
JUMLAH penderita Diabetes Melitus (DM) di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, dan yang perlu diwaspadai, akibat perubahan gaya hidup dan pola makan, kian banyak kawula remaja, bahkan anak-anak terkena penyakit itu.
Menurut catatan International Diabetes Federation (IDF) 2021 seperti disampaikan oleh Prof. Dr. Ketut Suastika, SPPD, KEMD dalam suatu seminar, kasus-kasus prediabetes (kondisi antara terkena diabetes dan normal) di Indonesia diidap oleh sekitar 30 juta orang.
Prediabetes, menurut Prof. Ketut, cukup bebahaya mengingat di berbagai studi di sejumlah negara, setiap tahun pada tingkatan tersebut, sepuluh persen akan memicu menjadi diabetes.
“Bisa dibayangkan jika setiap tahun ada tambahan tiga juta penduduk yang terkena diabetes, “ ujarnya seraya menambahkan, jika prediabetesnya tidak diintervensi dengan baik, ke depannya lebih mengerikan, “ ujarnya.
Sementara Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) M. Faizi (1/2) mengungkapkan, sebagian besar anak dengan DM type dua ditemukan dengan kondisi obesitas atau berat badan berlebih.
Untuk itu, ia mengingatkan, risiko DM bagi anak harus makin diwaspadai seiring perkembangan gaya hidup modern ditandai pola makan tidak baik dan akibat kurangnya aktivitas fisik (a.l olah raga).
Selain makin banyak kasus DM type dua yang dilaporkan, usia pasien yang terpapar juga makin muda, ada yang berusia enam tahun dan biasanya DM type dua ditemukan pada anak dengan obesitas, dengan tanda lain yakni tengkuk dan ketiak berwarna hitam.
Gangguan Metabolisme
DM adalah gangguan metabolisme akibat peningkatan kadar gula darah di atas normal yang berlangsung kronis karena gangguan pada hormon insulin yang dihasilkan kelenjar pankreas. Resistensi insulin tersebut yang menyebabkan area kulit di sekitar tengkuk dan ketiak berwarna gelap.
Dari hasil penelitian di Bali terhadap anak usia 12-14 tahun, DM type dua ditemukan tiga persen atau 13 dari 431 anak dan 331 orang diantaranya mengalami obesitas.
Sekitar sepertiga dari anak yang salah satu orang tua yang menderita DM berpotensi penyakitnya menurun, dan anak dari kedua orang tua yang terkena DM, berpotensi terkena 60 persen.
Namun risiko terkena DM lebih banyak diakibatkan oleh gaya hidup yang dijalani yang bersangkutan sehingga hal itu bisa dihindari dengan pola hidup sehat.
“Anak harus aktif secara fisik, paling tidak 30 sampai 60 menit sehari, kurangi di depan layar (main gadget), batasi asupan karbohidat dan makanan atau minuman yang manis-manis, “ kata Faizi.
Selain melalui pendidikan di bangku sekolah, literasi tentang kesehatan khususnya bahaya DM pada para orang tua di lingkungan hunian (melalui Kelurahan atau posyandu) harus terus dilakukan.




