Perpecahan di Kalangan Elite Iran?

Tank tempur utama (MBT) Karrar milik Iran yang bakal ikut menghadang serangan AS jika perang berlanjut di tengah kalan buntu nego AS dan Iran dan perpecahan di kalangan elite iran sendiri (,foto: stok ist)

ISU perpecahan di antara para pemimpin dan pejabat tinggi Iran berembus di tengah negosiasi yang mandek dengan pihak Amerika Serikat (AS).

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf disebut-sebut mengancam akan memecat Menlu Iran Abbas Araghchi.

Media independen Iran International, melaporkan bahwa Pezeshkian dan Bagher Ghalibaf kesal dengan Araghchi karena menjalankan perintah pihak Garda Revolusi Iran (IRGC) terkait pembahasan isu nuklir tanpa melaporkan ke mereka.

Sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Iran International bahwa Pezeshkian dan Ghalibaf menilai Araghchi kurang memposisikan perannya sebagai pejabat eksekutif.

Mereka menganggap Araghchi malah bertindak seperti ajudan Komandan IRGC Ahmad Vahidi yang hanya menuruti keinginannya.

Berdasarkan pengakuan sejumlah sumber di lingkup pemerintahan, Araghchi dua pekan terakhir ini dinilai bertindak tanpa menginformasikan perkembangan terbaru kepada

Pezeshkian, sebaliknya, ia sepenuhnya berkoordinasi dengan Vahidi dan ia pun merasa kesal dan tidak puas dengan kinerja Araghchi dan sesumbar akan memecatnya jika pembantunya itu kembali melakukan hal sama ke depannya.

Klaim tentang perpecahan di antara para pejabat Iran sebelumnya telah mencuat. Pada 28 Maret, laporan menunjukkan perbedaan pendapat yang serius antara Pezeshkian dan Vahidi, komandan Garda Revolusi yang disebut-sebut paling berpengaruh.

Sumber-sumber yang mengetahui hal ini menyebutkan kepada Iran International pada saat itu bahwa perselisihan tersebut berasal dari “penanganan perang dan konsekuensi destruktif bagi mata pencaharian rakyat dan perekonomian negara.”

Trump juga baru-baru ini mengindikasikan bahwa terjadi perpecahan di antara para pemimpin Iran sehingga negosiasi sangat sulit dilakukan.

“Ada dua hingga tiga kelompok, mungkin empat, dan kepemimpinannya sangat tidak terkoordinasi,” ujar Trump.

Dia lalu berkata, “Dan dengan demikian, mereka semua ingin membuat kesepakatan, tapi mereka semua kacau.”

Ancaman Presiden Trump
Sementara itu Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia dapat melakukan aksi militer baru terhadap Iran jika negara itu “berperilaku buruk.”

Pernyataan itu dilontarkannya kepada wartawan, Sabtu (2/5) ketika ia ditanya apakah dia akan memerintahkan serangan baru.

“Jika mereka berperilaku buruk, jika mereka melakukan sesuatu yang buruk. Tetapi untuk saat ini, kita akan lihat. Ada kemungkinan itu bisa terjadi, tentu saja,” kata Trump dilansir Axios, Minggu (3/5).

Sementara ini, Washington dan Teheran masih bertukar draft perjanjian kerangka kerja untuk mengakhiri perang, namun, Trump juga serius mempertimbangkan aksi militer baru terhadap Iran guna mencoba memecah kebuntuan perundingan.

Trump masih belum setujui proposal Iran Meskipun Trump menyebut bahwa dia tidak puas dengan proposal Iran, dan menyatakan kpada pers, Sabtu (2/5) bahwa dia akan meninjaunya selama penerbangan.

“Saya sedang mempelajarinya. Nanti saya beri tahu,” ujar Trump sebelum meninggalkan Palm Beach menuju Miami

“Mereka sudah memberi tahu saya tentang konsep kesepakatannya. Sekarang mereka akan memberikan kata-kata pastinya,” lanjut dia.
Beberapa saat kemudian, Trump melontarkan pernyataan yang jauh lebih tajam di Truth Social, dengan menyebut “tidak bisa membayangkan, (proposal Iran dapat diterima.”

Trump bersikeras bahwa Iran belum membayar harga yang cukup mahal atas apa yang telah mereka lakukan terhadap umat manusia, dan dunia, selama 47 tahun terakhir.

Dalam pernyataan yang sama kepada media, Trump menggambarkan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai tindakan yang sangat ramah dan tidak usah dipersoalkan.

Sebelumnya, Teheran telah menyerahkan proposal revisi 14 poin untuk kerangka perjanjian kepada Washington, Kamis (30/4).

Dua sumber yang mengetahui isi dokumen tersebut mengatakan proposal itu menetapkan tenggat waktu satu bulan untuk mengamankan kesepakatan.

Dokumen tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, mengakhiri blokade AL AS, serta mengakhiri perang di Iran dan Lebanon secara permanen.

Menurut usulan Iran, hanya jika kesepakatan tersebut tercapai, negosiasi lanjutan selama satu bulan akan diberikan untuk mencoba mencapai kesepakatan tentang program nuklir, kata kedua sumber tersebut.

Jalan terjal menuju perdamaian masih harus dilalui, persoalan tak hanya menyangkut kesepakatan antara AS dan Iran, namun agaknya terjadi perpecahan di di kalangan internal Iran sendiri. (CNN/Axios/ns)

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here