BANJARAN DURNA (51)

Melihat Prabu Kresna siap melepas sennjata Cakra, buru-buru Supala melepaskan Harjuna dan memilh kabur.

KETIKA Harjuna tengah ketawa-ketiwi bersama Bethara Kamajaya selaku bohirnya, Prabu Supala dari kerajaan Cedi justru sedang marah besar. Sebab dapat paket dari YBK (Yayasan Bunga Kamboja) berupa peti berisi mayat adiknya, Supeli, yang tewas gara-gara mau mencuri Wara Srikandi. Meski sudah ada pemberitahuan dari raja Pancala tentang hal itu, tapi Prabu Supala kecewa karena kondisi mayat berantakan  diacak-acak petugas Bea Cukai. Padahal di dalam tak ada apa-apanya. Masak dalam peti mayat diselundupkan narkoba? Yang mboten-mboten saja dugaan Bea Cukai Cedi ini.

Sesungguhnya Prabu Supala menyesal juga, kenapa sempat mendoakan hal-hal yang jelak pada adik kandungnya yang mbrengkelo (keras kepala). Begitu sang adik benar-benar wasalam akibat doanya, pada akhirnya tidak tega juga. Ibarat kata, tega larane ora tega patine (tak tega kematiannya). Oleh karena itu setelah pemakaman Supeli di TPU Banalaya, Prabu Supala langsung terbang ke Pancala dengan charter superjet seharga 1 juta dolar PP.

“Hai Patih, jaga negeri ini baik-baik. Selama ingsun pergi, teken semua perizinan, layani pers dengan baik. Tapi soal kontingen bola Israel, no koment saja ya, tunggu ingsun pulang.” Pesan Prabu Supala kepada Patih Dirganata.

“Oke, boss. Bola memang lagi sensitip…” jawab Patih Dirganata dengan takzim.

Tiba di bandara Pancala, Prabu Supala melanjutkan perjalanan dengan naik taksi udara dan mendarat di alun-alun Pancala. Begitu turun dari EHang-216 Prabu Supala sudah mampang-mampang (marah-marah) mencari-cari Harjuna pembunuh Supeli. Ternyata tak ada respon, sebab polisi tengah mengamankan demo keprihatinan atas batalnya negara tetangga Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia U-20.

Tentu saja Prabu Supala heran, kekecewaan kok hanya dibalas dengan bentuk keprihatinan. Santun banget wayang-wayang Pancala ini. Padahal di negerinya, demo tanpa bakar ban dan merusak fasilitas umum, belumlah afdol. Tapi bodo amatlah, dalam kondisi marah kok masih memikirkan keprihatinan negara lain. Sudahlah, emangya gua pikirin? Pokoknya cari Harjuna sampai ketemu, meski ibarat mencari jatuhnya jarum di rerumputan.

“Hai Satpam, kenal nggak kamu dengan Harjuna?” tanya Prabu Supala.

“Di sini Harjuna ada dua Pak. Satu Harjuna yang kerja di Dirjen Pajak, satunya lagi Harjuna yang punya nama kecil Permadi.” Jawab Satpam terbata-bata, ngeri lihat tampang sangar penanyanya.

“Nah, Harjuna yang nama kecilnya Permadi…..” Jawab Prabu Supala lagi.

“Permadi yang paranormal? Dia pernah jadi anggota DPR, tapi mundur karena terlalu idealis, tak doyan amplop!”

Prabu Supala pun langsung melayangkan tinjunya ke mulut Satpam, plakkk…… dan terjengkanglah nabrak pot tanaman hias. Maklum raja Cedi ini bertambah emosi. Orang ditanya serius kok jawabnya clometan macam Cak Lontong saja. Prinsip hidup Prabu Supala, kalau lagi serius ya serius, kalau sedang guyon ya guyon, jangan dicampur adukkan.

Ibarat orang ngantuk disodor bantal, ndilalah kersaning Allah kok Harjuna mrepegi (mendekati) tamu asing itu. Soalnya dia kaget, tiba-tiba kok namanya disebut-sebut disorot orang tak dikenal, padahal dia bukan pejabat Pajak, Bea Cukai maupun BPN dan Kejaksaan. Dia sih wayang sangat jujur. Lihat saja tampilan wayang Harjuna dalam keseharian. Dia tak pakai baju, kedua tangannya juga polosan tanpa kelat bahu (hiasan di lengan) sebagaimana lazimnya wayang.

“Tadi saya denger sampeyan nyebut-nyebut nama Harjuna, ada apa gerangan?” tanya Harjuna sopan.

“Betul! Saya sedang mencari orang bernama Harjuna, dia harus bertanggungjawab atas kematian adikku, Supeli. Utang nyawa dibayar nyawa…” tantang Prabu Supala, ludahnya nyemprot ke mana-mana, padahal dia tak bermasker.

Harjuna pun kemudian menunjuk dadanya, mengakui dirinyalah yang sedang dicari-cari. Jika mau menuntut balas, siap meladeni. Mau sehari, seminggu atau sebulan, ksatria Madukara ini siap meladeninya. Capet-capet (tak begitu jelas) Harjuna pernah  dengar nama itu, eh….sekarang kok ada di depannya dan sedang cari masalah lagi. Keduanya pun lalu bertempur dengan serunya; silih ungkih aben cukit (saling mengalahkan).

Biasanya Harjuna bertempur melawan siapa saja selalu menang, termasuk lomba tarik tambang di RT-RW wilayah Madukara. Tapi kali ini, mungkin karena lupa sahur, Harjuna kedodoran melawan Prabu Supala. Bahkan dia sempat ditelikung sampai tak bisa bergerak dan buru-buru Prabu Supala ambil keris Tukang Tadah pusaka andalannya untuk mengirim Harjuna ke alam barzah.

“Hutang nyawa harus dibayar nyawa. Hari ini ajalmu akan tiba,” ancam Prabu Supala penuh kemenangan.

“Jangan lama-lama biki malu Harjuna, segera hujamkan senjata andalanmu.” Tantang Harjuna yang napasnya tinggal satu satu aku sayang ibu……

Di saat yang tepat, tiba-tiba muncul Prabu Bethara Kresna dari Dwarawati. Menyadari adik iparnya dalam bahaya, dia segera mengeluarkan senjata andalannya, senjata Cakra. Dalam jarak 50 meter pusaka andalan Dwarawati itu diarahkan ke leher Prabu Supala sambil menyebut nama pemimpin negeri Cedi itu.

Prabu Supala pun kaget. Tahu yang mengancam jiwanya adalah tokoh yang sangat ditakutinya, serta merta Harjuna dilepaskan sebelum dieksekusi dan raja Cedi itu memilih kabur. Soalnya sudah termaktub dalam skenario pra Perang Baratayuda,  Prabu Supala akan mati di tangan Prabu Kresna. Di masa balitanya dulu, Supala itu bermata tiga, lalu  Narayana-lah yang berhasil menghilangkan cacat tersebut. Dengan demikian Supala setelah dewasa tak bikin repot toko kacamata Lily Kasoem. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement