persen ke 4.163,10; indeks Strait Times naik 0,22 persen ke 5.204,01; sedangkan indeks Hang Seng turun 0,65 persen ke 23.768,52.
Situasi geopolitik dan ekonomi global tidak menentu, cuaca ekstrim akibat El Nino sudah di depan mata, sementara di dalam negeri, skala prioritas, efisiensi, terlebih mencegah kebocoran dan pemborosan anggaran harus terus digiatkan. (Kompas.com/Republika/ns)




