BANJARAN DURNA (46)

Jantung Begawan Durna berdegub, tak ketemu puluhan tahun Dewi Wilutama masih kenceng juga.

SEBETULNYA Prabu Drupada tahu bahwa omongan Begawan Durna ini sekadar mengarang bebas, untuk menutupi segala ketidak mampuannya. Tapi sebagai raja yang bijak, beliaunya tidak tega mempermalukan guru besar di Perguruan Sokalima itu. Maka segala omongannya diiyain saja. Karena Prabu Drupada tahu pada akhirnya Begawan Durna ini sekedar peserta penggembira. Jangankan dapat piala, hadiah hiburan pun sama sekali juga takkan membawa pulang.

“Memangnya jin itu doyan duit?” Prabu Drupada pura-pura bertanya.

“Oo, doyan banget Sinuwun Prabu. Malah mereka menentukan, uangnya dolar AS saja, yang kurs-nya sama dengan dunia perjinan.” jawab Begawan Durna begitu meyakinkan.

“Apakah satuan ungnya kelompok jin juga sama? Kan konon di dunia jin itu ada kelompok jin Iprit, jin Tomang, bahkan jin Cihampelas.” Kata Prabu Drupada berlagak pilon.

“Oh, yang terakhir itu pertokoan celana dan baju dari deklit (terpal) dari Bandung. Nggak ada hubungannya, Sinuwun Prabu bisa aja….” Begawan Durna tersipu-sipu.

Suasana sudah demikian cair, sehingga Prabu Drupada kemudian buka kartu saja bahwa ketiduran Begawan Durna tidak wajar. Bukan saja dalam rangka semedi, tapi juga di “back up” ilmu guna-guna pihak ketiga sepertinya ajian perngantukan entah apa namanya. Namun siapa pelakunya, ini yang belum diketahui pihak intelejen Pancala, karena petugas intelejennya sediri ikut ketiduran juga!

Oleh karena itu, ketimbang sudah kadung nyebur tapi hancur, disarankan Begawan Durna kerek bendera kuning saja, alias menyerah tidak melanjutkan ambisinya pada sayembara mbangun Taman Maerakaca. Dari LHKPN (Laporan Harta Kekayaaan Pejabat Negara) saja sudah ketahuan, asset Begawan Durna pas-pasan saja. Sedangkan mengandalkan bohir-bohir selaku investor, tak ada yang sudi menjadi penyandang dana, karena prinsip “wisata halal” setelah Taman Maerakaca selesai direvitalisasi, sama sekali tidak menjanjikan secara finansi.

“Kakang begawan, masih mending Anies saat nyagub DKI dulu, utang sampai Rp 92 miliar tak ditagih para bohir, karena dianggap impas kalau menang. Lha di dunia wayang nggak begitu, utang tetap harus dibayar tak peduli kalah atawa menang.”

“Maaf Sinuwun Prabu, pendita Sokalima punya motto: sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.” Jawab Begawan Durna mau ngeyel.

Raja kok dieyeli pendita, itu kan seperti presiden dieyeli MUI. Akhirnya Prabu Drupada mak klonyot (serta merta) pergi meninggalkan Begawan Durna sambil menggumam, “Ya sudah, nanti kamu ke belakang melulu alias mencret!” Padahal maksudnya Prabu Drupada, mundur itu lebih kesatria ketimbang tetap maju namun kalah gara-gara kekurangan modal.

Sepeninggal Prabu Drupada tiba-tiba hadir putri cantik berkebaya, tidak berjilbab model orang ngercapada sekarang. Dia datang menemui Begawan Durna dengan wajah masam laksana cukak. Sambil berkacak pinggang dia langsung mendamprat Begawan Durna. Jangan-jangan WIL-nya Pendita Sokalima?

“Hai, Kumbayana tua! Kamu nggak usah macem-macem ikut-ikutan ikut sayembara memperebutkan Wara Srikandi segala. Mending urus anak kita Aswatama yang sampai sekarang masih ngejomblo.” Kata perempuan galak itu.

“Lho, siapa Anda? Apakah Dewi Wilutama mantanku dulu?” ujar Durna agak ragu sambil mengucek-ucek mata.

Tapi dengan narasi “anak kita” Begawan Durna menjadi yakin bahwa perempuan itu memang ibu daripada Aswatama. Berdegup jantung sang begawan, sudah terpaut berpuluh tahun masih kenceng saja ini bidadari. Apa mau ngajak baikan, dan rujuk di KUA nantinya? Jika maunya begitu, tanpa perlu berpikir panjang, Begawan Durna siap menerima kembali Dewi Wilutama apa adanya.

Ternyata Begawan Durna memang baperan. Bukan itu maksud Dewi Wilutama datang. Tujuannya selain mengingatkan soal anak hasil “kerjasama nirlaba” sekian puluh tahun lalu, jua mau kasih tahu bahwa mengawini Wara Srikanda sama saja “kerjabakti” doang. Sudah buang-buang keringat tetapi tiada hasil. Maka saran Dewi Wilutama, segera mundur dari sayembara dan fokus ngurus nasib si jomblo Aswatama.

“Memangnya kenapa Wara Srikandi, diajeng Wilutama?” Begawan Durna penasaran.

“Ssst, saya kasih tahu ya. Srikandi itu pengguna ajian Lembu Sekilan, sehingga berpotensi tidak punya anak.” Jawab Dewi Wilutama.

Begawan Durna jadi ingat omongan dalang  Enthus Susmono dari Tegal. Wanita pemakai ajian Lembu Sekilan berpotensi tidak punya anak jika menikah. Logikanya, suami merasa sudah “masuk” tapi ternyata masih ada jarak sekilan alias sejengkal lagi. Walhasil itu kerja sia-sia tiada guna. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement