Keindahan Beragama di Filipina

Ilustrasi Quezon City Memorial Circle, salah satu taman publik yang kerap digunakan sebagai tempat salat Id di Manila, Filipina. (Foto: Faceebook Quezon Memorial Circle)

JAKARTA – Meskipun Islam bukan agama mayoritas di Filipina, data dari Philippine Statistics Authority menunjukkan bahwa sekitar 5,6 persen penduduk memeluk agama ini, sedangkan 81,04 persen populasi Filipina memeluk Katolik Roma.

Sejarah mencatat bahwa Islam telah hadir di Filipina sejak tahun 1380 ketika Raja Bagindo, seorang perantau Muslim asli Indonesia dari suku Minangkabau bersama dengan Karimal Makhdum, seorang ulama Persia, membawa agama ini ke Filipina.

Dilansir dari indonesia.go.id, persebaran Islam pertama di Filipina terjadi di Kepulauan Mindanao dan Sulu, daerah dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak.

Pada 2002, Presiden Gloria Arroyo Macapagal memberikan hadiah khusus bagi umat Islam dengan menetapkan Idulfitri sebagai hari libur nasional melalui undang-undang yang harus ditaati oleh seluruh pemimpin Filipina di masa depan.

Setelah keputusan itu, Islam berkembang pesat di Filipina. Saat ini, tidak sulit menemukan masjid, surau, atau musala di Manila, ibu kota Filipina.

Bahkan, ketika waktu salat tiba, suara azan terdengar di sudut-sudut Manila, terutama di kawasan pesisir seperti Ermita dan Intramuros yang banyak dihuni oleh masyarakat Muslim lokal dan pendatang. Hal yang menarik adalah terkadang waktu azan bersamaan dengan denting lonceng gereja sebagai penanda waktu misa.

Dalam kehidupan sehari-hari di Filipina, pemeluk agama berinteraksi dan beraktivitas bersama tanpa ada diskriminasi.

Saat ini, sudah menjadi hal biasa melihat perempuan berjilbab atau laki-laki bergamis dan berjanggut lebat berbelanja di pusat perbelanjaan terbesar di Filipina, yaitu SM Mall of Asia, yang memiliki luas 42 hektare, lima kali lebih besar dari pusat perbelanjaan di sudut Pondok Indah.

Selama bulan Ramadan, pusat perbelanjaan ini menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi oleh masyarakat Muslim di pesisir Manila. Mereka menghabiskan waktu berkeliling mal menunggu waktu berbuka puasa sambil menikmati keindahan matahari tenggelam.

Di SM Mall of Asia, terdapat beberapa gerai makanan dan minuman halal yang cocok sebagai tempat ngabuburit. Beberapa toko bahkan menyediakan takjil seperti kurma dan air mineral gratis untuk mereka yang ingin berbuka puasa.

Keputusan Presiden Gloria Arroyo Macapagal juga membuka jalan bagi komunitas Muslim Filipina untuk mendirikan Pusat Islam atau Islamic Center di kawasan Barangay 645, Distrik San Miguel, Manila, tepat di belakang Istana Kepresidenan Malacanang.

Islamic Center ini berdiri di atas lahan seluas 1,6 hektare dan dihuni oleh sekitar 32.000 orang Muslim, yang mayoritas berasal dari suku Maranao, serta sisanya dari Maguindanao, Iranun, Tausug, Yakan, dan Sama.

Menurut Cahyo Pamungkas, seorang peneliti P2W Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam “Kaum Minoritas di Asia Tenggara”, sebagian besar penduduk Islamic Center adalah para perantau dari Mindanao dan Sulu di Filipina selatan. Dahulunya, tempat ini merupakan sebuah bangunan sekolah yang dimiliki oleh masyarakat Tionghoa.

Peran Duterte

Pada tahun 1964, Asosiasi Muslim Filipina membeli sebidang tanah yang kemudian dijadikan sebagai masjid pertama di Manila. Awalnya hanya digunakan untuk salat Jumat, tetapi setelah mendapat bantuan dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, bangunannya diperluas dan menjadi lebih megah.

Selama konflik di Pulau Mindanao pada era 1970-an hingga 1990-an, banyak penduduk yang mengungsi dan tinggal di kawasan Baranay 645, sehingga populasi di sana meledak menjadi sekitar 50.000 orang.

Beberapa penduduk memilih untuk keluar dan membangun komunitas mereka sendiri, yang turut menjadi cikal-bakal berdirinya rumah ibadah Islam di sudut-sudut Manila.

Presiden Duterte memberikan kebebasan kepada umat Islam di Filipina Selatan untuk mengelola daerah mereka sendiri melalui Hukum Organik Bangsamoro, dengan tujuan meningkatkan kemajuan politik dan ekonomi setempat.

Ia juga mempromosikan solidaritas di antara seluruh rakyat Filipina dan mengajak untuk menyalurkan semangat Ramadan dengan membantu mereka yang membutuhkan.

Duterte mengingatkan seluruh gubernur dan wali kota bahwa Idulfitri adalah hari libur nasional dan mengizinkan adanya salat Id di lapangan terbuka di pusat kota Manila.

Sejak itu, ribuan umat Islam berkumpul di beberapa lokasi lapangan terbuka di Manila dan juga di masjid-masjid besar seperti Masjid Pink dan Masjid Emas. Mereka juga menyediakan hidangan khas Filipina dan mengundang tetangga nonmuslim untuk mencicipinya.

Beberapa menu yang disajikan antara lain sup sumsum sapi, sup daging sapi atau kambing campur kacang hijau, keju, wortel, dan kentang, serta gulai ayam. Minuman yang disajikan antara lain es buko pandan dan jus mangga.

Advertisement