
CEMAS atas kebangkitan militer China dan sepak terjang negara raksasa itu di Laut China Selatan (LCS), Filipina sepakat memberikan akses lebih luas bagi Amerika Serikat di empat pangkalan militernya di negeri itu.
Seperti dilansir AFP, kesepakatan untuk memperluas kerja sama dalam ‘bidang-bidang strategis’ itu dicapai saat kunjungan langsung Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin ke Manila (2/3).
Filipina dan AS tengah berupaya memperbaiki hubungan yang retak dalam beberapa tahun terakhir, setelah Presiden sebelumnya, Rodrigo Duterte, lebih condong ke China daripada AS, sebaliknya pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Ferdinand Marcos Jr tampaknya ingin mengubah hal itu.
Sikap agresif Beijing atas Taiwan dan pembangunan pangkalan militer di perairan LCS yang menjadi sengketa, telah memberikan dorongan baru bagi Washington DC dan Manila untuk memperkuat kemitraannya.
Menurut catatan, AS mengklaim seluruh wilayah di LCS yang disebutnya sebagai sembilan garis putus-putus (nine-dashline) sehingga bersengketa dengan sejumlah negara di kawasan itu yakni Vietnam , Malaysia, Brunei Darusalam dan juga Filipina,
Mengingat lokasinya yang dekat Taiwan dan perairan sekitarnya, kerja sama dengan Filipina akan menjadi kunci jika terjadi konflik dengan China yang sesumbar akan merebut kembali Taiwan yang diklaim sebagai bagian wilayahnya paling lambat 2027.
Filipina dan AS menjalin aliansi keamanan selama puluhan tahun termasuk dalam pakta EDCA yang disepakati pada 2014, dimana AS bisa merotasi pasukannya yang ditempatkan di lima pangkalan militer Filipina, termasuk yang lokasinya dekat perairan sengketa.
Pakta EDA yang dihentikan di era kepemimpinan Presiden Duerte namun diteruskan oleh penggantinya, Marcos Jr, memungkinkan AS menyimpan alutsista dan peralatan pendukung pertahanan di pangkalan-pangkalan militer tersebut.
Di bawah perluasan yang disepakati, AS nantinya akan memiliki akses terhadap setidaknya delapan pangkalan militer secara bertahap tersebar di berbagai wilayah Filipina.
Lokasi-lokasi baru belum diidentifikasi secara publik, namun telah dilaporkan secara luas, sebagian besar pangkalan militer baru akan dibangun di pulau utama, Luzon yang merupakan daratan Filipina paling dekat dengan Taiwan.
Pangkalan keempat dilaporkan berada di Pulau Palawan, menghadap ke arah Kepulauan Spratly di Laut China Selatan yang menjadi sengketa, yang menjadikan jumlah lokasi baru di sana menjadi dua.
Sekitar 500 personel militer AS saat ini ditugaskan di Filipina, dengan yang lainnya dirotasi ke seluruh wilayah Filipina untuk mengikuti latihan gabungan yang digelar sepanjang tahun.
Menurut catatan, Filipina dengan belanja militer 4,39 miliar dollar AS (Rp68 triliun) pada 2022 dan berkekuatan 400-ribu personil, bagai bumi dan langit jika harus menghadapi China yang anggaran belanja militernya 230 miliar dollar AS (Rp3.565 triliun ) dan pasukan berkekuatan 2,35 juta personil.
Cara termudah bagi negara berkembang seperti Filipina untuk menekan biaya pertahanan yakni dengan mengizinkan penempatan pasukan asing, walau ini tidak bisa dilakukan RI yang dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan sebagai negara yang bebas aktif.(AP/ns)




