
SEJAUH ini tercatat dua WNI yang tewas dalam gempa berskala magnitude 7,8 di Turki (Senin, 6 Feb.) yakni ibu rumah tangga asal Bali yang bersuamikan warga setempat Nia Marlinda dan puterinya.
Menurut keterangan KBRI Ankara, Turki, Ny Nia tinggal bersama suami dan puterinya yang berusia setahun (tidak diketahui namanya) di kawasan Kahramanmaras, Turki tengah, 600 Km dari Ankara.
Sebelumnya KBRI melaporkan hanya satu WNI yang tewas, namun mengingat anak korban masih ikut ibunya yang memegang paspor RI , dipastikan ia juga WNI. Ny Nia dan suami serta puterinya dikabarkan sudah dimakamkan di TPU kota tersebut.
Mudah-mudahan tidak ada lagi korban jiwa WNI walau jumlah korban keseluruhannya terus meningkat, mengingat banyak diantaranya yang masih terjebak di reruntuhan bangunan apartemen hunian sehingga sulit dievakuasi.
Ada sekitar 5.600 WNI yang tinggal di Turki sebagai mahasiswa, pekerja atau ibu rumah tangga, diperkirakan n sekitar 10 orang mengalami luka-luka dan 500 orang terdampak gempa.
Gempa mengguncang 10 propinsi di Turki selatan pada area sepanjang 450 Km yang dikategorikan wilayah darurat bencana yakni Adana, Adiyaman, Diryabakir, Gaziantep, Hatai, Kahramanmaras, Killis, Malas, Osmaniye dan Sanliurfa.
Turki memang terletak di persimpangan tiga lempeng tektonik yang membentuk kerak bumi yakni lempeng Anatolia, Arab dan Afrika. Lempeng Arab yang bergerak menuju Eropa menyebablan lempeng Anatolia terdorong ke arah Barat.
- 583 orang tewas
AFP mencatat, jumlah korban tewas yang sudah ditemukan sampai Kamis pagi (9/2) 15.583 orang (di wilayah Turki 12.391 orang dan di Suriah 4.254 orang), sedangkan yang luka-luka di Turki mendekati 50-ribu orang dan di Suriah 5-ribuan orang.
Sementara di wilayah Suriah yang diterjang gempa, menurut laporan Kementerian Kesehatan setempat, kerusakan terjadi di seluruh Provinsi Aleppo, Latakia, Hama, dan Tartus, lokasi pangkalan AL Rusia.
Puluhan bangunan ambruk akibat gempa terutama di Aleppo yang merupakan pusat komersial saat sebelum perang dan masuk Situs Warisan Dunia UNESCO. Sebelum gempa pun, gedung-gedung di Aleppo sudah acap kali roboh akibat buruknya infrastruktur.
Bagi rakyat Suriah, gempa kali ini bagai “sudah terjatuh terhimpit tangga” karena terjadi di tengah konflik berpanjangan sejak 2011, sedangkan wilayah yang terdampak gempa pun ada yang dikuasai pemerintah dan ada pula oleh pemberontak.
Gempa di Turki hendaknya menjadi pelajaran bagi Indonesia yang berada di wilayah rawan gempa di Lingkar Cincin Api Pasifik untuk terus melakukan aksi mitigasi. (AFP/Reuters/ns)




